[Fanfic/Series] Prison of a Man Part 2: Mind Disease (Kyumin couple)


Title : Prison of A Man Part 2: Mind Disease

Pairing : Cho Kyuhyun x Lee Sungmin (Main), could be added with another pairing as well

Genre : Angst, Psychological thriller (hopefully), romance

Length : Series

Disclaimer : I do not own the characters though I really wish I do *sigh*. I own the plot only.

A/N:

Maaf seribu maaf FF ini baru di-update =___= in fact kayaknya semua FF gue telat banget di-update nya bahkan nyaris mendekati buluk di pojok folder dah. Maklum author sibuk. Selain sibuk nyari nafkah dengan morotin duit nasabah, saya juga nyambi jadi panitia gathering, tukang jualan goodie bag, dan lain sebagainya hingga sukses membuat otak membelah diri layaknya amoeba. Tanpa berbasa basi gajelas mending langsung aja dah dibaca episode ini. CEKIDOT!

=========

Jari tangannya terasa dingin dan nyaris tidak bisa digerakkan. Seakan seluruh otot yang membelit tulang dan terjalin diantara susunan syarafnya kehilangan keelastisannya. Ia mengambil napas panjang dan berusaha meregangkan jari-jarinya, namun usahanya itu malah membuat dahinya mengernyit menerima rasa nyeri yang dengan cepat menjalar dari buku jari ke seluruh persendiannya.

“Kau baik-baik saja, Tuan Lee?”

Psikiater muda itu menoleh dan memaksa otot mulutnya untuk membentuk seulas senyum.

“Sungmin saja,” pintanya, “dan ya, aku baik-baik saja… sepertinya.”

Pemuda itu menghembuskan napas kuat-kuat dan merebahkan kepalanya ke bantalan empuk di belakangnya.

“Aerophobia memang menyebalkan.” ujar Siwon lagi, masih dengan perhatian tertuju sepenuhnya pada pemuda yang kini bertampang gelisah di sebelahnya. Sungmin tertawa sumbang dan menghela napas panjang.

“Salah satu alasan mengapa aku bertekad menjadi seorang psikiater,” katanya, “Terdengar ironis tapi yah begitulah.”

Siwon hanya tersenyum mendengarnya.

“Kurasa itu sebabnya mengapa aku tidak pernah menerima pasien yang memiliki masalah yang sama denganku.” Sungmin mencoba bercanda walau suaranya masih sedikit bergetar. Kali ini detektif polisi itu tertawa.

“Mungkin sebaiknya kau mencari bantuan untuk dirimu sendiri dulu!” candanya sembari menepuk pelan pundak pemuda satunya, “Tenang saja. Setengah jam lagi kita akan mendarat di Incheon.”

Sungmin menganggukkan kepala dengan mantap dan menarik napas panjang sebelum memejamkan matanya rapat-rapat. Sebentar lagi; hanya dalam waktu 30 menit dari sekarang ia akan menginjakkan kakinya kembali di negara asalnya. Terlintas sedikit tanya dalam benaknya, sudah sejauh mana Korea merias diri selama ia tinggalkan beberapa tahun belakangan? Akankah ia masih mengenali kota besar yang kini semakin matang itu?

Napasnya seakan tertahan di kerongkongan ketika kendaraan udara berberat bersih puluhan ribu ton itu bergoncang hebat, tanda ia baru saja mengalami turbulensi yang memang sangat wajar terjadi di atas udara. Sungmin merutuk dalam hati dan memijat batang hidungnya seraya melepas kacamata ovalnya dan meletakkannya di atas meja putih di bawahnya. Berkas kasus yang akan segera ditanganinya masih tersimpan rapi di dalam amplop coklat seukuran folio yang kini tertindih kacamata bergagang hitam miliknya.

Sungmin mengulurkan tangan dan membuka amplop coklat tersebut; Mungkin dengan membaca setumpuk kertas putih berisi kronologi lengkap kasus keluarga Cho itu akan membuat ia lupa akan phobianya sebentar saja, pikirnya. Halaman pertama berkas itu nampak sedikit kosong. Hanya tertulis beberapa catatan di bagian kanan atas yang sulit dibaca oleh Sungmin. Di bagian tengahnya terdapat tulisan yang diketik komputer:

                                                             “KASUS PEMBANTAIAN KELUARGA CHO MIN SHIK”

                    SANGAT RAHASIA DAN TIDAK UNTUK DISEBARLUASKAN UNTUK ALASAN APAPUN

Pemuda itu kemudian membalik halamannya dan membaca dengan cepat sebagian isi dari halaman selanjutnya. Dengan cepat lima halaman berkas sudah dibacanya; sebagian besar (termasuk latar belakang keluarga dan profil pelaku) sudah ia ketahui dari detektif polisi yang duduk di sebelahnya selama perjalanan dari Washington menuju kampung halamannya. Akan tetapi, psikiater muda itu tertegun sejenak ketika ia membalik halaman berikutnya. Di tengah kertas putih itu tercetak foto hitam putih si narapidana dari berbagai posisi, layaknya yang biasa ia lihat di film-film suspense di televisi.

Cho Kyuhyun jelas terlihat lebih muda darinya, dengan potongan rambut yang rapi dan penampilan yang sama sekali tidak menunjukkan kalau ia baru saja menghabisi seluruh anggota keluarganya dengan kejam. Matanya nampak sayu, namun anehnya Sungmin mendapati sudut bibir pemuda itu tertekuk ke atas sedikit. Sungmin mengerjapkan mata, mengira dirinya terlalu dihantui rasa takutnya hingga bahkan matanya menipunya.

“Dan inilah si pemeran utama dalam drama kita.” Siwon bersiul pelan, “Bagaimana? Cukup kompleks, bukan? Berbagai ekspresi yang dia tampilkan di foto ini. Aku benci sekali melihatnya, seakan bajingan ini hendak menantang kami semua. Cih.”

Sungmin menatap detektif di sebelahnya. “Anu, bagaimana…”

“Bagaimana aku bisa berkata begitu? Nanti kau akan tahu setelah melihatnya langsung. Percayalah, dia mungkin akan menjadi salah satu pasien favoritmu.” Ujar Siwon.

Sungmin menggelengkan kepala.

“Bukan, Siwon-sshi. Maksudku, bagaimana kau bisa melihat apa yang aku lihat? Dari kacamata seorang psikiater, memang itu hal pertama yang terpikir olehku. Tapi orang biasa dapat dengan mudah melihat pemuda dalam foto ini dengan persepsi yang salah.” Jawabnya.

Detektif polisi berwajah tampan itu tersenyum, kedua lesung pipinya membentuk dua kawah kecil di sudut bibirnya.

“Sebelum masuk akademi polisi, aku adalah mahasiswa jurusan psikologi umum.” Jelasnya, “Tapi aku berhenti kuliah di semester ketiga.”

Sungmin terlihat semakin tertarik dengan jawaban itu.

“Berhenti? Kenapa?” tanyanya lagi.

Siwon membalas tatapannya dan mengedipkan sebelah matanya.

“Dokter Lee, kau seharusnya mewawancarai Cho Kyuhyun kan? Kau dibayar bukan untuk menyelidikiku jadi fokus pada pekerjaanmu saja, mengerti?”

***

Markas polisi di Korea ternyata tidak jauh berbeda dengan yang ada di Amerika, menurut Sungmin saat ia menyusuri ruangan luas penuh manusia dan meja-meja kayu berpernis berderet rapi. Tumpukan kertas menjadi satu-satunya pemanis di atas meja-meja tersebut, selain beberapa unit PC yang masih menggunakan monitor model lama. Ok, ini mungkin merupakan satu-satunya perbedaan: di Amerika mereka sudah menggunakan layar LCD di setiap meja.

Puluhan pasang mata yang tadi sibuk berkonsentrasi pada pekerjaan masing-masing kini menempel erat pada Sungmin dan Siwon ketika keduanya masuk ke ruangan. Berbeda dengan detektif polisi Choi yang santai saja dengan perubahan keadaan tersebut, Sungmin agak jengah dengan perhatian semua orang yang tiba-tiba saja terarah padanya. Ia bawa kakinya melangkah secepat mungkin dan mengekor Siwon ke sebuah ruangan lain yang letaknya agak di sudut. Seseorang bertubuh agak gempal telah menunggu kedatangannya.

“Tuan Lee, kami sudah lama menunggu kedatangan anda.” Orang itu berujar sembari mengulurkan tangan. Sungmin menunduk memberi hormat dan menjabat tangannya.

“Tolong panggil saya Sungmin saja,” ucapnya, “Tuan….”

“Kim Youngwoon. Panggil dia Kangin saja, dia belum setua itu sampai harus dipanggil tuan.” Potong Siwon. Kangin, sang komandan yang mengutus si detektif hanya mendengus dan menatapnya penuh cela.

“Setidaknya kau bisa menaruh sedikit hormat pada pemimpinmu sendiri, Choi Siwon.” Ujarnya. Siwon mengangkat kedua tangan dan membuat gestur menyerah. Komandan Kim mempersilakan mereka berdua duduk dan setelah berbasa-basi sedikit, ia berdehem.

“Sungmin-sshi, saya percaya Siwon sudah menjelaskan bagaimana garis besar kasus yang sedang kami hadapi, bukan? Dan tentunya anda juga sudah membaca berkas yang kami berikan dan melihat foto wajah sang pelaku. Tapi anda pasti belum melihat yang ini…”

Sekitar dua lusin foto berwarna ukuran jumbo kini terhampar di atas meja komandan Kim. Sungmin mengambil beberapa diantaranya dan mulai merasakan perutnya mual begitu melihat foto pertama.

“Yang sedang anda lihat sekarang adalah Nyonya besar Cho atau dengan kata lain Cho Yoon Ah, ibu kandung dari Cho Kyuhyun. Ia ditembak tepat di rahang bawah dan peluru memecahkan kepalanya seperti semangka yang dijatuhkan dari lantai dua. Di belakangnya bisa anda lihat juga foto-foto dari korban lainnya. Memang bukan hasil jepretan yang menyenangkan untuk dilihat tapi yah, siapa tahu anda memerlukannya untuk keperluan wawancara dengan sang pelaku.”

Jika Sungmin tidak dilatih untuk dapat menahan diri di keadaan apapun, bisa dipastikan psikiater muda itu sudah berlari mencari toilet terdekat untuk memuntahkan isi perutnya. Selama dua puluh tahun lebih ia hidup, belum pernah Sungmin melihat foto asli TKP yang ternyata sungguh mengerikan dan membuat semua organ dalamnya jungkir balik tak karuan. Dengan tawa sumbang dan tangan gemetar ia meletakkan kembali foto-foto itu ke tempatnya semula.

“Sungguh… luar biasa.” Ucapnya, masih berusaha santai walau wajahnya terlihat pias. Youngwoon tersenyum maklum.

“Percayalah Sungmin-sshi, 10 tahun berurusan dengan para pembunuh gila akan membuat anda terbiasa dengan foto-foto yang lebih mengerikan lagi dari yang tadi anda lihat.”

“Yah, yah Kim Youngwoon kau menyuruhku membawanya kemari bukan untuk membuatnya mual kan?” sindirnya, “Bukankah kau bilang akan mempertemukannya dengan Cho Kyuhyun detik pertama ia menginjakkan kaki di kantormu?”

Sungmin menoleh dengan cepat ke arah detektif polisi itu namun sebelum sempat ia mengucap apapun, Youngwoon mengangkat bahunya dan berkata,

“Kupikir akan lebih baik jika kuperlihatkan dulu hasil karya anak nakal kita itu. Dan aku siap mengantarkan Sungmin-sshi ke sel pelaku kapanpun ia mau.”

Kemudian kedua petugas kepolisian itu mengalihkan perhatiannya ke psikiater muda yang masih ternganga, seakan menunggu konfirmasi darinya.

Sungmin seperti kehilangan kata-kata. Ia memang ingin bertemu dengan Cho Kyuhyun, terlebih buku yang saat ini ia kerjakan pasti akan sangat terbantu dengan beberapa sesi tanya jawab dengan sang penjagal. Namun foto-foto tadi berhasil menimbulkan keraguan dalam hatinya.

“Bagaimana Sungmin-sshi?” tanya Youngwoon.

Sang psikiater membukia dan menutup mulutnya untuk beberapa saat, namun sejurus kemudian ia menghela napas panjang dan mengangkat bahunya. Persetan dengan pembunuhan itu; bukunya lebih penting dari apapun untuk saat ini.

“Saya siap kapanpun anda siap, komandan Kim.”

***

“Apakah sel ini aman Siwon-sshi? Maksudku, mengurung seseorang yang dituduh menghabisi seluruh anggota keluarga di markas kepolisian ini mungkin satu-satunya pilihan terbaik yang bisa diambil sebelum putusan pengadilan dijatuhkan. Tapi tentu saja dengan segala resiko yang dapat muncul, kurasa kau mengerti inti pertanyaanku.”

Sungmin dan Siwon kini berada di ruang tunggu sempit sementara Youngwoon pergi menuju ruang sel tempat Cho Kyuhyun ditahan sementara. Sungguh bukan sebuah ruangan yang nyaman mengingat udaranya begitu lembab (karena berlokasi di bawah tanah masrkas tersebut) dan satu-satunya sumber penerangan berasal dari lampu bohlam 15 watt di langit-langit ruang itu.

“Dengan berlapis-lapis penjagaan dan pemeriksaan yang tadi kita lewati, kau pikir apa ada tempat yang lebih aman dibandingkan tempat ini untuk menahan seorang pembunuh gila seperti Cho Kyuhyun?”

Sungmin menggelengkan kepala dengan cepat.

“Tidakkah rumah sakit jiwa lebih tepat untuknya? Dia sedang sakit, Siwon-sshi. Mungkin saja dia tidak tahu apa yang dia lakukan malam itu.” Sanggahnya.

Siwon menatapnya malas-malasan.

“Sekedar mengingatkan saja Sungmin-sshi, kau ada di sini untuk membuktikan apakah dia memang pantas berada di rumah sakit jiwa atau malah hidupnya harus berakhir di tangan algojo penembak. Kau bahkan belum bertemu dengannya tapi kau sudah bisa mengambil kesimpulan bahwa dia tidak bersalah? Wow.”

Dokter muda itu menyipitkan mata namun tidak mengatakan apapun dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Bukan berarti dia merasa salah, namun sejujurnya ia pun tidak mengerti mengapa ‘pembelaan’ itu terlontar begitu saja dari mulutnya. Aisssh, ayolah Sungmin. Fokus! Omelnya pada diri sendiri.

“Yo guys, kemarilah.” Panggil Kangin yang berdiri tak jauh dari tempat mereka berdua menunggu.

“Sungmin-sshi, wawancara sesi pertama dengan Cho Kyuhyun akan dilakukan di dalam sini,” ujarnya sambil menunjuk ke arah pintu hitam tebal di sebelahnya. “Jangan khawatir, walau anda akan ditinggal sendirian di dalam, kami akan mengawasi anda dari balik kaca besar di seberang ruangan.”

Sungmin tanpa sadar bersiul. Memikirkan dirinya akan berada di satu ruangan berdua saja dengan tersangka pembunuhan massal cukup membuat ngeri namun tak bisa dipungkiri betapa ia sangat bersemangat untuk wawancara pertamanya dengan seorang yang didakwa melakukan kejahatan. Terlebih si pelaku diduga memiliki kepribadian ganda (atau malah multi kepribadian?) yang bisa ia gunakan untuk memperkuat teori yang bertahun-tahun ia cari untuk buku pertamanya.

“Kedengerannya menarik, jadi…. bisa kita lakukan sekarang?” ujarnya.

Youngwoon menatapnya sekali lagi sebelum menganggukan kepala dan membuka pintu di sebelahnya,

“Silahkan kalau begitu.” Jawabnya, “Semoga berhasil.”

Dalam satu tarikan nafas, Sungmin menemukan dirinya berada di sebuah ruangan baru yang mirip dengan ruang interogasi di film-film yang pernah dia tonton. Di saalah satu dinding ruang seluas 4x4m itu terdapat sebuah cermin besar (di baliknya berdiri Siwon, Youngwoon, dan seorang petugas lain yang mengawasi jalannya wawancara tanpa diketahui oleh si tahanan), sebuah lemari file usang di sudut lain dan meja kayu ukuran sedang di tengah ruangan.

Dua buah bangku sudah disediakan di situ, yang satu untuk Sungmin tentu saja. Dan yang satu lagi kini sudah ditempati oleh seseorang berambut gelap, agak berantakan dengan kepala tertunduk. Gerakannya dibatasi dengan borgol yang belum pernah dilihat Sungmin sebelumnya. Perlahan, ia mendekati kursi yang disediakan untuknya dan duduk di atasnya.

Sekitar satu menit berlalu sebelum Sungmin membuka mulut untuk memulai percakapan dengan nara sumber (dan salah satu pasien) nya.

“Hi. Cho Kyuhyun, bukan? Nama saya Lee Sungmin, dan saya adalah seorang dokter.” Ujarnya, “Jangan khawatir, saya di sini bukan untuk menginterogasi tapi untuk membantumu keluar dari tempat ini tanpa tuduhan apapun yang memberatkan. Jadi saya mohon agar kau juga bersedia membantu saya, menjawab setiap pertanyaan yang…”

“……salah….”

Sungmin menghentikan kata-katanya dan mengerjapkan mata.

“Apa?”

Perlahan, pemuda yang duduk di seberangnya mengangkat kepala dan Sungmin dipaksa menatap sepasang mata sendu yang tadi dilihatnya di foto sekali lagi.

“Dokter, aku tidak bersalah.” Cho Kyuhyun berbisik, “Yang membunuh keluargaku bukan aku. Tapi dia.”

=== TBC ===

A/N:

feel a bit misplaced with the ending tho, let see if i can come up with a new idea later =A= well blame my flu then!! ><

19 thoughts on “[Fanfic/Series] Prison of a Man Part 2: Mind Disease (Kyumin couple)

  1. Dia? Dia? DIA? DIA SIAPA? Щ(ºДºщ) oke saya penasaran sama ‘dia’ yang dimaksud sama kyuhyun. Gak mungkin kan yang dimaksud itu hantu yang mirip kyu nyantol disitu? ;AAA;

    Next chap yah :3

  2. halo kak!! masih inget sama hani? ^^ finally ceritanya dilanjutin juga. ceritanya berat but i really love it. suka banget sama segala deskripsinya, ngalir enak banget🙂 its one of the fic that i wait the most. semoga kakak punya waktu buat ngelanjutin ini. i’m really waiting for it!
    godbless❤

  3. Entah knapa…kyuhyun kejadiannya mirip crita Amytiville :3
    bner2 horror..aku jg bisa menggambarkan detil2 ruangan,wajah,tutur kata dan…foto yang diliatin ke sungmin *ambil ember muntah
    great job :*😀
    clue2 yang diselipkan membuatku makin mudah membayangkannya,ksannya sperti aku bner2 mlihat mreka,tpi mreka tak bisa mlihatku :3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s