Balada Hyungshik, Sang Penjual Abu Gosok


Title: Balada Hyungshik, Sang Penjual Abu Gosok

Genre: drama, comedy

Rating: PG

Pairing: Junyoung/Taehun, Dongjun/Hyungshik, Kevin/Heechul, Heechul/Hyungshik, Kevin/Dongjun, Kevin/Taehun, Junyoung/Dongjun

Warning: ….garing.

Di suatu tempat, hiduplah dua orang anak laki-laki yang hidup sangat sederhana dengan kedua orangtuanya. Mereka bernama Hyungshik dan Dongjun, Hyungshik yang tinggi menjulang seperti tembok berjalan dan Dongjun yang pendek padat seperti roti kasur. Yah begitulah, mereka merupakan kakak adik yang sangat akur. Awalnya mereka hidup berkecukupan dengan orang tua mereka, Papa Jun dan Mama Hun di sebuah rumah yang sangat mewah di kawasan Gangnam. Namun akibat Papa Jun terlibat skandal dengan pegawai kantornya, akhirnya Papa Jun pun dipecat dan mereka terpaksa tinggal di sepetak rumah di pinggir sungai Han.

Begitulah, cerita ini dimulai.

Suatu hari, Mama Hun tiba-tiba menangis karena beras mereka tinggal segenggam dan mereka tidak punya uang lagi untuk membeli beras.

“Mama! Kenapa kau Mama? Katakan kepadaku, apa alasanmu menangis?” kata Hyungshik dengan gaya diplomatis.

“Hyungshik~” Mama Hun memeluk anaknya. “Beras kita habis!! Kita mau makan apa?! Kamu mau dikasih makan apa? Huhuhu…”

“APA?! Ini gawat!! Papa! Cepat cari kerja!” Bentak Hyungshik.

“Bang, mana bisa cari kerja secepat itu?” Kata Dongjun pada Hyungshik, yang langsung disetujui oleh Papa Jun yang asyik leyeh-leyeh di pinggir sungai.

“Benar sekali anakku, kamu memang anak papa yang paling pengertian.” Jawab Papa Jun.

“Terus kita gimana dong Dek? Bisa mati nih Abang kalo nggak makan sekali aja.”

“Gini aja deh Bang, ayo kita jualan abu gosok keliling!! Uangnya nanti kita beliin beras! Gimana?”

“Jangan, Mama nggak tega ngeliat anak-anak Mama kerja keras demi sesuap nasi. Biar Mama aja yang kerja jadi tukang cuci di perumahan mewah kita dulu.”

“Kelamaan Ma, si Abang keburu ceking duluan. Gak apa-apa kok Ma, jangan khawatir.” kata Dongjun mencoba meyakinkan ibunya.

“Tapi…”

“Gak apa Ma, Mama tunggu aja di rumah. leyeh-leyeh sama si papa tuh.” kata Dongjun lagi. “Yuk Bang! Aku siapin gerobaknya dulu, Abang siapin abu gosoknya ya!”

“Engg…”

“Bang…”

“Oke deh.” Hyungshik akhirnya mengangguk, rupanya dia agak takut sama Dongjun yang mulai sibuk nyari batang kayu, in case kakaknya itu nggak mau diajak jualan.

Dan dimulai lah perjalanan mereka berjualan.

1 km pertama, mereka berdua masih semangat teriak2 sambil mendorong gerobak, menawarkan abu gosok.

1 km kedua, Hyungshik mulai capek dan minta gendong. Hasilnya Hyungshik ditendang di muka oleh Dongjun.

1 km berikutnya, Hyungshik mulai kejang karena dehidrasi dan mulai merengek nggak kuat sambil menyilangkan tangannya ala 7 icons. Akhirnya Dongjun mengalah, Hyungshik pun ia suruh masuk ke dalam gerobak. Hyungshik melompat masuk dengan gembira dan leyeh-leyeh di antara kantong abu gosok.

5km berikutnya, Dongjun nyaris menguap akibat panas dan kecapekan mendorong gerobak isi abu gosok dan anak kingkong. Tangannya pun mulai bergetar dan tanpa sengaja, ia melepas gerobaknya di turunan dekat perumahan elit.

“B-bang, a-aku nggak kuat lagi. Abang beratnya kaya kuda nil. A-abang lanjutin jualannya ya, adek mau pingsan dulu…” ucap Dongjun sebelum akhirnya terkapar di pinggir jalan.

“EH? APA?!? ADEK, INI GEROBAKNYA JALAN! DEK, JANGAN MATI DULU EH, DONGJUN! BANGUN… AAAAAAAA….”

Telat. Hyungshik keburu meluncur duluan. Hyungshik yang cemong abu gosok pun menjerit sekencang-kencangnya sambil berpegangan erat pada pinggir gerobak. Untungnya dia tidak lupa akan pesan Dongjun sebelumnya. Alhasil teriakannya jadi seperti ini:

“AAAAAAAA….BU GOSSOOOOOOKKNYAAAAAAAAAA……. KYAAAAAA~~ BELI TIGAAAA GRATIS SATUUUU”

“Apaan sih itu ribut-ribut? Orang jualan ya, Nem?” Tanya Kevin, seorang penghuni di perumahan elit tersebut. Ia menutup Koran sore yang sedang dibacanya. “Berisik banget.”

“Nggak tahu Tuan, kayanya sih emang orang jualan. Tapi nggak tau jualan apaan, suaranya nggak jelas.” jawab Jung Heechul, alias Minem, pembantu Kevin yang sedang mengepel lantai.

“Coba kamu liat gih, kali aja jualan kerupuk. Kalo iya, beli ya, Nem!”

“Ih saya lagi ngepel! Tuan aja gih, sekalian cari jodoh.” Tolak Minem.

“Eh kamu pembantu kok ngelunjak! Udah sana kamu keluar, ngepelnya kan bisa saya yang lanjutin….” ujar Kevin. “Sini mana kain pelnya.”

“Oh iya ya. Ya udah saya cari tukang kerupuknya…” kata Minem sambil menyerahkan kain pel kepada Kevin. Ia bingung sebenarnya yang tolol itu siapa. Maklumlah, Minem hanya lulus SD. Keluarganya tidak mampu membiayainya sekolah. Ayahnya hanya seorang petani jeruk dan ibunya tidak bekerja. Akhirnya Minem mengalah dan pergi ke kota untuk mencari kerja. Semua ini demi membiayai pendidikan kedua adiknya, Heejun dan…. Heemang. Eh, sekarang dia sudah ganti nama deh. Jadi, Joni. Entahlah, adik bungsunya itu memang banyak maunya. Gaji Minem selama beberapa bulan pun habis untuk biaya mengganti nama si Heemang, eh, Joni.

Mengenai namanya sendiri, kenapa ia dipanggil Minem……

Itu karena dia suka ngepel dengan gaya seksi. Suka sambil telentang lah, sambil gaya putri duyung lah, sambil mendesah-desah lah (sabun pelnya nggak sengaja masuk ke mulut). Oleh karena itu setiap majikannya seringkali teringat Inem pelayan sexy. Ya sudahlah.

“Nem, keburu pergi tukangnya!! Cepetan kamu!” bentak Kevin sambil masih serius mengepel. Wow, majikan Minem satu ini telah melepas kemejanya. Ia mengepel hanya dengan berkutang putih dan celana selutut. Kalau begini memang tidak ada bedanya dengan tukang kebun tetangga. hihi.

“Iya Tuan. Sebentar, saya ganti daster dulu.”

“Halah, nggak usah! Cepetan Nem!!”

“Iya iya…” Minem pun keluar dengan malas.

“Emang tukang kerupuk ya?” gumam Minem sambil menyipitkan mata, mencari di mana orang yang teriak-teriak tadi.

“AAAAAAAAAABU GOSSSOOOKKKKNYAAAA…..” teriak Hyungshik setengah mau pingsan. “MAMA TOLONG HYUNGSHIK MAMA HUHUHUHU TwT” Gerobak terus melaju mengikuti alur turunan, dan sepertinya sebentar lagi akan menabrak salah satu rumah.

“Bang, sini Bang!” panggil Minem.

Hyungshik melihat ada seseorang berdaster yang melambaikan tangan kepadanya, maka dengan sekuat tenaga Hyungshik pun membelokkan gerobaknya dan bergantung pada nasib ia akan mendarat di mana.

Gubrak!!

Akhirnya gerobak Hyungshik (beserta isinya) sukses menabrak pagar rumah seseorang. Yang repotnya, bukan rumah orang yang memanggil Hyungshik tadi.

“Oh My God!! Heh Mas, pagar saya rusak nih gara-gara kamu!!!” Bentak Ibu-ibu pemilik rumah yang langsung keluar tergopoh-gopoh begitu mendengar suara keras.

“M-maaf….” ucap Hyungshik seperti mau menangis. Kalau boleh rasanya dia mau mengubur diri di antara abu gosok ini.

“Dia kan nggak sengaja Bu,” bela Minem. “Bu Siwan nyantai dong.”

Ibu-ibu berkumis (?) tadi sepertinya akan mulai mengomel lagi, kalau saja suaminya tidak memanggil dari dalam. Akhirnya Bu Siwan tadi pun masuk ke rumahnya sambil menggerutu.

“M-mau berapa Mbak, abu gosoknya?” tanya Hyungshik takut-takut.

“Mbak?!”

“Eh salah ya? Mas…”

“MAS?!?”

“Apa dong?!” Hyungshik mulai stress, ia menggigit-gigit pinggir gerobak.

“Panggil Minem aja.” jawab Minem sambil tersenyum. “Kerupuknya lima bungkus ya.”

“Hah? S-saya nggak jual kerupuk…”

“Loh, jadi jualan apa dong?”

“Abu gosok Nem TwT” Hyungshik menunjukkan kantung-kantung abu gosoknya.

“Wah gawat, sebentar ya.” Minem lari masuk rumah.

“Tuan, yang teriak-teriak tadi nggak jualan kerupuk!!” lapor Minem.

“Apa?!?! Terus jualan apa?”

“Abu gosok.”

“Ooo ya udah, beli aja. Kasian udah dipanggil.”

“Mau berapa banyak?”

“Secukupnya uang kamu aja.”

“Oke sip.”

Minem kembali menghampiri Hyungshik.

“Kalo 100,000 won dapet berapa ya Dek?” tanya Minem sambil mengeluarkan dompet dari dalam beha. Agak tidak rela juga kalau gajinya hanya untuk beli abu gosok. Tapi karena majikannya bilang seperti itu, apa boleh buat.

Hyungshik melotot. Bukan karena bra Minem yang hitam berenda-renda, tapi dia kaget karena Minem mengeluarkan uang 100,000 won.

“S-semuanya.” jawab Hyungshik. “Satu kantong Cuma 500 won kok…”

“Oh ya udah beli semuanya aja.” Minem menyerahkan uang 100,000 won hasil jerih payahnya bekerja. Entah kenapa, kalau pada bocah imut yang cemong ini, rasanya ia rela saja memberikan uangnya. Berbeda rasanya ketika ia harus membayar 1 juta won untuk mengganti nama Joni.

“Ini abunya.” Hyungshik menyerahkan sekantung besar abu gosok pada Minem. “Oh iya, saya boleh minta tolong nggak, Nem?”

“Apa?”

“A-adek saya, pingsan di atas tanjakan sebelum perumahan ini!! Boleh bantu tolongin dia nggak?”

“HAH? PINGSAN? Kamu kenapa nggak ngomong dari tadi.”

Minem langsung menghambur ke dalam rumah.

“Tuan! Tolongin kita Tuan!”

“Kenapa Minem? Kerjaan ngepel kamu udah saya selesaiin nih.”

“Bukan itu Tuan! Adiknya si tukang abu gosok, katanya pingsan di tanjakan sana. Ayo kita tolongin.”

“Dia pingsan gara-gara kecapekan mendorong gerobak isi saya, Tuan. Tolong bantu dia…” tambah Hyungshik dari luar pintu.

“Oke, oke. Ayo kita tolongin.” Kevin melempar kain pel yang sedang ia pegang dan berlari keluar bersama Minem dan Hyungshik.

“Naik apa Tuan? Naik gerobak atau mobil?” tanya Minem bego.

“Kamu aja sana naik gerobak, saya nggak kuat kalau disuruh ngedorong gerobak isi kamu sama anak gorilla kaya bocah ini.”

“Jahat! Aku dibilang anak gorilla…” protes Hyungshik.

“Tuan mau saya jadi kendor sana sini?” protes Minem. “Ayo lah naik mobil aja. Tuan yang nyetir ya.”

Maka mereka pun segera naik ke dalam mobil sport milik Kevin. Minem dan Hyungshik duduk di jok belakang, karena agak nggak sopan kalau Minem duduk di depan. Kevin selalu bilang yang boleh duduk di sampingnya Cuma jodohnya nanti.

“Hiks… hiks… maaf ya ngerepotin kalian.” gumam Hyungshik sambil mengelap air mata dan ingusnya dengan lengan kaosnya.

“Nggak apa-apa. Tuan saya orangnya baik kok. Cup cup cup, jangan nangis ya.” Minem bantu menyeka airmata Hyungshik dengan ujung dasternya.

“Makasih ya Minem.” Hyungshik sesenggukan. “Baru kali ini ada orang yang baik sama Shikkie setelah keluarga Shikkie jatuh miskin.”

“Ooohh.. emang dulunya Shikkie orang kaya?”

“Iya, dulu keluarga Shikkie tinggal nggak jauh dari sini. Di perumahan elit di sebelah perumahan ini. Tapi gara-gara Papa Jun dipecat, kami terpaksa tinggal di gubuk dekat sungai Han.”

“Ya ampun, kasihan sekali kamu.” Minem trenyuh, teringat masa-masa ia dan kedua adiknya harus berjualan opak keliling Jeju karena panen ayahnya gagal. “Cup cup cup, tenang udah ada Minem di sini.”

“Huhuhu Mineemmm….” Hyungshik memeluk erat Minem dan sesenggukan di dadanya. Agak tidak nyaman memang, akibat kawat bra Minem yang keras.

“Hey kalian! Jangan mesra-mesraan di belakang! Nggak tau apa saya jomblo.” bentak Kevin yang melihat adegan mengharukan Minem dan Hyungshik dari kaca spion.

“Makanya kalau dicariin jodoh tuh mau…” sindiri Minem. Ia mengelus pelan rambut Hyungshik yang lembut meskipun penuh abu.

“Shikkie mau tinggal sama aku aja? Shikkie bisa kerja jadi tukang kebun, nanti aku paksa Tuan supaya ngasih kerjaan ke kamu. gimana?”

“Eh? T-tapi aku nggak bisa kerja. Lagian aku nggak bisa pisah sama Dedek Dongjun dan Mama Hun~”

“Ya udah mama sama adek kamu dibawa aja.” usul Minem, yang langsung disambut dengan omelan Kevin. “Jangan seenaknya kamu nentuin! Yang majikan kamu apa saya?”

“Tuan.”

“Ya udah.”

“Tapi kan Tuan sayang sama saya.”

“Najis.”

“Oh gitu. Cukup tahu aja deh ya.”

“Mana adik kamu, Shikkie?” tanya Kevin begitu mereka sampai di ujung tanjakan.

“Mana ya….” Hyungshik celingak-celinguk mencari sosok Dongjun. “Ah itu dia!!” Hyungshik menunjuk sesosok tubuh pendek yang terkapar di pinggir got. Sandalnya terlempar ke ujung jalan, dan di pahanya seperti ada bekas ban. Sepertinya Dongjun tidak sengaja terlindas motor. Salah dia sendiri juga pingsannya di situ.

“Itu Tuan, yang lagi tidur-tiduran di pinggir jalan.” kata Hyungshik sambil berdiri-berdiri menunjuk adiknya.

“Kayanya dia bukan tidur-tiduran deh Shik, pingsan kayanya.” timpal Minem. “Ya ampun kasihan sekali, sampai kisut begitu.”

“Dia emang badannya cuma segitu, Nem.” jelas Hyungshik.

“Eh kalian kok malah ngobrol, ayo bantu saya ngangkat dia!” bentak Kevin yang ternyata sudah turun menghampiri Dongjun. Minem dan Hyungshik pun ikut turun dan membantu Kevin mengangkat tubuh lemah Dongjun ke dalam….bagasi.

Ya apa boleh buat, kursi depan hanya untuk jodoh Kevin sementara Kevin masih ragu-ragu apakah Dongjun memang orang yang ditakdirkan untuknya atau bukan, sementara jok belakang penuh oleh Minem yang duduknya ngangkang dan Hyungshik yang pantatnya begitu lebar hingga memakan separuh dari jatah kursi yang tersisa. Mustahil Kevin menyuruh Hyungshik mengecilkan pantatnya, dan tidak mungkin juga ia menyuruh Hyungshik mengeluarkan pantatnya yang sangat memakan tempat itu ke jendela, bisa-bisa polisi menilangnya.

“Ini mau dianter ke mana?” tanya Kevin. “Kita harus cepat, sebelum adik kamu mati kehabisan napas di bagasi.”

“Ke rumah kami boleh, Tuan?” pinta Hyungshik. “Mama kami pasti khawatir kalau kami jam segini belum pulang.”

“Rumah kamu di mana?”

“Sungai Han.”

“Jauh banget. Kamu yakin adik kamu nggak keburu mati?”

“Kalau belum ajal sih nggak lah,” jawab Hyungshik enteng.

“Makanya ayo Tuan ngebut.” timpal Minem. “Kasihan Dongjun, kasihan Shikkie juga. Kasihan saya, sinetron kesukaan saya sebentar lagi mulai.”

“IYA IYA BERISIK BANGET LU NEM!” Kevin akhirnya mengalah, sambil dalam hati bersumpah mulai bulan depan gaji Minem akan dia potong.

“Minem sama Shikkie, kalian tolong liatin adik kamu di bagasi, takut kelempar ke jalan. Saya mau ngebut sekarang.”

“SIAAA~~P” jawab Minem dan Shikkie sambil loncat-loncatan di jok belakang. Beginilah kalau orang dusun ketemu orang kere. norak.

Kevin pun segera tancap gas setelah sebelumnya komat kamit membaca doa. Dengan kecepatan 100km/jam, akhirnya mereka pun sampai di tepi sungai Han.

“Rumah kamu mana?” tanya Kevin seraya membuka pintu bagasi mobil. Wajahnya langsung trenyuh begitu melihat kondisi Dongjun. Mulutnya sudah berbusa, badannya memar-memar akibat terbentur dan wajahnya membiru akibat kurang oksigen.

“Wah, parah! Tuan, adik saya Tuan apakan?!” pekik Hyungshik sambil membekap mulutnya, air mata mulai bercucuran ala sinetron.

“Tuan tega! Tega!” Minem ikut menambahkan dan memeluk Hyungshik untuk menghiburnya. “Sabar ya Shikkie, maafkan Tuan saya. Dia jadi begitu karena kelamaan jomblo.”

“Minem, sekali lagi lo ngejelek-jelekin gue, besok gue kirim balik ke kampung lo ya.” ancam Kevin.

“Iya Tuan, maaf.” Minem langsung jaim.

“Rumah kamu yang mana?” tanya Kevin sambil membopong Dongjun yang kondisinya, yah, mengenaskan.

“Itu Tuan, gubuk coklat di ujung sana.” tunjuk Hyungshik.

“Maksud kamu gubuk yang di depannya ada orang lagi pacaran sambil suap-suapan itu?!” tanya Kevin dengan nada sinis. Cih, belum gelap aja udah asoy begitu. Nggak tahu apa ada orang yang udah jomblo dari lahir?

“Iya, itu orang tua saya, Mama Hun dan Papa Jun.” jawab Shikkie. Ia pun kemudian melambaikan tangannya. “MAMAH! PAPAH!!”

Mama Hun yang awalnya sibuk menyuapi Papa Jun pun langsung menoleh begitu mendengar suara anak sulungnya. “HYUNGSHIK?”

“MAMAH! AKU DI SINI MAH!” Hyungshik melambaikan tangannya lebih keras.

“Pah, anak kita pulang pah!” jerit Mama Hun kesenangan. Ia pun langsung bangkit tanpa peduli ada suaminya yang lagi leyeh-leyeh di pangkuannya dan berlari menghampiri anaknya.

“Hyungshik! Akhirnya kamu pulang juga, ya ampun, Mama nyaris telepon polisi. Ya ampun kamu sampe cemong gini. Adik kamu mana?!” Mama Hun langsung memberondong Hyungshik dengan pertanyaan-pertanyaan sambil membersihkan wajah anaknya dari sisa abu.

Deg!

Jantung Kevin langsung cenat-cenut begitu melihat ibu Hyungshik di hadapannya. Bagaimana bisa orang secantik, sebohay, seimut ini, punya anak cemong kaya kuda nil seperti ini?! Ini sungguh di luar akal sehat!!

“Ini Ibu, anak Ibu yang satu lagi ada sama saya.” kata Kevin sambil perlahan maju dan menunjukkan Dongjun yang sudah lebih mendingan.

“Astaga, Dongjun kenapa?!?! Kamu apakan anak saya!!” Mama Hun langsung menangis histeris melihat anak bungsunya yang kondisinya tragis.

“Kenapa Ma? Mas Mas ini ngapain Mama?” Papa Jun datang menghampiri. “Kamu apakan istri dan anak saya?!”

“S-saya nggak ngapa-ngapain mereka.” Kevin kebingungan.

“Ma, Pa, Tuan ini yang nolongin Abang sama Adek. Jadi gini lho ceritanya…” Hyungshik pun menceritakan pengalamannya berjualan abu gosok hari itu.

“Oh jadi begitu. Ya ampun, maaf ya Tuan, saya sudah berburuk sangka.” kata Mama Hun sambil berlinang air mata. Hati Kevin semakin cenat-cenut melihatnya, kalau saja tidak ada suami Mama Hun yang dari tadi cuma bisa duduk-duduk, sudah dari tadi Kevin ingin memeluknya. Inilah kalau kelamaan jomblo.

“Ng-nggak apa-apa.” Kevin cuma bisa senyum-senyum sambil memperhatikan Mama Hun yang sibuk merawat Dongjun.

“Shikkie, rumah kamu jelek banget.” komentar Minem dengan mata berkaca-kaca. Ia jadi teringat rumahnya di kampung yang untungnya tidak semenyedihkan ini.

“Apa boleh buat, Papa Jun nggak punya kerjaan. Sejak ia dipecat kerjaannya cuma leyeh-leyeh.” gumam Hyungshik. “Makanya Papa cari kerja dong!”

“Iya iya besok Papa cari kerja.” jawab Papa Jun.

“Kamu tinggal bareng aku aja mau nggak?” tawar Minem. “Boleh ya Tuan? Ya Tuan? Tuan Kevin ganteng deh.” rayu Minem.

“Kamu tuh Nem, kalau ada maunya aja baru muji-muji.” sindir Kevin. “Nggak bisa lah, kasihan anak ini. Kan tadi dia bilang kalau dia nggak bisa pisah sama Ibu dan adiknya.”

“Ya udah biar aja adik sama ibunya ikut. Boleh ya Tuan? Saya nggak bisa, nggak bisa kalau nggak ada Shikkie. Saya nggak mau kerja kalau Shikkie nggak boleh tinggal bareng saya.” rengek Minem sambil memelintir ujung dasternya.

Kevin menghela napas. Kok bisa sih dulu dia mempekerjakan si Minem ini? Pasti dulu ia sedang khilaf. Tapi kalau Mama Hun ikut……..

“Ya udah biar saya bicara sama orang tuanya.” kata Kevin pada akhirnya. Minem dan Hyungshik langsung tos-tosan.

Perlahan Kevin menghampiri Mama Hun yang sedang duduk selonjor ala putri duyung di sebelah ranjang Dongjun.

“Ahem, Mama Hun…” Kevin mencolek bahu Mama Hun.

“Iyaahh?” jawab Mama Hun sambil menoleh, poninya disibakkan, bibirnya dibuka sedikit dan suaranya mendadak jadi serak-serak basah. Oh rupanya ini efek Mama Hun habis sesenggukan. “Kenapa yah Tuan?”

Lidah Kevin kelu.

“Sa-saya mau melamar Ibu. Eh bukan, maksud saya, pembantu saya merengek supaya anak Ibu, si Hyungshik boleh tinggal bersama kami.”

“Jadih, Tuan mauh memisahkan sayah dengan anak sayah?!?!” Mama Hun semakin berkaca-kaca.

“B-bukan begitu. Karena Hyungshik juga tidak bisa berpisah dengan adik dan ibunya, maka saya meminta agar Ibu dan anak bungsu ibu ikut tinggal bersama saya.”

“Oh gituh….” Mama Hun menyeka air matanya dan tersenyum. “Tapi suami saya gimana?”

“Dicerai aja, Bu. Nikah sama saya.” jawab Kevin keceplosan. “Eh, m-maksud saya, anuu…”

“Yang bener?” Mama Hun menatap Kevin penuh harap. “Tuan mau menikahi saya? Saya udah janda dua anak lho.”

“MAMA! MAMA BUKAN JANDA!” potong Dongjun yang sudah sadar. “Mama kan masih punya Papa!”

“Mama sudah bosan miskin, Nak! Kalau boleh jujur, Mama capek menghadapi Papamu yang setiap hari cuma santai-santai itu. Apalagi dia pernah selingkuh sama sekretarisnya dulu, si Minul!”

“Mama! Mama nggak boleh begitu! Kalau Mama sama Abang pergi, Papa gimana? Papa sama siapa?!” protes Dongjun.

“Kalau begitu suruh Papamu cari kerja!” isak Mama Hun. Sumpah ini seperti sinetron kacangan yang sering ditonton Minem bareng Kevin, kalau sang majikan sedang tidak ada kerjaan.

“Kalau begitu aku akan mencarikan kerja buat Papa!” kata Dongjun sambil tertatih-tatih turun dari ranjangnya.

“Adek! Kamu jangan turun ranjang dulu, kamu masih sakit!” pekik Mama Hun.

“SUDAH CUKUP!” Kevin mulai stress. “Kalian semua ikut saya aja. Papa kamu juga dibawa! Nanti papa kamu bisa kerja di kantor saya. Mama kamu bisa kerja jadi istri saya. Semua beres kan?!?!”

Semua hening.

“Tuan~~” Semua memeluk Kevin.

“Tuan sungguh mulia.” kata Papa Jun terharu. “Saya bersedia meminjamkan istri saya selama saya bekerja.”

“Bagus. Kalau begitu ayo kita ke KUA sekarang.”

Dan begitulah, mereka semua akhirnya tinggal bersama di rumah Kevin. Dan tetap saja Kevin tidak punya jodoh tetap.

 *TAMAT*

4 thoughts on “Balada Hyungshik, Sang Penjual Abu Gosok

  1. WAKAKAKAKAKAK
    NGAKAK AMPE BODOR LOLOLOLOL XDDDDDD
    emang sinting lo ta xDDD
    gw ga bs berhenti ngakak xDDD
    ichul pake daster plus beha….
    sapi jualan abu gosok…
    kokoh goblog xDDD
    oom lider slingkuh ma sekretaris minul BWAHAHAHAHAHAH
    anjirrrrr perut gw ama rahang gw ampe sakit gr2 kbanyakan ktawa xDDDD
    hayok bikin lg! heeshik punya bebi lol
    tengkyu ya ta dah bikin penpik epic bgt😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s