[Fanfic/oneshot] I’ll be Home for Christmas – Onkey version (Christmas fic)


Title : I’ll be Home for Christmas – Onkey version

Pairing : Onew x Key

Rating : G

Genre : slight angst, fluffy~

Disclaimer : I DO NOT own ANY of em~ i wish i could~

A/N:

FINALLY, you all probably yell out loud when you read this author’s note. Heh~ well, rencananya emang kemaren ini drabble udah mau dipost tapi karena seharian gue di luar, jadi batal deh. Belom lagi trensletan yang masih ada 34 halaman lagi untuk diselesaikan sementara waktunya udah sempit abis~ *elus-elus otak gue*. yaudahlah daripada berlama-lama dan kalian jadi pengen ngelem mulut author pake lem Super Glue, mending langsung aja dibaca I’ll be Home for Christmas versi Onkeynya~

=========

“Tahun ini kau akan pulang kan?”

“….”

“Jinki…”

“Aku tidak tahu, Kibum. Entah sudah berapa kali aku mengecewakanmu dengan janji yang tidak bisa kupenuhi.”

“Karena itu pulanglah… Jangan kecewakan aku lagi. Mau kan?”

Kim Kibum membuka kedua matanya perlahan. Deru ribut mesin kereta yang baru tiba di stasiun itu membangunkannya dari tidur singkatnya. Saat itu pukul 11 malam; cukup larut namun toh masih banyak orang yang memenuhi tempat itu. Wajah semuanya rata-rata sama ketika kereta yang baru datang itu terbuka pintunya dan para penumpang yang sejak tadi ditunggu keluar dari dalamnya; wajah-wajah itu penuh dengan pengharapan walau tak sedikit yang didominasi kecemasan. Semuanya sibuk menanti orang-orang terpenting yang baru saja kembali dari tugas membela negaranya. Wajah-wajah itu dengan segera berubah, kelegaan dan tangis bahagia segera hadir begitu orang yang dinanti ada di antara ratusan manusia yang turun dari kereta malam itu.

Kibum adalah salah satu di antara sekian banyak penunggu itu, walau hingga detik ini belum sekalipun ia melihat bahkan bayangan kekasihnya sekalipun di antara lautan manusia itu. Ini sudah hari kelima ia dengan setia menunggui setiap kereta yang datang dari pukul 8 malam hingga kereta terakhir pukul 12 malam nanti. Hanya pada waktu-waktu itu ia berada di situ, karena hanya pada waktu itu saja kereta-kereta khusus membawa mereka yang telah usai menjalani wajib militer untuk pulang ke rumahnya masing-masing. Di salah satu kereta itulah, Kibum meyakini ada Jinki di dalamnya. Paling tidak itu keyakinannya sejak enam tahun yang lalu… hingga saat ini.

Akan tetapi ketika lautan itu makin lama makin surut dan hanya meninggalkan sedikit orang yang masih berwajah kecewa karena ternyata tidak ada orang yang dinanti di kereta tersebut, Kibum menemukan dirinya juga berada dalam kumpulan itu. Dengan lesu, pemuda berwajah feminin itu terduduk di bangku besi yang tepat berada di bawah lampu berwarna putih susu. Susah payah, ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa masih ada satu kereta terakhir; satu kereta harapan terakhirnya untuk kepulangan orang yang dikasihinya.

Satu jam lagi, Kibum. Masih ada satu jam terakhir; mungkin saja Jinki ada di kereta itu, hati kecilnya berusaha menenangkan dirinya. Akan tetapi diam-diam ia mulai merasa takut. Bagaimana jika Jinki tidak juga ada di kereta itu? Apa itu artinya ia harus menghabiskan waktu setahun lagi untuk menunggu? Apa ia masih sanggup menunggu? Tanpa sadar pemuda itu merapatkan mantel tebalnya. Angin musim dingin tahun bertiup lebih kencang dari tahun-tahun sebelumnya dan cuaca di luar sana begitu dingin hingga merasuk sampai ke tulang. Kibum tanpa sadar menggoyang-goyangkan tubuhnya maju mundur, sesuatu yang biasa Jinki lakukan sambil memeluknya jika pemuda cantik itu kedinginan. Dengan secangkir coklat panas di tangan, Kibum akan merapatkan tubuhnya ke dalam pelukan hangat pemuda yang lebih tua itu walaupun dirinya tak lagi merasa dingin selang beberapa menit kemudian. Jinki akan membelai rambutnya pelan dan mencium keningnya sambil membisikkan kata-kata yang mampu membuat Kibum tersipu malu dan akhirnya semakin menyembunyikan wajah di balik selimut tebal yang membungkus tubuh mereka. Betapa ia merindukan tawa renyah Jinki…

Kibum mengerjapkan mata dan baru menyadari bahwa ia menangis ketika butiran kristal itu jatuh dari sudut matanya. Suara peluit kereta dari kejauhan, tanda bahwa kereta terakhir telah tiba membuatnya tersentak. Ia melihat ke arah jam dinding dan sedikit heran melihat bahwa jarumnya baru menunjukkan pukul 11 mAlam lewat 25 menit, yang artinya kereta itu datang jauh lebih awal dari biasanya. Harapan pun kembali membuncah di dalam hatinya. Mungkin ini pertanda baik, harapnya. Mungkin ini pertanda bahwa Jinki akan pulang… malam ini.

Kereta yang dinanti akhirnya berhenti tepat di depannya, dan dengan tangan terkepal Kibum memperhatikan satu demi satu orang yang berhamburan keluar dari dalam. Matanya dengan cepat dan liar berusaha menangkap wajah yang amat dirindukannya tapi hingga 10 menit berlalu wajah itu tak kunjung tampak. Kibum mulai panik; Jinki pasti ada di antara mereka. Pasti! Ia HARUS berada di antara penumpang-penumpang itu. Akan tetapi, ketika arus manusia itu lagi-lagi mereda dan tak ada lagi orang turun dari kereta terakhir itu, bahu Kibum merosot dengan sendirinya. Hatinya seakan terjatuh dari tempatnya, harapan kini melayang entah kemana.

Masinis kereta tersebut turun dan dengan cepat Kibum menghampirinya.

“Paman, maaf apakah setelah ini masih ada kereta yang akan datang lagi? Orang yang kucari sejak tadi tidak ada di kereta manapun, termasuk kereta yang ini. Apa mungkin ia ada di kereta berikutnya?” tanyanya. Bapak tua itu menggelengkan kepala.

“Nak, ini adalah kereta terakhir yang membawa prajurit-prajurit militer pulang dari daerah perbatasan Pyeongyang. Tidak akan ada lagi kereta yang datang setelah hari ini.” ia terdiam sesaat, “Jika orang yang kau tunggu tidak ada di sini, mungkin kau harus menunggu setahun lagi.”

Kibum tidak sanggup berkata apa-apa mendengar perkataan masinis tersebut. Dengan mata nanar ia mengawasi punggung bapak itu yang beranjak menuju ruang istirahat dan meninggalkannya sendirian. Tetesan air mata itu akhirnya kembali membasahi pipinya, sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Dengan terisak, pemuda bertubuh kurus itu memeluk lututnya dan menangis dalam diam… menyadari bahwa ia akan melewati malam natal tahun itu sendirian…lagi.

***

Kedua kaki Kibum terasa amat berat ketika ia melangkah di atas salju tebal yang menutupi jalan menuju rumahnya. Matanya menatap kosong udara dingin yang tak berwujud di depannya. Ia lelah; bukan hanya secara fisik tapi juga dari dalam. Ia lelah menanti Jinki yang tak kunjung kembali; ia lelah mengkhawatirkan keadannya di medan berbahaya di seberang sana; ia lelah menangisi ketidakhadirannya di sebelahnya saat ia berbaring di tempat tidur mereka; ia lelah harus terus mempertahankan penantiannya sementara dirinya sudah tak lagi punya tenaga untuk bertahan.

Pemuda itu menarik napas panjang, mengambil sebanyak mungkin udara dingin ke paru-parunya. Mungkin ia hanya perlu sedikit waktu untuk menenagkan diri. Tidur adalah sesuatu yang paling dibutuhkannya saat ini. Besok ia masih harus bangun pagi dan pergi kerja. Cafe tidak pernah tutup bahkan di hari libur sekalipun, bukan?

Ketika ia mengulurkan tangan hendak membuka pagar rumahnya, ia tertegun. Kibum ingat ia sudah mematikan semua lampu di bagian dalam rumahnya. Akan tetapi kenapa lampunya menyala? Belum lagi, pohon natal yang berdiri tegak di sebelah jendela itu kini berkelap-kelip diterangi lampu-lampu kecil yang melilit sekeliling tubuhnya. Jantungnya berdegup kencang. Sekali lagi ia merasa takut. Siapa yang masuk ke rumahnya dan menyalakan lampu-lampu itu? Dari mana orang itu tahu tempat ia menyembunyikan kunci cadangan? Ia tidak ingat pernah memberitahu Jonghyun atau bahkan Taemin mengenai tempat tersebunyi tersebut. Kecuali…

Tangan Kibum gemetar ketika ia membuka kenop pintu dengan tergesa. Jantungnya seakan hendak membuncah keluar dari dadanya. Tidak mungkin, batinnya, ini tidak mungkin. Pintu menjeblak terbuka dan Kibum disapa oleh kekosongan ruang tamu di dalamnya. Ia menelan ludah dengan panik, terpaku di tempatnya seperti tersihir. Ia memandang ke ruang duduk yang terang benderang, tanpa tahu apa yang harus dilakukannya. Bagaimana kalau ternyata ada pencuri di dalamnya?

Kakinya terasa semakin berat ketika ia memaksa dirinya melawan rasa takut dan perlahan mengambil langkah demi langkah menghampiri ruangan tersebut. Tinggal sedikit lagi… Ia menahan napas ketika tubuhnya berputar ke arah kirinya…

“Kibum?”

Tubuhnya membatu. Matanya kini sedang menatap wajah yang sudah enam tahun ini tidak ditemuinya. Semuanya masih sama pada dirinya. Mata kekanakkan itu, bibir tebalnya, bahkan pakaian yang dikenakannya masih pakaian yang sama dengan yang ia pakai hari itu. Hanya rambut coklatnya saja yang kini terpotong pendek khas militer… dan kaki yang terbungkus gips berwarna putih itu yang sama sekali baru. Kruk yang terbuat dari besi menahan berat tubuhnya.

“Jinki…” bisik Kibum, yang bahkan tidak berani mengucapkan nama itu keras-keras. Seakan sosok di depannya akan menghilang jika ia melakukannya.

Pemuda yang lebih tua itu tersenyum malu dan membalas,

“uhhmm, Hai…”

“Ma,maaf aku langsung masuk ke dalam tanpa menunggumu dulu.” ujarnya lagi sambil menggaruk kepalanya dengan tangannya yang bebas, sama sekali tidak sadar betapa Kibum nyaris pingsan melihatnya, “udara di luar sangat dingin dan… kupikir kau masih menyimpan kunci cadangan si tempat yang sama seperti dulu jadi…”

“Kapan kau tiba? Kenapa… kenapa kau tidak naik kereta?” potong Kibum, matanya masih menolak melepaskan pandangan dari kekasihnya. Jinki tersenyum malu dan memberi isyarat pada kakinya yang dibebat gips tadi.

“Yah, aku.. agak… ceroboh tiga hari sebelum kepulanganku. Kau tahu, terjatuh di… err… barak ketika aku berteriak kegirangan karena akhirnya mendapat kabar bahwa aku sudah bisa pulang tahun ini jadi mereka terpaksa mengantarku dengan bus khusus. Bukan luka serius! ini hanya…”

Ucapannya berhenti ketika tubuh kurus Kibum terhempas ke dalam pelukannya dan nyaris saja membuatnya terjatuh ke belakang. Jinki tertegun sebentar namun aliran hangat air mata yang membasahi bagian dada seragam militernya membuatnya tersenyum. Ia mengelus rambut halus Kibum dan membiarkannya menumpahkan segala emosinya.

“Kau pulang…” isak Kibum, “kau akhirnya pulang…”

Jinki mengeratkan pelukannya dan menutup matanya. Diciumnya bagian atas kepala Kibum dan ia pun berbisik,

“Ya, aku sudah pulang. Selamat natal, Kibum.”

==-

A/N:

okay this is seriously messed up maaf banget ya kalo endingnya oon banget. saya masih kesel indo kalah plus PRAGINA GONG dari IGT membuat saya merinding sampe ke dalem (?) dengan tarian mereka yang…… WOW!!! thanx for reading guysss~

Note: this Fanfic could also be found in Enma D’Mightyhyunsaferism’s FB

7 thoughts on “[Fanfic/oneshot] I’ll be Home for Christmas – Onkey version (Christmas fic)

  1. Unnie!!!! Romantis pol ceritanya! Aku sampe ikut nangis bareng anak perempuanku *Kibummie maksudnya, kekekeke* Aku pikir Jinki tewas di medan perang n aku ikutan dag dig dug pas bacanya!

    Huaaaaa…….. T^T……… Ceritanya nyentuh pol!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s