[Fanfic/oneshot] I’ll be Home For Christmas – 2min version (Christmas Fic)


Title : I’ll be Home for Christmas – 2min version

Pairing : Taemin x Minho

Genre : fluff, fluff, fluff, hurt/comfort (?)

Rating : G

Disclaimer : if i own the boys, i’d absolutely drag them to church and get a priest to marry ’em kay?

 

A/N:

YAH!! FINALLY MY LONNNGGGGG AWAITED COMEBACK XDDD walo kombeknya masih nanggung sih, karena di tengah-tengah kesibukan gue ngerjain kerjaan sambilan. But wells, here is my latest shot for celebrating the joyous ever Christmas J Inspired by my favorite Christmas song sung by many awesome singers: “I’ll be Home for Christmas”. 2 different couples, 2 different stories. ENJOY!😀

=====

Malam Natal

24 Desember 2010, 10:35 PM

Propinsi Jeollabuk-do, Barat Daya Korea Selatan

 

Aneh.

Ini malam natal teraneh dalam sepanjang kehidupannya.

Ia terlalu biasa melewati malam suci ini selama bertahun-tahun kehidupannya dengan banyak orang di sekitarnya.

Terlalu banyak kemeriahan dan suara tawa di sekelilingnya ketika itu, namun kini semuanya tergantikan dengan suasana syahdu gereja kecil di sudut kota mungil tersebut.

Tak ada lagi butiran-butiran salju yang menepuk lembut kepalanya dan menuruni pundak kokohnya, hawa dingin yang membuatnya menggosokkan tangannya yang berlindung di balik sarung tangan tebal pun tak hadir lagi.

Hanya sapuan angin laut yang kering bertiup menyibak rambut hitam tebalnya yang baru belakangan ini dimilikinya.

Jelas, ini adalah malam natal teraneh yang pernah Choi Minho lalui.

 

 

Akan tetapi tidak ada yang lebih aneh melebihi kenyataan bahwa dirinya kini sedang duduk di bangku belakang gereja tua itu, bersama seseorang yang baru saja dikenalnya sekitar setengah jam yang lalu; dan seakan mereka sudah saling mengenal satu sama lain, Minho baru saja selesai menceritakan segala yang terjadi di kehidupannya setengah tahun belakangan.

Wajah malaikat remaja itu yang pertama kali membuatnya terperangah, disusul oleh suaranya yang tadi mengalun lembut menyanyikan mahakarya Franz Schubert yang sejak dulu selalu berhasil membuat Minho merinding, Ave Maria. Kini setelah semua umat meninggalkan ruang ibadah itu, keduanya masih memutuskan berdiam dan saling bertukar cerita mengenai diri mereka msing-masing.

 

 

“Kau harus pulang,” suara pelan itu kembali terdengar, “Walau bagaimanapun, mereka orangtuamu. Walaupun kalian bertengkar hebat, namun itu semua karena mereka menyayangimu; mereka peduli.”

Minho mendengus.

“Mereka tidak pernah mau mengerti apa keinginanku. Yang mereka tahu adalah yang terbaik untuk mereka, dan keluarga kami… tapi bukan untukku.” sahutnya.

Remaja berambut pirang di sebelahnya tersenyum lembut dan memandang pemuda yang hanya dua tahun lebih tua darinya itu.

“Apa kau akan merasa lebih baik jika kukatakan bahwa aku iri padamu?” tanyanya. Seragam koor yang masih dikenakannya nampak berkilau ditempa cahaya lilin yang menerangi sudut ruangan kecil itu.

 

 

Minho menoleh ke arahnya, dahinya berkerut tanda ia tidak mengerti.

“Iri?” sekali lagi pemuda itu mendengus tertawa, “apa maksud perkataanmu itu?”

Lee Taemin, pemuda berambut pirang itu menundukkan kepala dan tersenyum; walau senyumnya sedikit ternoda oleh gurat kesedihan di situ.

“Paling tidak kau tahu bagaimana rasanya punya orang tua… Aku… aku bersedia menukar apapun yang kumiliki jika saja aku bisa bertemu dengan Ibu dan Ayahku…” jawabnya, pelan. “Kau beruntung… kau tahu itu, Minho?”

 

 

Napas Minho seakan tertahan di lehernya. Ia lupa sama sekali kalau Taemin adalah yatim piatu; tak pernah sekalipun ia mengenal kedua orangtuanya sejak ia masih bayi. Tiba-tiba saja segala kemarahan, kekecewaan, dan semua kegalauannya yang ditumpuknya selama setengah tahun ini hilang entah kemana, digantikan oleh rasa malu, sedih, sekaligus iba kepada dirinya sendiri… terlebih kepada remaja di sebelahnya yang masih tertunduk memandangi jubah panjang berwarna merah marunnya.

“Taemin, aku… aku minta maaf.” ia tergeragap, “sungguh, aku tidak berharap… maksudku aku tidak bermaksud membuatmu…”

“Tidak apa-apa,” potong Taemin “ aku tahu kau tidak bermaksud seperti itu, Minho. Aku hanya ingin kau menyadari betapa banyak berkat yang telah Tuhan berikan padamu. Hanya saja, mungkin kau belum menyadarinya…” remaja itu kemudian tersenyum dan menggenggam erat tangan Minho dengan miliknya sendiri.

 

 

Jantung pemuda berusia 20 tahun itu mendadak bertambah cepat detaknya. Ada suatu aliran hangat yang seakan mengalir di seluruh tubuhnya, merayap pelan seperti ular di urat-urat nadinya.

“Apa kau termasuk salah satunya?” ucapnya, “apa kau termasuk salah satu berkat yang Ia berikan padaku?”

Wajah mungil itu terangkat dengan cepat namun toh akhirnya kembali tertunduk. Pipi putih itu kini diwarnai semburat warna merah yang sama sekali bukan hasil perpendaran lampu pohon natal yang berkelap-kelip di depan sana. Minho tanpa sadar menggaruk belakang lehernya.

“Maaf… Aku jadi bicara sembarangan.” mohonnya, dengan tawa yang sedikit dipaksakan. Taemin menggigil bibir bawahnya sedikit sebelum menyunggingkan senyumnya kembali.

 

 

“Anggap saja, Tuhan memintaku untuk menyadarkanmu bahwa kau memiliki sesuatu yang mungkin orang lain tidak miliki.” mata teduh itu menatap Minho dalam-dalam, “belajarlah bersyukur, Choi Minho. Karena dengan begitu, engkau akan melihat segala sesuatunya dengan indah. Jangan biarkan amarah membuatmu lupa akan segala yang telah mereka lakukan untukmu. Pulanglah; orangtuamu, keluargamu menunggumu…”

 

 

Minho membalas tatapan teduh itu dan membiarkan dirinya tertarik lebih dalam ke dalam manik berwarna coklat itu. Perlahan perasaan rindu mulai menyeruak dari kedalaman hatinya, terus merembes keluar dan membuat dadanya sesak; sesak oleh kelegaan bahwa ia bertemu dengan orang yang tepat, yang telah menyadarkan betapa ia terlalu menuruti egonya. Dirinya telah membiarkan egonya itu berkuasa dan mengacuhkan telepon dan pesan singkat dari ibunya, mengabaikan kabar bahwa ayahnya kini terbaring sakit dan terus menerus menyebut namanya bahkan dalam tidurnya. Apa sekarang semuanya sudah terlambat?

 

 

Tanpa sadar air mata itu turun, membasahi pipinya dan membuatnya mencengkram erat tangan mungil itu. Taemin dengan lembut merengkuh Minho ke dalam pelukannya dan membiarkan aliran hangat membasahi pundaknya. Selama beberapa menit hanya isak tangis pelan yang terdengar di seisi ruangan itu, dan Taemin membiarkannya. Walau baru mengenalnya, tapi Taemin tahu betapa berat beban yang ditanggung oleh pemuda yang kini menangis di pelukannya… dan ia bersedia menanggung sebgian beban itu dengannya. Ketika akhirnya tangisan itu mereda dan Minho menempelkan dahinya dengan miliknya, Taemin tahu bahwa ia telah ditakdirkan untuk menjadi tempat pemuda itu bersandar.

 

 

“Aku akan pulang…” bisik Minho, “tapi aku harus memintamu untuk ikut bersamaku. Apakah aku meminta terlalu banyak darimu?”

Remaja itu tertegun sebentar namun kemudian senyum lembut itu kembali tersungging.

“Tidak ada yang terlalu banyak, Minho… Kau hanya meminta apa yang kau butuhkan… dan aku bersedia memenuhi permintaanmu itu.”

 

 

Suara lonceng samar yang terdengar dari menara gereja menyeruak di tengah keheningan yang anehnya terasa menenangkan di tengah malam itu, membuat keduanya merasa hangat dalam pelukan masing-masing walau angin semakin kencang bertiup dan membuat kaca-kaca di sekeliling bangunan itu terketuk pelan, karena berbenturan dengan ranting-ranting kering.

“Selamat natal, Choi Minho.”

 

======

A/N:

WEIRD I KNOW @@ onkey’s coming up next!😀

HAPPY CHRISTMAS EVERYONE!!

 

Note: this FF could also be found in Enma D’mightyhyunsaferism;s FB

13 thoughts on “[Fanfic/oneshot] I’ll be Home For Christmas – 2min version (Christmas Fic)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s