[FF/Yaoi/Crack-Drama/PG-13] Harvest Moon Back To Nature chapter 3


Title: Harvest Moon Back To Nature chapter 3

Author: fetishoney

Genre: drama, with some crack (yes, it’s less funnier than before ^^;)

Pairing: OnKey, JongKey, 2Min, ElVin

Disclaimer: I own only the parody, the characters and basic plot belong to Natsume and the artists in this story belong to their company/parents. =P

Rating: PG-13 for swearing

Summary: it’s 15 years later after Jinki left the village. ^^;

quick note:

1) Mas Il-lay-i di sini maksudnya adalah Eli U-Kiss, dan Eli si suster gahar juga maksudnya adalah Eli U-Kiss. Bingung kenapa bisa jadi dua orang? Namanya juga cerita, nggak usah dipikirin.😄

2) Bang Kepin di cerita ini merujuk pada Kevin ZE:A, sementara Mbok Kevin merujuk pada Kevin U-Kiss. So, jangan bingung ya~ ^^

3) Tante Xander di sini berperan sebagai Manna, ibu dari HyunseungMary, penjaga perpustakaan di Mineral Town kalau di game aslinya.😀

oke silakan baca, dan kalau bisa comment yaa~ ^^

.

.

Tak terasa, lima belas tahun pun berlalu dengan cepat…
Kini Jinki telah berumur 21 tahun dan telah lulus kuliah dengan gelar cum laude.

Hari ini di rumahnya tengah diadakan pesta syukuran besar-besaran karena kemarin Jinki berhasil meraih lima gelar bachelor sekaligus di lima universitas berbeda.
“Selamat ya Nak, kamu udah lulus…” Sang mama mencium anak kesayangannya itu dengan penuh haru.
“Makasih ma…” Jinki balas memeluk mamanya. “Papa mana ma?”
“Itu lagi di ruang kerjanya. Kep, panggilin si bapak dong! Kita mo potong tumpeng nih…”
“Siap nyah~” jawab Bang Kepin yang biarpun lima belas tahun telah berlalu namun masih saja menggoda iman.
“Vin, tolong meja prasmanannya ditata lagi. Sebentar lagi acaranya mau dimulai lho..” perintah Mama pada mbok Kevin, yang biar udah tua dan kurus kerempeng, tetap saja cantiknya nggak luntur sampai-sampai pembantu sebelah nyembah-nyembah minta kawin (?)
“Nggih ndoro…” Mbok Kevin mengangguk dalam-dalam dan dengan segera melakukan perintah.

Jinki duduk di pojokan, suasana hari ini rasanya seperti pesta ulang tahun anak kecil digabung dengan kondangan. Para undangan yang nyaris semuanya tidak ia kenal datang membawa kado beserta amplop, kemudian mereka duduk rapi sambil menunggu sang empunya acara muncul. Di sana-sini terlihat rangkaian bunga yang tingginya nyaris setinggi Jinki dengan berbagai ucapan.
Ada yang bertuliskan ‘Selamat atas kelulusannya’, ‘Selamat menempuh hidup baru’, ‘selamat ulang tahun’, ‘selamat atas grand launching saudara Jinki’ sampai tulisan ‘turut berduka cita’. Jinki sendiri bingung, ia harus senang, sedih, atau marah. Akhirnya dia cuma diam di pojokan.

“JINKI MY BROTHER!! GAWAT!!” Tiba-tiba Sang papa lari menghampiri Jinki, napasnya terengah-engah.
“Gawat kenapa pa? Ada meeting ya? Nggak apa-apa kok, pa…”
“BUKAN ITU!” sergah sang papa cepat. “MBAHMU!”
Wajah Jinki langsung memucat. “Kenapa si mbah?”
“Dia… dia… DIA MATI!”

JENGJENGJENGJENG!!!
Tiba-tiba terdengar sound effect entah dari mana.

“Apa? M-mati?!” tanya Sang Mama, tangisnya langsung pecah. Jinki langsung memeluk ibunya untuk menenangkannya, ia berusaha sekuat tenaga menahan airmatanya.
“Iya! Listriknya mati…”
“Yeee….”
“Sak embah-embahnya…” tambah Sang Papa.
“Huwaaaa….” Tangis mama kembali pecah, tapi Jinki udah keburu ilfil mau nangis.
“Mati kenapa Pa?” tanya Jinki.
“Hush Den, ojo mati. Meninggal gitu…” tegur si mbok Kevin yang diikutin mulu 24/7 sama Mas Il-lay-i, suaminya.
“Eh iya, maksudnya mat- ehm.., meninggal kenapa pa?”
“Kesetrum kayanya. Tapi ada yang bilang kena kutuk, ada lagi yang bilang dia jantungan. Mboh lah…” jawab Papa. “Yang jelas dia titip surat wasiat untukmu.”
“Oh. Suratnya mana?”
“Ya di kampung lah, lo pikir babe lu pesulap apa? -___-” jawab sang papa sewot. Padahal tau-tau muncul di atas rumah kakeknya pake helikopter itu lebih dahsyat dari Dapid Coperfield.
“Oh, kirain…”

“Tapi papa udah suruh bang Kepin siapin pesawat supaya kamu bisa langsung ke sana.” kata sang papa sambil mengacungkan telunjuk dan jari tengahnya membentuk tanda peace. “Hebat kan papa?!”
“Suami siapa dulu dong~” kata Mama langsung cipika-cipiki suaminya, dia lupa kalo bapaknya sendiri yang meninggal. “Mampir di Roma nggak?”
“Ya enggak dong ma, kampungmu sama Roma itu jauh. Dasar istri tolol..” Papa mencubit gemas istrinya.
“Oh iya ya? AHahaha.. dasar suami biadab, sembarangan ngatain istrinya. Tapi abis dari kampungku boleh mampir kan?”
“Boleh dong… Apa sih yang enggak buat mama?!” kata papa sambil mengedipkan matanya.
“Aww so sweet~ Makin sayang deh sama duit, eh ahem.., sama papa…” Sang mama langsung memeluk erat suaminya.
Jinki menatap kedua orangtua dengan agak ilfil. Agak-agaknya motif pernikahan mereka sudah terbongkar dengan sendirinya.

“Mas, kapan dong aku diajak jalan-jalan kaya si ibu…?” Mbok Kevin mewek sama suaminya.
“Ntar yo, kalo aku udah berhasil jadi jutawan…” jawab sang suami, Mas Il-lay-i asal. “Tak racun dulu majikan kita baru deh kita kaya…”
“Eh ngomong apa kamu, Lay?” tanya Papa ganas. “Tak pecat kamu sekarang juga.”
“Eh?!? Jangan dong Pak, kan saya cuma becanda..” Mas Il-lay-i langsung panik dan sembah sujud.
“Saya juga cuma becanda. HAHAHA!” Rupanya sang papa mulai terganggu jiwanya, bikin semua orang di sana pengen menyumpah ‘babi rusa’ dan ngejedotin kepalanya ke dinding berduri terdekat.
“Pa.. -___-” Jinki memanggil bapaknya yang masih ketawa kegirangan gara-gara sukses bikin pembantunya lemes. “Jadi aku pergi hari ini juga nih?”
“Iya lah, sana ke depan rumah. Palingan sekarang pesawatnya udah panas, tinggal lepas landas deh.” kata si papa.
“Terus slametannya? Aku nggak usah dateng gitu?”
“Tenang, ada anak kenalan papa…” Sang Papa langsung menjentikkan jari. “Joongki! Come here baby~”

Tiba-tiba di samping papanya muncul seorang pemuda tampan seperti Jinki, hanya saja terlihat beberapa tahun lebih tua.
“Ki, kamu gantiin anak om ya di pesta syukuran ini. Kita ada acara keluarga mendadak nih..”
“Beres om, tenang aja. Serahin sama Kiki…” Pemuda bernama Joongki itu langsung mengacungkan jempol.
“Oke deh, Vivin sayang kamu jaga rumah yang bener ya! Il-lay-i, kalo ada barang yang ilang kamu langsung saya cere sama istrimu, jadi jangan berani macem-macem!” ancam Sang Papa.
“Ampun deh bos..”

“Yuk ma, Jinki, kita cabut…”

Dan keluarga Lee detik itu juga langsung berangkat ke Surakarta dengan pesawat Boeing terbaru mereka.

***

Sementara itu, di desa Mineral, para warga sedang tahlilan di kediaman Mbah Sooman.
Mbah Sooman yang malang, yang baru saja sukses mendirikan SM Entertainment pada 10 tahun terakhir hidupnya, terpaksa harus menghembuskan napas terakhir akibat kecelakaan.
Semuanya berawal pada hari itu, Selasa Wage yang mendung, ketika Mbah Sooman mengintip Dewi yang sedang mandi di air terjun. Niatnya ia akan merekrut sang dewi yang konon cantik jelita itu untuk girl band barunya yang siap debut di Malaysia. Apa daya begitu menoleh ternyata dada sang dewi berbulu.
Mbah Sooman kontan kaget setengah mati dan kumatlah penyakit jantungnya. Mbah Sooman mati di tempat setelah sebelumnay sempat mengambil foto tampak belakang sang dewi sebagai petunjuk pembunuhnya.

“Mbah soomaaaaannn….” Semua anak muda menangisi jenazah mbah sooman yang sudah dikafan. “Kalo Mbah mati kita nggak jadi debut dong? Huwaaaaa…”
“Bangke ayam! Padahal gue udah jual separuh isi kandang ayam demi biaya debut gue, eh dia malah mati..” gumam Jonghyun dengan geram. Tak jauh berbeda dengan dulu, rambutnya dicat pirang dan kupingnya ditindik banyak-banyak, mirip preman di pasar ikan.
“Sabar Bang sabar…” Adiknya, Taemin, yang semakin hari semakin manis dengan rambut pinknya mencoba menenangkan abang satu-satunya. “masih ada tabungan si papa kok buat beli beras…”
“Hurghakagbamvhrkenm…” Jonghyun ngedumel nggak jelas, ia menyumpal mulutnya dengan kue bolu sebanyak-banyaknya hasil ngembat suguhan untuk para pelayat. “Pokoknya nggak mau tau, abang harus debut! Nggak mau tau…”
“Tapi gimana caranya bang?” tanya Taemin. “Aku juga mau debut, biar nggak sia-sia aku latihan chest pop..” Taemin kemudian memperagakan chest-popnya dan sukses mengalihkan perhatian ibu-ibu yang lagi pengajian jadi fedofil.
“Nggak tau Min, mungkin abang mo ngelamar ke JYP entertainment kali ya di Surabaya.”
“Ah jangan bang… CEO-nya jelek kaya gorila, kelakuannya juga kayanya sih nggak jauh beda.” cegah Taemin. “Nggak liat tu Bang Taec yang dipecat malah jadi kuli di pelabuhan? Atau Bang Jay yang malah jadi engkoh-engkoh pedagang obat keliling?”
“Oh iya ya. Nggak jadi deh kalo gitu…” Jonghyun bergidik geli, padahal setiap hari juga dia mainnya sama mereka.
“Gimana kalo DSP aja bang?” Usul Taemin. “Kan ada si Bang Jihu yang main ‘Siapa Takut Jatuh Cinta’ itu…”
“Hmm…, bisa dicoba. Abang mo nyoba MD Entertainment juga ah.”
“Itu bukannya buat sinetron yah?”
“Nggak juga ah, bisa main film juga Min…”
“Ho…”

“Jjong! Lo kalo mo berisik mending pulang dah!” bentak Alexander, ibu dari Hyunseungmary si gadis kutu buku. Ia membetulkan kerudungnya sambil ngedumel. “Kasian gue mah ama emak lo, punya anak berandal kaya lo. Untung masih ada Taemin…”
“HEH! Tante jangan ngejelek-jelekin mama gue ya!” balas Jonghyun. “Gini-gini dia juga yang ngajarin gue binal…”
“Oh.” Tante Xander langsung diam dan mengalihkan pandangannya ke kaca mini yang selalu ia bawa kemana-mana. “Oh my God, I’m a princess…”
“Sa’karepmu lah tan…” gerutu Jonghyun. “Pulang yuk Min, kasian si mama ditinggal di rumah sendiri.” Taemin hanya mengangguk pelan dan mengikuti kakaknya menyeruak barisan muda-mudi yang mempertanyakan masa depannya di hadapan jenazah Mbah Sooman.

Heechulilia, ibunda tercinta Jonghyun dan Taemin, kerapkali menghabiskan waktunya di dalam rumah karena tubuhnya yang lemah. Penyakit asmanya yang tidak kunjung sembuh, ditambah stress akibat sering ditinggal sang suami ke luar kota membuatnya semakin berat menghadapi hidup. Karena itu Heechulilia hanya muncul pada saat tertentu, sepeti misalnya pada acara Gayo Daejun desa di akhir tahun atau setiap hari Rabu sore di klinik dokter.
Seperti biasanya, Heechulilia duduk di dalam rumahnya dan menghabiskan waktunya dengan nonton ‘Cinta Fitri’ dari season 1 sampai season paling akhir, matanya sesekali melirik foto jaman muda suaminya yang dipajang di meja tamu.

“MAMA, SALAMELEKUM, ANAKMU YANG GANTENG PULANG…” teriak Jonghyun sambil mendobrak pintu depan. Dia lupa kalau di dunia ini ada yang namanya kunci.
“Aduh le, Jong ganteng, anak mama nomer wahid, duit kita bisa abis cuma buat perbaikin pintu…” kata Heechul sambil tersenyum keji; Jonghyun buru-buru minta maaf sebelum mamanya yang cantik kaya Taemin itu ngambil pisau daging.
“Ampun mama, nggak lagi-lagi deh..” katanya minta ampun.
“Gimana keadaan mbah Sooman?” tanya Heechul.
“Ya nggak gimana-gimana., dia mati.”
“Innalillahi. Jadi dia mati?!”
“Ya iyalah, kan tadi pamitannya juga buat ngelayat ma. -___-” jawab Jonghyun dengan agak meragukan kecerdasan ibunya.
“Trus kamu nggak jadi debut dong?”
“Arrghh.. nggak tau deh ma! Aku makin stress mikirinnya.”
“Yoda gapapa sih, kamu di sini aja ngurusin ayam-ayam kita.” kata Heechul. “Ntar kalo kamu jadi artis siapa yang ngurusin ayam kita?”

Saat itu, Jonghyun langsung curiga kalau-kalau ibunya terlibat dalam konspirasi pembatalan debutnya.

“Oh iya Taemce sayang, ada surat dari Bang Minho di Jogja.” Ibunda Heechulilia dengan anggun mengambil sepucuk surat dari atas lemari dan memberikannya pada Taemin.
“Ih waaw… ini buat aku Ma?” tanya Taemin polos.
“Iya lah, masa buat abangmu? Tau sendiri, Minho jijik liat rambut Jjong yang kaya hanoman ini. makanya mereka nggak pernah akur kan…” Heechulilia tersenyum manis pada Jonghyun sehingga anak sulungnya itu mau tak mau menahan diri untuk tidak meracunnya saat itu juga.
“Asik..” Taemin dengan girangnya langsung merobek amplop surat dan membaca keras-keras isi suratnya.

“Kepada Adinda Taemin di tempat,
apa kabar adinda di sana? Kakanda harap adinda baik-baik saja dan tidak kurang apapun termasuk keperawanannya…”
Taemin membaca kalimat pembuka surat dengan keras.
“Buset si Minho kok kata-katanya tidak senonoh gitu sih?! Liat aja kalo dia balik, gue hajar dia ampe kapok. Minta dikunciin di kandang ayam rupanya dia…”

“Bagaimana kabar ayam-ayam peliharaanmu, si del piero, kaka, rooney, lampard, klose, messi, dan juga…”
“Udah ah lewatin aja basa basinya!” bentak Jonghyun. “To the point Min!”
“Ih Jonghyun, jangan kasar sama adekmu. Jarang-jarang dia dapet surat dari tunangannya kan!” tegur Heechulilia.
“Lagian mama juga sih, ngapain juga ngejodohin Taemin sama anak tukang ikan itu?” gerutu Jonghyun. “Padahal kan banyak laki-laki lain!”
“Laki-laki emang banyak Jong, tapi yang cocok sama Mince cuma si Minho. Lagian dia tu lumayan sukses lho, dia supplier ikan di Giant ama Hypermart!”
“Tetep aja kan Ma…” Jonghyun mendecak. “Dia jarang dateng ke sini, dia ke sini cuma tiga bulan dalam setaun! Masa mama nggak kasian kalo Taemin ditinggal pergi mulu sama Minho?! Aku nggak tega kalo Taemin ditinggal-tinggal kaya mama!”
Heechulilia diam-diam merasa bangga dan terharu akan perhatian Jonghyun pada Taemin. Nggak disangka biarpun tampang preman gini anaknya itu nggak tega kalo Taemin bernasib sama seperti dirinya yang rajin ditinggal suami.
Bicara suami, ke mana ya suaminya sekarang? Hankyung sudah lima tahun tidak pulang, terakhir kali suaminya itu pamit untuk jadi TKI di Taiwan sekalian mau cari obat untuk dirinya. Tapi sampai sekarang tak terdengar lagi kabar darinya.
Hankyung, oh Hankyung, di mana dirimu yank?
“…selain itu dia juga ngalahin aku di kontes ketampanan! Nggak bisa itu!”
Oh, jadi alasan utamanya itu? Bocah sial. Batin Heechulilia.

“Lanjutin yah baca suratnya?” tanya Taemin.
“Oh iya, lanjutin aja Min bacanya..”

“Bersama surat ini, Kakanda hanya ingin menyampaikan bahwa pada musim panas nanti Kakanda akan datang mengunjungi adinda seperti biasa.” ucap Taemin. Ia kemudian berhenti sejenak, “Ma, musim panas di sini itu kapan?”
“Besok sih kayanya.” jawab ibunya asal.
“Oh…” Taemin kembali menekuni suratnya. “Kakanda akan datang besok, segera setelah musim panas datang. Adinda hanya perlu bilang ingin dibawakan seafood apa, nanti kakanda bawakan. Spesial dari laut selatan. Salam rindu, cup cup wawaw dari Kakandamu, Minho.”

“Minta dibawain lobster Min…” usul Jonghyun. “Lumayan kan agak mahal gitu, bosen juga nih makan ayam mulu.” tambah Jonghyun sambil pasang tampang sengak, seolah dengan makan ayam tiap hari mereka adalah orang kaya.
“Jangan , kepiting aja. Yang gedenya 1,5 meter…” usul Heechulilia.
“Aduh udah jangan berantem dong mama sama abang…” kata Taemin. “Biarin Bang Minho aja yang milih ya…”

“He? Palingan juga ntar dia malah bawa udang rebon. -___-” gumam Jonghyun. Dasar Taemin, semua-semua serba terserah Minho. Dasar Kai Minho!!!

“ADA PESAWAT JATUUUUHHHH….” Tiba-tiba terdengar suara gaduh di luar ketika mereka bertiga sedang asyik berdebat mau minta oleh-oleh apa ke BangKai, eh Bang Minho maksudnya.
“Hah? Bintang jatuh?” tanya Heechulilia bingung.
“Pesawat mah, jauh amat ama bintang. -___- ” jawab Jonghyun. “Aku cek ke luar dulu ya.”

BUMMM!!!!
Terdengar suara berdebam keras dari sebelah rumah mereka, buru-buru Jonghyun lari menghampiri asal suara yang rupanya dari ladang Mbah Sooman yang telah terbengkalai.

“Aduh, udah lima belas tahun nggak ke sini masih aja nggak ada landasan pesawat ya…” gerutu sang mama; ia tidak menyadari bahwa justru aneh kalau di desa sekecil ini punya landasan pesawat. Seluruh tetangga memandangi keluarga Lee yang turun dari pesawat dengan anggun.
“Aduh Kepin.. Lain kali pelan-pelan dong bawa pesawatnya! Nggak usah pake manuver 360derajat ngebentuk tulisan SHINee segala dong! Pusing saya jadinya…” protes Papa.
“Iya maaf Tuan, kebiasaan waktu jadi pilot dulu.” jawab Bang Kepin sambil nyengir, bikin matanya makin ilang.
“Mana mbah Sooman?” tanya Papa pada salah satu ibu pelayat.
“B-baru dibawa ke TPU desa…” jawab sang ibu. “Belum jauh kok, kalo mau disusul nanti saya antar…”
“Mama duluan aja yang ke sana gih,” kata papa pada mama Jinki. “Pak RT mana? Saya mau ketemu sama dia..”
“Pak RT ada di rumahnya, mau saya antar?”
“Oh nggak usah. Ada GPS kok…” Sang papa langsung mengeluarkan GPS dari kantong jasnya dan mengecek lokasi rumah Pak RT. Padahal dari depan rumah mbah Sooman juga keliatan tu rumah. “Oh, tinggal jalan lurus 500meter trus belok kanan dikit. Sip lah… Come on~”

Sang papa bersama Jinki pun langsung berangkat menuju rumah pak RT, sementara Mama menuju TPU dan Bang Kepin… dia sibuk cari parkir buat pesawat.

“APAAN TU?!” teriak Jjong kaget begitu melihat pesawat pribadi di tengah-tengah ladang alm. Mbah Sooman.
“Diliat juga tau kan ini pesawat.” jawab Bang Kep singkat sambil salto turun dari pesawat. Luar biasa emang supir satu ini.
“HE sape lu? Kayanya nggak pernah ngeliat lo di desa ini deh…” bentak Jonghyun (sok) galak. Dengan gaya jalan ala yakuza ia pun menghampiri pria berambut pirang jabrik yang antingnya mirip Jaebum.
“Let me introduce myself, I’m Kim Kevin, driver of Lee’s family.” Bang Kepin menjulurkan tangannya menyalami Jonghyun yang cengo begitu dia ngomong bahasa inggris. “Lulusan Monash university di Australia, punya lisensi menyetir mobil, motor, truk, pesawat, helikopter, kapal, dan roket.” imbuhnya lagi.

Buset. Ini supir? Batin Jonghyun dalam hati. Gue aja cuma bisa naik sepeda ama traktor!
“Oke.. tapi bang, ini ladang punya alm Mbah Sooman, bukan tempat parkiran. Kasian itu tanemannya kelindes roda pesawat.” kata Jonghyun sambil menunjuk tanaman orange cup empat musim hasil inovasi Bang Jay. “Mahal loh itu.”
“Oh nggak masalah. Soalnya ini kan pesawat punya menantunya sendiri. Kami datang ke sini karena katanya Mbah Sooman nitip surat wasiat buat cucu satu-satunya Jinki.”
“Cucunya? Jadi lo supirnya si Jinki itu?” Jonghyun kaget sendiri. Mendadak ia teringat kejadian lima belas tahun yang lalu, di mana setelah ia melihat Jinki terjun bebas dan kelelep di sungai, ia memutuskan untuk langsung pulang ke rumah dan pura-pura lupa. Ia kira Jinki sudah almarhum saat itu juga, soalnya Kibum nangis tujuh hari tujuh malam nggak berhenti. Tak disangka-sangka rupanya Jinki masih hidup?
“Iya. Kenapa? Ganteng yak?” Bang Kepin langsung tebar pesona; disibakkannya rambut blonde jabrik miliknya dengan penuh gaya–berharap ada satu-dua ibu yang kecantol sama dia.
“Ih, najis.” gumam Jonghyun. “Oke yaudah deh ya, thanks for the info. Daahh~” Jonghyun langsung kabur ke rumahnya. “Gawat, aku harus susun rencana…” gumamnya.

***

“Akhirnya datang juga.” sambut Pak RT yang memakai topi tinggi kaya salah satu personelnya Infinite. “Silakan masuk…”
Jinki dan papanya pun masuk ke rumah Pak RT yang sangat sederhana dari luar namun high-class di dalam.

“Perkenalkan saya Pak RT di desa ini, sekaligus Pak RW, Lurah dan Camat plus kepala desa…” kata Pak RT memperkenalkan diri. “Nama saya…..”

“Ah udah nggak usah basa-basi! Cepat serahkan surat wasiatnya, saya ada meeting jam 3!” kata Sang papa.
Sang Pak RT langsung mingkem. “Iya iya, nggak sabaran banget sih.” Pak RT kemudian memberikan sebuah surat kepada Jinki dengan muka cemberut.

“Kepada cucu tersayang, Jinki pLee,
saat kamu menerima surat wasiat ini pasti mbah sudah almarhum, entah karena apa,
tapi mbah tidak bisa membiarkan SM Entertainment beserta ladang mbah begitu saja, karena itu jika mbah mati nanti, seluruh bagian rumah dan ladang mbah akan mbah hibahkan kepadamu…”

“Wedew, kamu dapet warisan tanah 6 hektar!” Sang papa langsung towel-towel Jinki. “Lumayan tuh…”
“Ssstt ah, belum selesai nih suratnya.” Tegur Jinki seraya membetulkan letak kacamatanya. “…selain itu mbah juga mempercayakan SM Entertainment kepadamu, tolong jaga jangan sampai SME hancur berantakan. Mbah nyangkul 5 hektar tanah setiap hari demi ngebangun SME, kalo kamu kasian sama mbah mbok ya tolong, bilang sama bapakmu itu utangannya nggak usah pake bunga…”

“Gimana pa?” Jinki melirik papanya.
“Err… ya udah deh itung-itung amal sama mertua sendiri.” Kata sang papa setengah nggak rela.
“…makasih ya Jinki,” Jinki terdiam sejenak ketika melanjutkan baca suratnya. Kok si mbah udah nulis makasih aja di suratnya? Kayanya dia tau kalo permintaannya bakal dikabulin. “Oh iya, sebagai rasa terima kasih mbah, mbah akan ngasih petunjuk tentang Kibum yang dulu kamu taksir itu.” Jinki langsung deg-deg syur membaca surat dari Mbahnya itu. “Kibum yang kamu maksud itu sekarang ada di…”

“Lho kok halaman berikutnya ilang?” Jinki dengan panik membolak-balik lembaran-lembaran surat itu. “Lanjutannya mana nih?”
“Oh ilang yah? Aduh, jangan-jangan dipake main sama si Dongho…” gumam Pak RT.
“What tje fuk?! Siapa itu Dongho?!” Tanya Jinki berapi-api. Lagi seru-serunya baca surat, eh lanjutannya ilang. Ini sama aja kaya lagi seru-serunya baca komik eh tau-tau bersambung.
“A-anak tetangga sebelah, adeknya Eli, si suster gahar.” Jawab Pak RT takut-takut. “Bentar yo, tak panggilke anaknya dulu.”

Beberapa menit kemudian Pak RT datang membawa bocah kecil bermodel rambut batok. “Dong, tadi kamu main-main di rumah Pak RT kan? Ngambil kertas ndak?”
“Iya, tadi kan aku wes bilang sama pak RT, minta kertas buat bungkus pecel-pecelannya Sohyun. Trus kata pak RT ambil aja di meja, yo wes aku ngambil sendiri deh…” jelas bocah kecil yang udah ditindik itu. “Emang kenapa tho?”
“Gini Dong, kethoke yang kamu ambil tu surat warisan dari mbah Sooman buat putune, si mas Jinki ini…” jelas Pak RT, nggak berani nengok ke belakang karena Papa Jinki udah mulai nelpon toko pisau dan nanya-nanya harga.
“Oalah… kalo mau sih masih ada kertasnya…” kata Dongho.
“Yang bener?! MANA?!” Jinki langsung sumringah.
“Tapi udah belepotan telek nggak apa-apa?”
“Errr… ya udah deh nggak apa-apa.” Jawab Jinki setengah hati.
“Tapi udah dipotong-potong sama udah lecek juga. Masih mau?” Tanya Dongho lagi.
“Masih bisa dibaca kan? Ya udah lah nggak apa-apa.” Jawab Jinki putus asa, mulai meragukan niat Dongho untuk ngasih kertasnya.
“Bentar ya…” Dongho lari keluar dan 10 detik kemudian balik lagi sambil membawa sesuatu berwarna coklat-putih dan dilalerin. “Nih!” Ia memberikan potongan kertasnya pada Jinki.
Jinki pun mengambilnya dengan tampang pengen nangis, agak nggak sudi tangannya ternoda oleh entah kotoran apa ini. Padahal dulu waktu kuliah juga dia sering berkutat dengan objek yang dimaksud, secara dia punya gelar sarjana peternakan gitu. Dengan hati-hati ia pun membolak-balik potongan kertas itu, namun sayang di potongan kertas itu tidak ada lanjutan kalimat sebelumnya.

“Enggg… dek, ini nggak ada lanjutannya lagi?” Tanya Jinki, setengah berharap.
“Ada, tapi udah dimakan sama kambing kakeknya Sohyun~” jawab Dongho cuek. Kalo nggak inget anak orang, rasanya Jinki pengen cubit pipinya keras-keras saking gemes dan keselnya (apalagi bocah di depannya malah joget Man Man Hani) tapi berhubung hal itu tidak sesuai dengan UU Perlindungan Anak, maka diurungkanlah niatnya.
“Y-ya udahlah Jinki, nanti kalo ada hal-hal yang kurang jelas di surat wasiat, bisa langsung ditanya ke saya. Pokoke, intinya si mbahmu nyuruh kamu ngebenerin ladang dan SME-nya dalam waktu 3 tahun.”
“Tiga tahun?!” Sang papa terlihat kaget. “Berarti Jinki harus tinggal di sini dong?”
“Ya iyalah.”
“Nggak apa-apa Pa,” kata Jinki. “Lagian aku juga udah janji bakal balik lagi ke sini buat Kibum. Papa inget kan?”
“Oh iya…” Sang papa mencoba mengingat-ingat. “Yang dulu pake adegan nangis-nangisan segala itu ya?”
“Iya yang itu…”
“Hmm… oke deh. Berarti kamu nggak ikut pulang ya?”
“Nggak pa, aku harus tinggal di sini.” Jawab Jinki mantap.
“Ya udah kalo gitu. Makasih ya Pak RT atas bantuannya, tolong selama di sini Jinki dibantu ya… Saya mau pamit dulu.”
“Oh iya. Sama-sama Pak…” Pak RT menyalami papa Jinki.
“Dah Jinki, Papa pulang dulu ya~” Sang Papa melambaikan tangannya dan pergi keluar, di mana Bang Kepin langsung menjulurkan tangga tali yang sangat panjang supaya Sang Papa bisa naik ke atas pesawat.

“Jadi mulai sekarang kamu tinggal di sini ya.” Pak RT menepuk bahu Jinki. “Kalo ada apa-apa bilang sama saya aja, termasuk kalo mau bikin KTP wilayah sini atau kalo ada telepon.”
“Iya Pak, makasih banyak ya. Maaf ngerepotin.”
“Ah nggak ngerepotin kok, udah tugas saya sebagai ketua RT, RW, lurah, camat, dan kades di sini. Eh Dongho, ngapain kamu masih di sini? Sana pergi main lagi…” tegur Pak RT. Dongho merengut dan pergi. “Ngomong-ngomong nih, mau saya anter jalan-jalan keliling desa ora? Sekalian kenalan sama penduduk desa…”
“Oh boleh, tapi kayanya hari ini saya capek banget deh. Masih jet lag kayanya, gimana kalo besok pagi aja?” kata Jinki sambil meregangkan otot-ototnya, padahal Jakarta sama di situ kan nggak ada perbedaan waktu.
“Oh iya nggak masalah. Besok tak jemput ke rumah jam 6 ya.”
Jinki mengangguk. “Kalo gitu saya pamitan dulu ya pak. Assalamualaikum.”

Jinki melangkah keluar rumah pak RT, dihirupnya udara segar desa itu dalam-dalam.
Mulai hari ini, desa ini akan menjadi rumahnya. Kibum, sekarang aku sudah menepati janjiku untuk kembali dan tidak pergi lagi. Lihat saja, akan kutemukan dirimu.

Berhasilkah Jinki menemukan Kibum? Bagaimana hidup Jinki di desa Mineral?
Bersambung dulu lah…

4 thoughts on “[FF/Yaoi/Crack-Drama/PG-13] Harvest Moon Back To Nature chapter 3

  1. uwah~~~
    akhirnya minho nongol juga..
    kekekeke~~ tapi kok cuma secuil yak?!? *banyak maonya*

    jinki..jinki..lo kepinteran apa gimana sih?
    ampe kuliah di 5 universitas?!?! & di umur 21 udah lulus.
    canggih bgt dah jinki!!

  2. jujur saya baru mampir ke ini blog,
    tapi serius pertama liat ff ni ngakak gag ketulngan,, wkkw,
    lucu sangat dah,,
    pemain nya udah lengkap semua ni,,
    ayo lanjut ya,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s