[FF/Oneshot/Yaoi/PG-13] Home – 2min Couple


A/N:
Karena adanya rikues dari Agnes Mvp Taemin aka Agnes, maka author kembali membuat oneshot 2min~ (not that author mind actually). TBH, tadinya aq bingung mau bikin 2min fluff yang gimana lagi tp aq inget ada satu oneshot 2min aq yang belom ditulis kelanjutannya yaitu “A Birthday to Remember” yg jg adalah seri kedua dari “To My Lovely Taemin”. Agak beda dengan dua seri sebelumnya yang satu ini ditulis dalam bahasa Indo karena rikues juga… kalo ada yang mau trenslet ke Inggris juga boleh siih *lirik-lirik ji yul*.
Ji Yul:: “apaan sih bawa-bawa gue… *plak*”

========

“Aku pulang!”
Lee Taemin menutup pintu dorm dan melenggang masuk ke dalam setelah mengucapkan salam. Ia melempar tas punggungnya ke atas sofa dan tak berapa lama kemudian ikut menghempaskan tubuhnya ke sebelah benda berwarna biru itu dengan sikap lelah. Berada 8 jam di ruang kelas sungguh merupakan sebuah siksaan terutama untuk remaja yang sama sekali tidak punya waktu luang seperti dirinya. Segala perhatian dan perlakuan yang didapatnya di tempat itu tidak juga membuatnya merasa lebih baik. Terlebih ketika Minho masih berada nun jauh di seberang benua sana, sekali lagi atas nama pekerjaan.

Bibir kecil milik remaja itu mengerucut sedikit, dalam hati merasa kesal karena sudah hampir tiga minggu Hyung kesayangannya tidak juga menelepon atau memberi kabar kapan ia akan pulang. Scrapbook atau pesan yang direkam dalam tape ataupun DVD juga tidak pernah lagi dikirim. Taemin khawatir sekaligus rindu pada pemuda berusia 19 tahun yang kini masih berada di Kanada tersebut. Kadang ia ingin sekali menghubungi Minho tapi dengan susah payah berusaha ditahannya. Ia tidak ingin mengganggu konsentrasi Hyung nya, namun toh lama kelamaan Taemin tidak bisa menyembunyikan kegundahannya. Taemin meraih bantal kecil yang terletak tidak begitu jauh di sisi kanannya dan membenamkan wajah ke dalam benda empuk tersebut.

“Baby, kapan kau pulang?” panggil Key yang tiba-tiba muncul dari arah dapur. Sore itu ia mengenakan celemek pink di atas baju santainya “Hey, ada apa?”
Dengan wajah cemas karena melihat kondisi “anak” kesayangannya yang dikelilingi aura gelap dan suram, ia menghampiri Taemin dan duduk di sebelahnya. Baru saja si pemilik rambut yang kini kembali berwarna coklat tersebut menempatkan dirinya di atas sofa berlengan itu, Taemin dengan cepat merebahkan kepala di pangkuannya.
“Umma…” gumamnya, “kapan Minho Hyung pulang?”

Gerakan tangan Key yang tadi sedang mengelus lembut rambut tebal Taemin terhenti. Sambil menghela napas, ia menatap wajah sendu di bawahnya dengan prihatin. Sejujurnya Key sudah bosan ditanya mengenai hal yang sama dari hari ke hari, tapi ia bisa mengerti. Ia masih ingat pernah bertingkah laku nyaris sama seperti magnae SHINee ini ketika Jinki terlalu sibuk berlatih untuk drama musikalnya, malah lebih parah. Jonghyun hampir kehilangan nyawa terkena mangkok besar yang dilempar dengan tepat ke wajahnya oleh Key; hanya karena si Bling-bling itu meledeknya mirip dengan perempuan yang sedang PMS.

“Taemin ah, kau tahu Hyung mu sedang bekerja kan?” tanya Key lembut, “jadi kau tidak boleh membuatnya khawatir dengan bersikap seperti ini.”
Yang ditanya membisu, namun tidak lama karena kemudian ia kembali angkat bicara; kali ini dengan nada yang sedikit tinggi.
“Tapi paling tidak kan dia bisa memberitahukan keadaannya di sana padaku…atau pada Umma, atau Jinki appa, atau Jonghyun hyung! Minho Hyung tidak pernah tahu, hampir setiap malam aku tidak bisa tidur karena menunggu telepon darinya… lalu…” Taemin mengeluarkan uneg-unegnya.
Key hanya mendengarkan sambil sesekali menganggukkan kepala dan tersenyum maklum. Sang magnae memang tergolong manja jika sudah menyangkut hubungannya dengan Minho.

“Umma, apa Hyung menganggap aku tidak lebih penting dari pekerjaan?” tanya Taemin sambil mendongak memandang Key. Pemilik bibir tipis itu semakin iba ketika ia melihat kedua mata Taemin berkaca-kaca.
“Yah, kau jangan berkata begitu. Walau bocah kurang ajar itu sering membuatku kesal tapi aku yakin dia pasti juga memikirkanmu di sana. Mungkin dia terlalu lelah jadi tidak sempat menghubungimu untuk sementara waktu.” bujuk Key, “Nanti kalau dia telepon, Umma akan bilang padanya kalau kau kangen.”
Wajah Taemin memerah.
“Si,siapa? Aku tidak pernah bilang begitu!” bantahnya, sedikit terbata.

Key tertawa kecil seraya mencubit pelan pipi yang warnanya sudah mirip tomat itu.
“Baiklah, baiklah aku tidak akan bilang apa-apa. Sudah sana, cepat mandi dan ganti baju. Umma sudah siapkan makanan kesukaanmu untuk makan malam.” ujarnya seraya mengulurkan tangan untuk membuka blazer tebal yang membungkus tubuh kurus Taemin.
Ia tersenyum senang ketika remaja itu menjawab dengan riang dan berjalan menuju kamarnya dengan suasana hati yang sedikit lebih baik daripada beberapa menit yang lalu. Walau begitu senyum itu menghilang perlahan ketika percakapan mereka tadi kembali diingatnya. Sungguh ia tidak suka jika mood Taemin sedang tidak baik seperti sekarang ini, karena selain ia sudah menganggap sang magnae sebagai “anaknya” sendiri hal ini juga dapat mengganggu jalannya latihan rutin yang harus mereka lakukan setiap akhir pekan.

Ini tidak bisa dibiarkan, batinnya. Sudah sejak awal rencana ini ditolaknya begitu bocah bernama Minho itu mengemukakan ide ini kira-kira sebulan yang lalu, tapi toh ia berhasil meyakinkan Key untuk bekerja sama dengannya. Aisssshh, awas kau bocah tengik! desisnya. Ditekannya sebuah nomor yang tersimpan dalam phonebook dan ditempelkannya alat komunikasi elektronik itu ke telinganya.
“Choi Minho, sebenarnya aku ingin sekali membunuhmu saat ini tapi demi Taemin aku tidak akan melakukannya,” ujar Key dingin segera setelah si empunya nomor menjawab teleponnya, “Sekarang dengarkan aku baik-baik…”

***

++ Keesokan paginya ++

Taemin memandang dapur dorm mereka dengan tidak percaya. Ia baru saja bangun dari tidurnya (yang masih tidak nyenyak) karena dibangunkan oleh suara Key yang sedikit terlalu riang beberapa saat yang lalu dan di”paksa” untuk ikut ke area keramat milik The Almighty Umma tersebut. Matanya yang besar menjelajahi bahan-bahan masakan yang tertata rapi di atas meja.
“Umm, Umma kenapa hari ini masaknya banyak sekali? Memangnya di dorm kita mau ada pesta?” tanyanya polos.
Key yang sedang mengikat tali celemek di dekat counter hanya tersenyum dan tidak menjawab pertanyaan tersebut. Ia malah mengangsurkan celemek berwarna orange segar pada Taemin yang menerimanya dengan bingung.
“Kau tahu kenapa aku ada begitu banyak bahan masakan di sini?” tanyanya tanpa menghiraukan kebingungan tersebut, “Lee Taemin, hari ini Key Umma akan mengajarimu memasak!!”
“EHHH??!!”

Kedua mata besar Taemin semakin membesar dan mulutnya ikut membuka lebar mendengar jawaban bangga tersebut. Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba Key ingin mengajarinya memasak??
“Ta,tapi Umma…” katanya, “hari ini kan kita harus berlatih untuk…”
“Ahh tidak usah khawatir soal itu!” potong Key seraya tersenyum lebar, “Jinki appa sudah bicara dengan manager hyung dan hyung-nim setuju untuk menggeser jadwal latihan sampai minggu depan!”
“Tapi…”
“Aku tidak mau dengar alasan apapun!” potongnya lagi tegas, “Pokoknya kau harus belajar menjadi istri yang baik! Nah ayo kita mulai pelajaran hari ini!!”

Dan akhirnya Taemin hanya bisa pasrah dan menuruti perintah yang diberikan padanya. Maka dimulailah perjalanan Lee Taemin menjadi seorang Ibu rumah tangga yang pintar memasak…

++ Malamnya ++

Taemin menghempaskan tubuhnya di atas kursi. Tubuhnya serasa mau rontok, setiap sendinya pegal, matanya juga sejak tadi berair. Belum lagi dengan wajahnya yang sejak tadi sudah dihiasi keringat dan berminyak di beberapa tempat. Bajunya yang tadi pagi lumayan rapi kini sudah lusuh, dan menempel di punggungnya; beberapa bercak bumbu tampak di beberapa bagian kaos itu. Ia nyaris menangis ketika kedua jarinya yang dibebat oleh perban (akibat tergores pisau favorit milik Key) tidak sengaja tertekan ketika ia menggenggam gelas berisi air putih di atas meja makan.

Sang umma sudah sejak tadi pamit untuk pergi makan malam dengan Jinki appa. Dengan wajah tidak bersalah, ia berpesan pada Taemin untuk menyelesaikan masakannya dan meletakkannya di atas meja jika sudah matang. Remaja itu menggerutu dalam hati. Ia masih dendam jika mengingat apa yang terjadi seharian ini dan teriakan-teriakan Key padanya.
“Taemin, jangan potong sayurannya terlalu besar! Kau mau suamimu mati tersedak, hah?!”
“Yah, bukan begitu caranya memecahkan telur! Jangan dipukul terlalu keras atau kulitnya akan hancur dan isinya akan menghambur keluar! Aish!!”
“Taemin, potong dagingnya tipis-tipis! Jangan terlalu besar!”
“Taemin, kecilkan apinya sedikit atau kuahnya akan kering!”
“…Kau berniat menghabisi nyawa suamimu ya? Mana bisa kau memasukkan bumbu pedas dua sendok makan sekaligus ke dalam sup?!”

Taemin hanya bisa menggigigt bibir menahan tangis selama waktu-waktu yang menyiksa itu. Ia sungguh tidak mengerti mengapa istri leader SHINee tersebut tidak bisa ditebak pemikirannya. Tiba-tiba saja ia yang biasanya begitu lembut dan memanjakan Taemin , tadi bisa berubah menjadi menyeramkan. Lagipula apa tujuannya mengajarinya memasak?? Selama hidupnya, Taemin hanya bisa membuat ramyeon dan ddeokbokki , itupun dengan kemampuan yang pas-pas an. Ia menatap berbagai masakan di atas meja yang sudah dihidangkan sesuai pesan Key sebelum ia pergi. Makanan sebanyak ini siapa yang mau habiskan??

Remaja berwajah manis itu menghembuskan napas pelan dan merebahkan kepalanya di atas lengannya yang kecil. Biasanya di saat-saat seperti ini ada minho yang bisa menenangkan dirinya. Pemuda tinggi itu pasti akan tertawa kecil, lalu tanpa berkata apapun juga ia akan membuka kacamata yang dikenakannya dan menepuk tempat kosong di sebelahnya di tempat tidur bersama kepunyaan mereka.Taemin tersenyum samar membayangkan ia dipeluk oleh Hyung favoritnya itu…
Tapi sepertinya ia harus menunggu sedikit lebih lama untuk kembali merasakan semua itu karena Minho masih belum jelas kapan kembalinya.

Entah untuk yang keberapa kalinya, Taemin mengeluh. Dengan ragu, ia membuka flip handphone nya dan berniat menekan nomor yang sudah dihapalnya di luar kepala namun sebentar kemudian ia kembali menutup flip berwarna fluorescent blue tersebut. Tidak bisa, tekadnya. Ia harus bisa kuat dan belajar untuk tidak terlalu bergantung pada Minho. Dirinya bukan anak kecil lagi dan ia harus sadar bahwa semua yang dilakukan Minho juga karena tanggung jawabnya sebagai salah satu anggota SHINee. Taemin terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri hingga tanpa sadar ia tertidur di meja yang penuh dengan hidangan itu…

***

Taemin membuka mata perlahan dan mengangkat tubuhnya untuk duduk. Sambil menguap lebar dan merentangkan tubuhnya ia dengan cepat sadar bahwa ia ketiduran, namun dahinya berkerut ketika ia ingat berada di meja makan sebelumnya. Lalu bagaimana mungkin ia bisa berada di sofa, dengan selimut tebal membungkus tubuhnya seperti ini? Tambah lagi lampu yang biasanya menerangi ruang tamu itu kini dimatikan, dan hanya seberkas cahaya lemah terpancar dari lampu meja di pojok ruangan. Apa mungkin Key umma dan jinki appa sudah pulang? Atau mungkin Jonghyun hyung? Tapi kenapa mereka tidak membangunkannya? Sebuah kemungkinan menyeramkan melintas di otak Taemin dan membuat remaja itu pucat pasi. Bagaimana kalau ternyata dorm mereka dimasuki pencuri? Dan apa jadinya jika pencuri itu masih ada di dalam situ dan melihat ia terbangun??

Jantung Taemin serasa berhenti ketika dua lengan merengkuh tubuhnya dari belakang dan memeluknya erat. Ia sudah hampir berteriak kencang ketika pemilik lengan itu bersuara,
“Hello Baby, miss me?”
Serta merta Taemin tertegun. Suara itu… Lengan ini… Minho Hyung…
“Yah, dasar tidak sopan. Aku bertanya apa kau rindu padaku tapi kau malah diam saja.” goda suara itu lagi, yang sudah jelas adalah milik Minho.
Pertanyaan itu tak juga terjawab, karena Taemin menundukkan kepala; berusaha menyembunyikan kedua manik yang kini sudah digenangi air mata. Akan tetapi Minho akhirnya mengetahuinya ketika tubuh mungil itu terguncang pelan dan perasaan bersalah memenuhi dada pemuda itu.

“Mianhae,” bisiknya sambil mengencangkan pelukannya, “maaf aku tidak menghubungimu belakangan ini… Aku menyesal.”
“…Jahat… Kau jahat, Hyung!” isakan Taemin semakin keras terdengar di tengah kesunyian di ruang itu.
“Sssshhh, arasseo arasseo…” Minho memutar tubuh hingga menghadap dongsaeng tercintanya, “Kau boleh pukul aku kalau kau mau. Silakan.”
Pemuda itu menunjuk-nunjuk pipinya sambil berusaha menahan senyum sementara Taemin mengangkat wajah dan menatapnya kesal. Ia mendorong dada bidang Minho kuat-kuat namun apa daya tenaganya tidak sebanding dengan yang dimiliki pemuda berambut panjang itu jadi tubuh Minho hanya bergerak sedikit saja.

“Kau MENYEBALKAAAAN!!!” pekiknya. Taemin mengarahkan kepalan tangannya lagi ke arah dada Minho kali ini untuk memukulnya namun pemuda itu dengan cepat menangkap tangannya dan menariknya hingga tubuh Taemin terhempas kembali ke dalam pelukannya.
“Lepaskan aku!! lepaskan!” jerit Taemin sambil berusaha melepaskan diri, “ Apa kau tahu, aku tidak bisa tidur tiap malam karena mengkhawatirkanmu! Dan, dan… aku juga tidak tahu harus bicara pada siapa tentang kejadian menyebalkan di sekolah! Setiap hari, aku selalu bertanya pada semua orang di dorm ini apa ada telepon darimu atau apa ada paket untukku. Aku sudah hampir gila, Hyung! Apa kau tahu bagaimana rasanya?!”

Minho tidak menjawab. Ia hanya tersenyum lembut mendengar ungkapan kekesalan Taemin. Jet lag yang tadi masih dirasakannya kini menghilang entah ke mana. Ia tidak bisa menjelaskan betapa bahagianya ia kembali ke rumah, ke tengah teman-temannya dan terutama kembali pada makhluk manis di antara rengkuhannya yang air matanya mulai membasahi bagian depan kaos ungu yang dikenakannya.
“Kau memang pantas membenciku,” ujarnya pelan, “dan aku sudah siap dibenci olehmu karena sejak awal aku tahu bahwa rencanaku ini memang sedikit… gila.”
Taemin mendongakkan kepala.
“Rencana?” ulangnya bingung. Minho mengangguk.

“Aku ingin memberi kejutan di hari kepulanganku jadi aku sengaja tidak menghubungi selama beberapa waktu.” jelasnya. Bahkan awalnya aku ingin membuat pertemuan kita lebih dramatis jika saja Key tidak mengancam akan memotong… Minho bergidik mengingat ancaman yang dialamatkan padanya waktu itu.
“Jadi ini semua bagian dari rencanamu?! ehhh, tapi Hyung kenapa tiba-tiba Umma menyuruhku belajar memasak? Apa ini masih ada hubungannya denganmu?” tanya Taemin curiga.
“Kalau ituuu,” Minho menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “itu murni idenya. Mungkin dia ingin kita makan diterangi cahaya lilin dan sebagainya. Entahlah; isi kepalanya hanya dia, Jinki Hyung, dan Tuhan yang tahu.”

Mau tidak mau Taemin tertawa geli melihat ekspresi wajah Hyung nya, namun ketika Minho ikut tertawa tak lama kemudian remaja itu melempar selimut tebal yang tadi menutupi sebagian tubuhnya ke wajah Minho.
“Aishh, aku tidak menyangka kalian begitu tega mengerjaiku!” desis Taemin kesal, “Yah, karena kau sudah membuatku kesal sekarang aku ingin kau memakan semua masakan yang tadi sudah kubuat dengan susah payah!”
“Hmmm… jadi itu hukumanmu untukku?” goda Minho, “Aku memang sedang lapar tapi… aku tidak ingin makan makanan biasa.”
Dengan tatapan penuh makna yang mampu membuat gadis manapun bertekuk lutut, pemuda itu mendekatkan mulutnya ke telinga Taemin dan berbisik,
“Aku ingin menyantapmu.”
Spontan Taemin tersentak dan rona merah kembali mewarnai wajah manisnya. Secara refleks, ia menarik selimut yang ada di pangkuannya sampai ke leher, seakan kain tebal itu akan mampu melindunginya dari “serangan” Minho.

“K,kita belum bisa melakukan… hal itu!” remaja itu tergeragap, “Umma akan membunuhmu kalau sampai dia tahu! Aku tidak mau kau mati, Hyung!”
Minho tertawa lebar seraya mengacak-acak sayang rambut coklat Taemin. Ia lega mendapati dancer utama grupnya itu sudah kembali seperti semula; pemalu dan yang pasti begitu peduli padanya.
“Yah, aku cuma bercanda. Sudahlah, aku akan menghangatkan semua makanan itu dan membawanya ke sini. Kita makan bersama saja. Sudah lama aku tidak menyuapimu.” ucapnya.
“Hyuuung, aku bukan anak kecil yang harus disuapi kalau makan!” gerutu Taemin sambil menyilangkan lengan di depan dada, “Haaaah, sudah menghilang tanpa kabar, mengerjaiku sampai menangis, masih saja menggodaku! Harusnya kau berterima kasih aku tidak memukulmu sampai pingsan! Awas kalau kau berani melakukannya sekali lagi! Akan aku…”

Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Taemin merasakan punggungnya terhempas ke sofa di belakangnya dan matanya membelalak ketika Minho dengan cepat menempelkan bibirnya dengan miliknya. Awalnya ia terlalu terkejut untuk bereaksi namun akhirnya ia tidak memerlukan waktu terlalu lama untuk membuat bibirnya bergerak dengan sendirinya, merespon ciuman pemuda yang lebih tua seraya mencengkeram salah satu lengan kokoh yang terentang di antara tubuhnya.
“Aku merindukanmu, Hyung…” akhirnya Taemin membisikkan kata-kata yang sudah sejak tadi ingin dikatakannya.
“Jinjya?” Minho tertawa pelan, “Sekarang kau tidak perlu lagi merasa seperti itu. Aku sudah pulang, Taemin…”

***

“Ssssst, pelan-pelan Jagiya nanti mereka terbangun!”
“Aku tidak peduli! Dasar bocah tidak tahu diuntung!” desis Key, “Seharusnya mereka bereskan dulu piring-piring ini sebelum mereka tidur! Apa mereka tidak tahu kalau mencuci piring di atas jam sembilan malam bisa membuat kulit tangan cepat keriput?!”
Jinki mendesah dan menggelengkan kepala. Di depannya, tepat di sofa ruang tamu yang hanya diterangi cahaya minim itu nampak dua anggota termuda SHINee. Keduanya terbungkus selimut tebal dan sudah jelas mereka tertidur pulas sambil berpelukan. Piring bekas makanan yang tadi dimasak Taemin terhampar begitu saja di atas meja kaca. Sambil tersenyum lebar, ia memperhatikan Key yang masih sibuk mengeluarkan omelan serta ancaman pada Minho karena telah membuat kulitnya terancam kehilangan kehalusannya. Tampaknya kekasihnya tercinta itu termakan siasatnya sendiri.

Yaaa, paling tidak sekarang Taemin tidak akan sedih lagi, pikirnya. Sementara untuk urusan Key, hanya Jinki yang tahu cara mendiamkan serentetan makian yang keluar dari bibir tipis itu.

=========
THE END

20 thoughts on “[FF/Oneshot/Yaoi/PG-13] Home – 2min Couple

  1. keren ceritanya, tapi jonghyun agak kasihan juga yaa dari semua ff yang gue baca jonghyun jarang dapet bagian besar hihihi, haaash! yg penting 2MIN lah ya ^^

  2. Hyy ku readers bru niech🙂
    critanya cru tp kq gag da nc..
    Pdhal pas d sofa td bs lnjt k nc..
    Saat ku bc rasanya gemana gto..
    Bingung mw ngucpin yg gemana..^^v

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s