[FF/threeshots/Yaoi/PG 13] The Doll Maker part 2 {Yunjae couple}


“…Gomawo…” balasnya lirih. Diam-diam sebuah perasaan yang sudah lama tidak dirasakannya sejak kematian ayahnya kini hadir kembali di hatinya, dan malam itu saat Yunho mengawasi Jaejoong yang menyantap hidangan yang tersaji di atas meja sambil berceloteh riang, pemuda itu tahu ia telah jatuh cinta padanya.

***

Paris, 20 September 2009
7.45 PM

Jaejoong membuka pintu apartemen kecilnya dengan satu tangan sementara tangannya yang satu memegangi kantung belanjaan berwarna coklat. Sesampainya di dalam, tangan kurus namun panjang itu secara otomatis meraba-raba dinding di sebelah pintu untuk mencari sakelar lampu. Segera ditekannya sakelar itu dan pemuda itu nyaris saja melempar kantung belanjaannya ketika ia melihat Yunho duduk di atas tempat tidurnya.
“Yu, Yunho! Kau hampir saja membuatku kena serangan jantung!” pekiknya sambil berusaha menenangkan dirinya. Yunho mengangkat sebelah alisnya dan berdiri untuk menghampiri Jaejoong.
“Kenapa? Memangnya aku tidak boleh datang ke tempat pacarku sendiri?” tanyanya, tajam. Kening Jaejoong berkerut sedikit mendengar nada suara itu. Ia tahu ada sesuatu yang tidak beres pada Yunho namun sebelum is sempat berpikir lebih jauh, kekasihnya itu telah merengkuh tubuhnya dan memeluknya erat.
“Kuliahmu selesai jam 5 kan? Kenapa kau baru pulang semalam ini? Kemana saja kau, dan…” Yunho megencangkan pelukannya, “dengan siapa kau pergi?

Jaejoong mengeluh dalam hati. Sejak hari pertama mereka berdua memutuskan untuk menjalin hubungan, hanya sifat inilah yang paling dibencinya dari Yunho; kecemburuan yang terlalu berlebihan hingga membuat dirinya tak bebas bergerak ataupun bergaul sedikitpun. Jaejoong berusaha untuk mengerti kekurangan Yunho yang satu ini, tapi akhir-akhir ini sifat cemburu dan posesif kekasihnya itu telah melampaui batas yang menurutnya tidak seharusnya dilanggar.
“Yun, sudahlah…” ujarnya lelah seraya melepaskan diri dari pelukan itu, “kupikir kita sudah membiacarakan hal ini sebelumnya dank au sudah setuju untuk tidak…”
“Kau tidak bisa kuhubungi sama sekali sejak tadi siang! Kaupikir aku harus bagaimana, hah?!” balas Yunho dengan mengertakkan gigi. Matanya menyipit dan wajahnya kini tak lagi setampan biasanya.
Jaejoong yang tadi sudah memunggungi pemuda yang lebih tua darinya itu sontak berbalik menghadapnya kembali.
“Baterai ponselku habis dan aku tidak membawa chargernya.”
“Aku mengkhawatirkanmu, Kim Jaejoong!”
“Kau mengkahawatirkanku atau mencurigaiku?!” sergah Jaejoong, cepat.

Keduanya terdiam dengan kedua mata saling memandang satu sama lain. Yunho tahu Jaejoong secara tidak langsung mengutarakan apa yang dipikirkannya mengenai dirinya melalui pertanyaan terakhir yang dilontarkannya. Pemuda berusia 24 tahun itu juga tahu tak seharusnya ia bersikap berlebihan seperti yang selama ini dilakukannya terhadap Jaejoong; walau bagaimanapun tidak ada orang yang ingin kehidupannya dikekang, apalagi oleh kekasih yang bahkan belum setahun menjalin hubungan dengannya. Akan tetapi ia juga tak mampu membantah bahwa ia terlalu mencintai Jaejoong dan ia tidak ingin pemuda cantik itu pergi dari sisinya.
“Kalau kau begitu ingin tahu apa yang kukerjakan seharian ini, baiklah! Sejak pagi hingga siang tadi aku ada di kampus, sibuk dengan berbagai tugas dan mendengarkan ocehan para dosen di fakultasku. Apa aku perlu menelepon semua temanku untuk membuktikan semua itu?” tukas Jaejoong.
“Jaejoong…” panggil Yunho, namun yang dipanggil tak mau mendengar.
“Setelah itu,” lanjutnya, “aku dan Siwon sunbae berdiskusi mengenai pameran fotografi yang akan diadakan di kampus kami dua bulan lagi. Masih belum cukup? Kau lihat kantung belanjaan ini? Apa aku juga harus menjelaskan padamu juga apa artinya?”

“Siwon lagi? Memangnya siapa dia sampai kau harus terus berada di dekatnya di kampus?” geram Yunho.
“Yunho, tolong! Siwon sunbae itu ketua club fotografi dan aku sebagai salah satu panitia penyelenggara pameran yang akan diadakan club kami tentu saja akan selalu berurusan dengannya hingga pameran itu terlaksana!” Jaejoong mengusap wajahnya dengan putus asa, “Yun, aku… aku sungguh tidak tahu harus menjelaskan apalagi padamu.”
Pemuda itu menaruh kantung belanjaannya perlahan di atas meja counter dapur dan kembali memunggungi Yunho. Kedua tangannya memegang tepi meja itu, menopang berat tubuhnya masing-masing di kiri dan kanan. Yunho sendiri nampak masih belum bisa menerima alasan yang dikatakan oleh Jaejoong namun ia tahu jika ia meneruskan pertengkaran ini tentu akan berpengaruh pada hubungan mereka… dan Yunho tidak mau Jaejoong berpaling pada pria lain hanya karena masalah sepele ini.

Oleh karena itulah, ia mengambil napas panjang dan berusaha menenangkan dirinya sebelum berjalan mendekati punggung Jaejoong dan memeluk pinggangnya dengan lembut.
“Maafkan aku… Tidak seharusnya aku membentakmu tadi…” gumamnya tepat pada telinga yang tertutup rambut hitam tebal itu.
“Sampai kapan kau akan mencurigaiku seperti ini, Yun? Kau tahu aku tidak mungkin mengkhianatimu dengan pria lain…” ujar Jaejoong, lirih namun dengan nada yang jauh lebih tenang dari sebelumnya. Yunho memutar tubuh kekasihnya itu hingga berhadapan dengannya dan memegang pipi pucat itu dengan telapak tangannya.
“Aku tahu… karena itu aku minta maaf, OK mon beau *1)?” bisiknya lembut sambil mengecup sekilas bibir merah Jaejoong. Pemuda cantik akhirnya tersenyum dan membalas kecupan tersebut.
“Oui, Monsieur Jung… *2)”

***

Vernon, Perancis Selatan
20 Februari 2010
10. 15 AM

Hari itu sebenarnya merupakan hari Sabtu yang sangat biasa dan berjalan cukup normal bagi Jung Yunho dan usaha toko bonekanya. Akan tetapi ketika si pemilik toko sedang sibuk meletakkan beberapa karya terbarunya di atas rak di belakang meja kasir, telinganya menangkap bunyi nyaring lonceng kecil yang digantung di atas pintu masuk yang menandakan ada tamu yang baru saja masuk ke toko itu.
“Selamat datang! Ada yang bisa…” sapaan Yunho terputus ketika akhirnya ia berbalik dan melihat orang yang baru saja masuk ke tokonya. “…dibantu?”

Penampilan orang asing di depannya sungguh sulit digambarkan dengan kata-kata. Tidak ada yang aneh pada pakaian yang dikenakannya; secara keseluruhan semuanya sama dengan yang biasa dikenakan anak-anak muda Paris pada umumnya. Akan tetapi wajah yang sedang berhadapan dengannya itu sungguh…unik. Wajah itu nampak sama pucatnya dengan Jaejoong, hanya saja aura kekanakkan terpancar kuat dari dirinya. Rambutnya yang berwarna coklat dengan highlight pirang di beberapa bagiannya menambah pucat wajahnya namun anehnya juga membuat orang itu semakin menarik, walau sebagian besar rambutnya tertutup oleh hoodie berwarna hitam yang dipakainya. Kedua mata yang tadi terbuka lebar kini menyipit seiring dengan terukirnya seulas senyum di bibir orang itu.

“Toko yang bagus…” pujinya dengan suara yang anehnya juga terdengar seperti anak-anak yang murni dan polos di telinga Yunho.
“Ah, terima kasih. Silakan melihat-lihat dulu, mungkin ada yang anda sukai di antara boneka-boneka ini.” ucap Yunho sambil membalas senyum itu. “Maaf, aku tidak bisa menemani anda karena…”
Ia memberikan isyarat dengan tangannya, menunjukkan bahwa ia harus segera menyusun boneka-boneka itu di raknya. Orang asing itu hanya menganggukkan kepala, masih dengan senyum tersungging di bibirnya.

“Kau sudah lama membuat boneka-boneka ini?” tanya orang asing itu ketika Yunho sedang mendudukkan Ophelia di sudut paling kanan rak.
“Lumayan juga; kira-kira 6 tahun.” jawabnya sambil melirik sekilas ke arah orang itu. Dilihatnya si rambut coklat sedang menelusuri boneka-boneka dengan jari telunjuknya. Senyum masih juga tertempel di bibirnya.
“Pantas saja, boneka-boneka ini terlihat cantik dan begitu hidup. Itu karena kau sudah terlatih membuatnya, bukan?” Yunho tertawa kecil.
“Terima kasih atas pujianmu tapi boneka buatanku sepertinya masih kalah dibandingkan dengan buatan para pembuat boneka di Paris atau Bretagne.” balasnya sambil meraih Jeanne darn mendudukkannya di sebelah Nicole.

“Ya, ya, mereka begitu cantik…” gumam orang asing itu, seakan tidak mendengar apa yang dikatakan Yunho tadi. “Tapi, tentu saja tidak ada yang secantik Kim Jaejoong bukan? Jung Yunho?”

Gerakan Yunho yang sedang merapikan rompi salah satu boneka itu sontak terhenti. Pemuda itu tertegun mendengar orang asing itu berbicara dalam bahasa ibunya, terlebih ketika orang itu menyebut nama Jaejoong dan namanya yang sama sekali belum disebutkannya. Dengan cepat pembuat boneka itu menoleh.
“Dari mana kau tahu namaku? Apa kau mengenal Jaejoong?” tanyanya dengan curiga. Orang asing itu mengeluarkan tawa merdu dari bibirnya.
“Tsk tsk tsk,” ia menggoyangkan jari telunjuknya, “Tidak usah bertanya dari mana aku tahu namamu atau apakah aku mengenal kekasihmu yang cantik itu. Yang jelas, aku sudah lama mengamati kalian berdua… dan cukup tahu apa saja yang telah kalian lakukan selama ini.”
Senyum nakal kini tersungging di bibirnya sementara Yunho mengepalkan tangannya dengan geram.

“Jadi selama ini kau membuntuti kami, begitu?!” desisnya.
Orang asing itu memasukkan kedua tangannya dengan santai ke dalam saku hoodie hitamnya sebelum menjawab,
“Membuntuti? Sepertinya kurang tepat jika dikatakan aku membuntuti… Mungkin lebih tepat jika aku dikatakan…” ia menghadapkan tubuhnya dengan cepat ke arah Yunho, “mengawasi kalian.”
Senyum kekanakkan itu muncul lagi namun entah mengapa Yunho merasa tengkuknya dingin ketika berhadapan dengan senyum itu dalam jarak dekat. Ada sesuatu mengenai orang ini yang tidak beres; sesuatu yang berbahaya.
“Untuk apa kau mengawasi kami?! Katakan siapa yang menyuruhmu!” teriak Yunho sambil mencengkeram bagian depan pakaian yang dikenakan orang asing tersebut dan ia terperanjat ketika menemukan bahwa wajah di depannya itu tak lagi diwarnai unsur kekanakkan. Sebagai gantinya kedua mata tajam itu menusuk ke dalam bola mata Yunho sendiri, di dalamnya terkandung ancaman yang membuat Yunho semakin bergidik.

“Sekali lagi kukatakan kepadamu Jung Yunho, kau tidak perlu bertanya apapun padaku kalau kau masih ingin hidup. Sekarang dengarkan kata-kataku baik-baik. Jika kau tidak ingin Kim Jaejoong menjadi milik orang lain, kau harus segera mendengarkan apa yang kukatakan padamu setelah ini.”
Orang itu kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga Yunho dan berbisik, “Aku bisa membuatmu memiliki Jaejoong selamanya… Hanya milikmu.”
Kedua mata Yunho membesar dan tubuhnya mematung. Untuk beberapa waktu lamanya ia hanya berdiri diam tanpa tahu apa yang sebetulnya menghentikan seluruh sistem tubuhnya untuk bergerak, tapi kemudian orang asing itu melepaskan cengkraman Yunho yang mulai mengendur pada pakaiannya.

“Apa, apa maksudmu?” akhirnya Yunho berhasil menemukan suaranya kembali.
Si rambut coklat itu menyandarkan tubuhnya dengan santai pada rak di seberang ruangan dan memandangnya dengan tatapan mengejek.
“Kau tahu benar apa maksudku. Kau pasti sadar bukan, Jaejoong memiliki wajah yang mampu membuat siapapun jatuh cinta, bahkan pria paling normal sekalipun? Karena itu juga kau sangat protektif terhadap kekasihmu itu, dan kau paling tidak suka jika ia menghilang sehari saja tanpa kau ketahui keberadaannya… dan dengan siapa.” ujarnya dengan nada puas di dalam suaranya.
“Katakan padaku Yunho, apa Jaejoong sudah menghubungimu hari ini?” ujarnya lagi ketika Yunho tak mengucap sepatah katapun, “Apa ia sudah memberitahumu bahwa ia baru saja pergi menuju Musee de Louvre bersama Choi Siwon, entah untuk tujuan apa?”

Senyum mengejek itu semakin melebar ketika dilihatnya ekspresi Yunho.
“Apa katamu? Ia bersama Siwon sekarang?”
“Kalau aku jadi dirimu, aku pasti akan mencoba menghubunginya tapi… ahh! aku lupa,” orang asing itu memasang wajah menyesal, “ponselnya tidak bisa dihubungi… Maaf.”
Yunho yang tadi dengan cepat menekan nomor Jaejoong pun akhirnya mengetahui bahwa apa yang dikatakannya itu benar; hanya operator yang menjawab panggilannya.
“Aku tidak pernah berbohong, Yunho… Jika kau masih tidak percaya, kau bisa membuktikan sendiri kata-kataku.” suara itu terdengar lagi dari seberang ruangan dan Yunho mau tidak mau mendongakkan kepalanya.
“Apa maumu?” tanyanya lagi. Tangannya mencengkram kuat ponsel di tangannya; Otaknya tak lagi bisa berpikir jernih.
“Aku hanya mau menolongmu. Walau bagaimanapun aku paling tidak suka melihat hubungan dua orang manusia diganggu oleh manusia tidak tahu diri lainnya. Seperti yang kukatakan tadi, aku bisa membuat Jaejoong selamanya menjadi milikmu… Tapi tentu saja, ada syarat yang harus kaupenuhi untuk bisa mendapatkannya.” balas si rambut coklat.

“Demi bisa memiliki Jaejoong, aku rela melakukan apapun.”
“Bahkan bila kau harus menyerahkan jiwamu padaku?” potong orang asing itu dengan cepat. Keheningan sontak berkuasa di ruangan itu. Yunho tertegun mendengar kata-kata itu; mengorbankan jiwa? Demi cintanya pada Jaejoong? Lama ia terdiam hingga si rambut coklat itu menghela napas panjang dan berujar dengan riang,
“Tsk! Tampaknya bantuanku sama sekali tidak dibutuhkan di sini. Lebih baik aku segera pergi. Selamat tinggal!”
Dengan langkah ringan, orang asing itu meninggalkan Yunho yang masih berdiri membisu di tempatnya, tapi tepat sebelum kakinya melangkah keluar dari toko itu,
“Tunggu!”
Orang asing itu tersenyum ketika mendengar panggilan Yunho.
“Ya?” jawabnya tanpa repot-repot membalikkan tubuh.
“Siapa namamu?”
“Hmmm itu pertanyaan yang agak sulit dijawab. Secara teknis aku punya nama sendiri tapi khusus di bumi ini mereka memanggilku… Leeteuk.”

Yunho mendengus mendengar nama itu.
“Katakan padaku, Leeteuk… Sebenarnya kau ini apa hingga kau berkuasa untuk mengambil jiwaku? Tuhankah kau?” tanyanya lagi. Leeteuk tertawa nyaring di tempatnya.
“Apa itu Tuhan? Aku bahkan belum pernah bertemu denganNya…” Leeteuk memiringkan kepalanya sedikit dan menatap Yunho dari sudut matanya. “Pikirkan baik-baik tawaranku tadi. Aku pasti akan datang segera setelah kau mengambil keputusan.”
“Dari mana aku tahu kau akan datang?”
“Aku tidak pernah berbohong, Yunho. Tidak sekalipun…”

***
TO BE CONTINUED

note:
*1) Mon beau: my beauty
*2) oui, Monsieur Jung: Yes, Mr. Jung

4 thoughts on “[FF/threeshots/Yaoi/PG 13] The Doll Maker part 2 {Yunjae couple}

  1. wow chap 2 nya penuh misteri bgt chingu..ternyata yunjae udah langsung jadian jg tho..

    si rambut coklat ternyata om teuki toh..siapa tuh sebenernya dy?pake adegan menyerahkan jiwa segala?cenayang alias voodoo yaa?
    smp merinding..

    lanjut lg yak..
    aq suka bahasamu chingu..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s