[FF/threeshots/Yaoi/PG 13] The Doll Maker part 1 {Yunjae couple}


cr poster: ophelia@artfratermyra.wordpress.com

A/N yunjae:
Annyeong ^^ Terima kasih karena kalian masih mau baca FF bikinan author yg kadang ajaib dan kaga jelas isinya~ Kali ini author akan “membayar” utang pada Nancy, Lui, dan entah siapa lagi yang dari dulu udah nungguin Yunjae ditulis. Maaf kalo jadinya baru sekarang. Tadinya author pengen post threeshots ini pas ultah Jeje atau Yunho tapi ternyata ga bisa TT.TT mianhae Jeje Umma, Yun Appa TT^TT
Threeshots Yunjae ini temanya (lagi-lagi) misteri, dan buat kalian yang mengharap ending yang hepi dan damai… hehehe you better read till the end to find out whether your wishes come true or not X3

======

Vernon, Perancis Selatan
8 Januari 2009
10.47 AM

Hari masih pagi ketika bus yang membawa serombongan mahasiswa tiba di salah satu kawasan pinggiran ibu kota Perancis, Paris. Sedikit terasing memang, dan amat jauh dari keriuhan yang biasa ditemukan dengan mudah di sana. Akan tetapi bagi 50 anak muda yang sedang dihantui oleh momok mengerikan bernama ‘deadline pengumpulan tugas semester akhir’, hal itu bukanlah sesuatu yang patut dirisaukan. Kenyataannya, sebagian besar dari mereka berpendapat semakin tua dan usang suatu tempat di situlah biasanya foto-foto mahakarya lahir. Setidaknya itulah yang diyakini sejak dulu oleh Kim Jaejoong.

Pemuda berparas cantik berusia 23 tahun itu menyangkil tas hitam berukuran besar di bahu sebelah kirinya dan turun dari bus. Tangannya secara refleks terangkat untuk melindungi kedua mata yang menyipit karena tak sengaja menghadap sang mentari yang sudah bertengger manis di langit tak berawan. Ia memperhatikan keadaan di sekelilingnya seraya merapatkan long coat merah maroonnya ke tubuhnya; angin musim dingin yang sesekali bertiup membuat dirinya sedikit bergidik. Walaupun begitu, semangatnya kembali bangkit begitu melihat ke sekelilingnya. Pemandangan kots kecil yang terbentang tepat di depan matanya sungguh indah hingga nyaris membuatnya meneteskan air mata. Mungkin bagi orang lain, apa yang dirasakan olehnya sedikit berlebihan. Akan tetapi, bagi Jaejoong yang sejak kecil telah merindukan saat-saat di mana ia bisa berada di tempat-tempat menkajubkan yang biasanya hanya bisa ia lihat di kartu-kartu natal, berada di Vernon adalah mimpi yang menjadi nyata.

“Baiklah, sekarang kalian boleh pergi mencari objek foto masing-masing tapi jangan pergi terlalu jauh dari tempat ini. Satu setengah jam lagi kita berkumpul lagi di sini, oke?” teriak Choi Siwon, si ketua klub fotografi dalam bahasa Perancis yang sempurna. Teman-temannya mengangguk patuh sebelum membubarkan diri dan berpencar mencari objek foto terbaik.
Pemuda berlesung pipit yang berkewarganegaraan Korea seperti Jaejoong itu kemudian menoleh ke arahnnya.
“Bagaimana kalau kita mengelilingi kota kecil ini bersama-sama? Kebetulan Professor Rollo memintaku untuk mengambil beberapa foto di sini.” tawarnya seraya menyunggingkan senyum hangat. Jaejoong menggelengkan kepala.
“Maaf sunbaenim, saya rasa kurang baik jika yang lain melihat kita bersama-sama. Saya tidak ingin ada kabar yang tidak enak tersebar di kampus setelah hari ini.” tolaknya sopan. Walau Parisian adalah makhluk yang terlihat tidak peduli pada manusia-manusia lain di sekitarnya, namun Jaejoong tahu mereka amat menggemari gosip dan skandal. Pemuda itu tidak mau terkenal mendadak di universitas karena muncul skandal antara dirinya dan Siwon, terlebih sejak adanya selentingan meragukan bahwa seniornya itu sedang berusaha mendekatinya.

Siwon tersenyum maklum dan menepuk pelan pundaknya.
“Aku mengerti.” ucapnya sebelum berlalu dari situ.
Jaejoong menghela napas panjang sambil turut mengayunkan kakinya meninggalkan lapangan tempat bus mereka diparkir. Dalam hatinya terselip sedikit rasa bersalah karena sudah bersikap angkuh pada seniornya tadi, namun toh ini semua demi kebaikannya juga. Lagipula seseorang tak mungkin bersikap baik terus menerus pada semua orang, bukan?

Kedua kaki jenjang milik Jaejoong terus melangkah menyusuri setiap ruas jalan yang ada di kota itu. Sesekali kedua tangannya dengan sigap terangkat dan memegang kamera yang tergantung di lehernya; mengabadikan setiap kejadian dan pemandangan menarik yang ditemuinya. Matanya ikut menjelajah setiap sudut kota kecil itu dan bibir merahnya tak juga berhenti menyunggingkan senyum. Deretan rumah yang sudah dibangun sejak abad ke 15 yang sejak dulu hanya bisa dibayangkannya dan dilihatnya di buku-buku sejarah, kini berdiri dengan anggun di sebelah kanan dan kirinya. Betul-betul sebuah mimpi yang menjadi kenyataan.

Langkah riang Jaejoong terhenti ketika pemuda itu tak sengaja berhadapan dengan sebuah toko kecil bercat ungu dengan sedikit nuansa merah muda di bagian sampingnya, sebuah perpaduan warna yang cukup kontras dengan kebanyakkan bangunan di situ yang didominasi warna krem dan merah bata. Sebuah papan bulat kecil tergantung di atas pintu masuk. Pada permukaan benda berwarna coklat itu terukir beberapa kata dengan gaya khas eropa: Maison de Le Poupée; The Doll House.
Didorong oleh rasa penasaran, pemuda itu mengayun kakinya dua kali lagi mendekati bangunan kecil yang terselip di antara kedua bangunan besar di sampingnya.

Napas Jaejoong tertahan ketika ia melihat boneka-boneka porselen bergaya Jerman terpampang dengan rapi di balik kaca tipis toko itu. Mata besar boneka-boneka itu berwarna biru kehijauan, amat kontras dengan kulitnya yang putih pucat. Pakaian mereka sungguh indah, penuh renda dan terbuat dari bahan-bahan yang diyakini Jaejoong berharga sama tinggi dengan kualitasnya. Bibir mungilnya yang berwarna merah darah menorehkan senyum manis namun di saat yang bersamaan sedikit menimbulkan kegelisahan di hati Jaejoong. Begitu takjubnya pemuda itu akan replika manusia yang mudah pecah itu hingga ia tak menyadari si pemilik toko keluar dari toko dan mengawasinya sejak tadi.
“Kau bisa menemukan boneka lain yang lebih bagus dari yang kau lihat sekarang di dalam.” ujarnya dalam bahasa Perancis.

Jaejoong tersentak dan sontak menoleh ke arah datangnya suara. Seorang pemuda berkemeja putih dengan celemek hitam melapisi bagian depannya berdiri di depan pintu masuk dengan senyum tersungging di bibirnya. Dilihat dari wajah dan perawakannya, ia terlihat tak lebih tua dari Jaejoong; yang jelas pemilik toko itu juga memiliki wajah asia yang kental seperti dirinya. Pemuda yang membawa kamera tergeragap sebentar, berusaha menemukan kata-kata yang tepat untuk menutupi kegugupannya.
“Eh, maaf aku… aku sungguh tidak bermaksud… Boneka-boneka ini indah sekali jadi tanpa sadar aku…”
“Aku mengerti.” potong si pemilik. “Kalau kau mau, kau bisa masuk ke dalam dan melihat-lihat boneka lainnya.”
Jaejoong nampak ragu. Walau bagaimanapun ia harus berkumpul di tempatnya sampai tadi setengah jam lagi padahal foto-foto yang sudah diambilnya belum memuaskan keinginannya sama sekali. Akan tetapi, kepalanya mengangguk dengan sendirinya dan menerima ajakan pemuda itu.

Mulut Jaejoong membuka lebar ketika ia memasuki toko dan mengedarkan pandangan ke sekitar. Selama hidupnya, tidak pernah ia melihat sebuah ruangan yang membuatnya merasa sedang berada di negeri impian. Wallpaper bernuansa lembut dengan gambar bunga lilac tersebar di seluruh permukaannya nampak serasi dengan cahaya temaram yang keluar dari lampu kristal bersusun yang tergantung di tengah ruangan dan lantai kayu yang terinjak di bawah kakinya. Berderet-deret boneka porselen terpajang rapi di undakan yang dibuat seperti serangkaian ayunan yang tersambung dan tersusun di ketiga sudut ruangan tersebut. Sebuah cermin klasik yang pingggirannya berhias warna keemasan berukuran sedang terpaku pada salah satu dinding, entah untuk apa. Di dekat tangga memutar yang ada di pojok ruangan, sebuah meja kecil berwarna putih dengan dua kursi berwarna senada turut menghias ruang, seakan boneka-boneka itu akan turun dari rak dan duduk di situ untuk sekedar melepas lelah sambil menyeruput teh sore. Pagi itu, kedua kursi tersebut ditempati oleh dua boneka berpakaian zaman Victoria, satu laki-laki dan satu perempuan. Seakan sudah diatur secara otomatis, jari-jari lentik Jaejoong bergegas menghampiri benda berwarna hitam yang tergantung di lehernya untuk mengabadikannya.

“Wow…” bisik pemuda itu penuh kekaguman.
“Kenapa? Belum pernah melihat rumah boneka sebelumnya?” si pemilik toko tertawa kecil seraya melepaskan celemeknya dan meletakannya di balik meja kasir. Jaejoong menoleh sedikit.
“Pernah satu kali, di Paris. Tapi toko yang dulu kukunjungi tidak sehebat ini.” pemuda itu mendesah, “michyeoso…”
Si pemilik dengan cepat memutar tubuh begitu mendengar frase Korea yang barusan diucapkan Jaejoong.
“Kau… orang Korea?” tanyanya, kali ini dalam bahasa ibunya. Serta merta yang ditanya membalikkan badan dan membalas,
“Kau juga?!”
Keduanya mengerjapkan mata sebelum tawa tersembur dari bibir mereka.

Lima belas menit kemudian keduanya sudah duduk di kursi kecil yang tadi diduduki oleh sepasang boneka bergaya Victoria sambil sesekali meminum teh jenis England Classic yang disediakan oleh si pemilik toko. Belakangan diketahui bahwa pemuda pemilik tempat itu bernama Jung Yunho, seorang Korea berusia 23 tahun dan sudah 5 tahun ini tinggal di Rue Carnot, Vernon. Ayahnya yang dulu menjalankan usaha pembuatan boneka sudah meninggal 3 tahun yang lalu, dan mewariskan usahanya pada putra satu-satunya.
“Jadi kau juga yang membuat boneka-boneka ini?” mata besar Jaejoong membelalak. Yunho menganggukan kepala.
“Memang tidak sebagus buatan ayahku tapi hasilnya tidak jelek, kan?” balasnya.
“Kau bercanda ya?” Jaejoong menukas “boneka buatanmu ini SEMPURNA.” Untuk yang kesekian kalinya, Yunho tertawa kecil.
“Terima kasih atas pujiannya, tapi percayalah karyaku ini masih belum ada apa-apanya dibandingkan dengan karya pembuat boneka lainnya.” pemuda itu memandang Jaejoong. “Kau sendiri bagaimana? Apa yang membuat seorang mahasiswa universitas Sorborne yang terkenal datang ke kota kecil seperti Vernon ini?”

Jaejoong mengangkat kameranya.
“Fotografi. Kami diharuskan mengumpulkan tugas akhir minggu depan dan tidak banyak yang bisa kami abadikan di kota besar seperti Paris. Kau tahu, terkadang kota besar menawarkan terlalu banyak ‘kulit’ hingga kau merasa tak ada lagi sensualitas yang ditawarkan kota itu padamu. Semuanya sudah ditelanjangi habis-habisan hingga kau tak lagi bergairah melihatnya. Untuk itulah kami datang kemari, yaah hitung-hitung mencari suasana baru juga.” jelasnya panjang lebar.
Yunho terpana mendengar jawaban pemuda berambut hitam legam itu tapi senyum kembali mengembang di bibirnya sejurus kemudian.
“Ungkapan yang kau gunakan tadi menarik juga. Aku suka.” ujarnya seraya menyandarkan punggungnya dan melipat tangan di depan dadanya. “Biar kutebak, sastra?”
“Ilmu Filsafat lebih tepatnya. Soal ungkapan tadi,jangan terlalu dipikirkan. Itulah hasilnya jika kau terlalu banyak berurusan dengan buku-buku tebal berisi pemikiran gila para pujangga zaman dulu.” pungkasnya sambil memutar-mutar gelas tehnya.

Getaran kuat yang berasal dari ponsel Jaejoong membuat pemuda itu terlonjak dan segera membaca pesan yang masuk.
“Maafkan aku Yunho-ssi, tapi aku harus pergi sekarang. Kami harus segera kembali ke Paris.” pemuda itu bangkit dan membungkukkan badan. “Terima kasih atas tehnya. Selamat tinggal!”
“Tunggu!” panggil Yunho sebelum Jaejoong melangkah keluar dari tokonya. “Apa ada kemungkinan kita akan bertemu lagi?”
Pembuat boneka itu menyilangkan jari di belakang punggungnya ketika ia melihat keraguan di wajah Jaejoong, namun tak berapa lama kemudian seulas senyum menghiasi bibir pemuda cantik itu.
“Ya,” jawabnya, “Ya, tentu saja. Mengapa tidak?” balasnya.
Yunho tersenyum lega.
“Kalau begitu, sampai bertemu lagi Kim Jaejoong…”

***

Vernon, Perancis Selatan
6 Februari 2009
2.36 PM

Boneka porselen adalah sebuah karya seni yang unik. Tidak sembarang orang bisa membuatnya mengingat proses pembuatannya yang memakan waktu lama dan membutuhkan kesabaran yang tinggi serta dedikasi penuh. Sama seperti goresan Impresionis Monet yang ditorehkan di atas kanvas-kanvasnya, seluruh perasaan dan emosi si pembuat boneka sejatinya turut dituangkan dalam setiap karay yang dibuatnya. Alasan itu yang memunculkan pandangan umum bahwa setiap boneka porselen adalah representasi dari pembuatnya, walau diantara pandangan itu terselip pula kepercayaan berbau mistis bahwa dalam tubuh kaku berwarna pucat itu berdiam pula roh jahat yang akan merenggut jiwa pemiliknya dan menukarnya dengan ‘diri’nya sendiri. Sebuah kepercayaan lama yang mungkin tak lagi sesuai dengan keadaan dunia yang serba modern namun toh paham itu masih dianut beberapa kalangan hingga saat ini.

“Tapi aku tidak mengerti. Mengapa ada orang yang tega berkata benda secantik boneka-boneka ini dihuni oleh roh dan semacamnya? Sungguh tidak masuk akal, kalau menurutku.” tanya Jaejoong, di suatu sore ketika Yunho menceritakan mitos yang terkandung dalam boneka-boneka itu kepadanya.
Saat itu mereka berada di ruang khusus pembuatan boneka dan Jejoong sedang mengamati pekerjaan yang dilakukan pemuda yang lainnya dengan seksama. Toko itu sendiri sudah ditutup untuk umum sejak setengah jam yang lalu.

“Kau tahu kan orang-orang seperti tokoh spiritual kadang memiliki pekerjaan sampingan yaitu mengkritisi hal-hal yang menurut mereka salah dan menyimpang dari ajaran agamanya.” Yunho membuat sebuah gerakan dengan tangannya yang membuat tawa pemuda cantik di sebelahnya tersembur keluar.
“Yah, itu kan tidak sopan!” protesnya seraya beranjak dari kursi yang tadi didudukinya menuju si pembuat boneka, “Memangnya kau tidak percaya pada agama dan ke-Tuhan-an?”
Yunho mengendikkan bahu dengan sikap apatis sambil membetulkan letak kaca matanya yang mulai melorot dari batang hidungnya.
“Aku ingin sekali percaya Tuhan itu ada, tapi dengan kehadiran wakil-wakilNya di dunia yang gemar menuding boneka-boneka tidak bersalah ini kaupikir aku masih mau mencari keberadaanNya?” balasnya.

Jaejoong terperangah sesaat mendengar pertanyaan retorikal Yunho, namun sejurus kemudian senyumnya mengembang. Sungguh menarik orang ini, pikirnya sambil membetulkan renda gaun salah satu boneka yang baru saja selesai dikerjakan Yunho. Pemuda itu tidak menyadari tatapan pemuda berkaca mata yang sejak tadi diarahkan padanya dari sudut lain ruangan tersebut.
“Daripada membicarakan hal itu, bagaimana kalau kau makan malam di sini hari ini?” usul Yunho.
“Mwo? Memangnya ada acara apa?” Jaejoong bertanya seraya menggerakkan kepalanya sedikit; poni yang menutupi matanya yang besar tersibak dan membuat jantung Yunho berdebar-debar.
Ehh, sebetulnya hari ini aku berulangtahun jadi kupikir kita bisa merayakannya bersama-sama…” jawabnya sedikit malu, “Tapi kalau kau tidak ada waktu, yaaa…”

Jaejoong dengan cepat memotong perkataan Yunho,
“Jadi hari ini hari ulang tahunmu?! Yah, kenapa tidak kaukatakan sejak tadi??” tukasnya. Pemuda itu dengan cepat menghampiri Yunho dan sebelum pemuda yang berulangtahun itu sempat bereaksi, Jaejoong telah memeluknya erat.
“Saengil Chukkaeyo, Yunho~” ucap Jaejoong, manis. Yunho yang masih berdiri mematung akhirnya membalas pelukan hangat itu dengan hati-hati. Debaran yang sejak tadi telah menghantam dadanya kini semakin keras memukul-mukul hingga ia takut suaranya akan terdengar oleh pemuda yang tubuhnya terekat erat dengan miliknya sendiri.
“…Gomawo…” balasnya lirih. Diam-diam sebuah perasaan yang sudah lama tidak dirasakannya sejak kematian ayahnya kini hadir kembali di hatinya, dan malam itu saat Yunho mengawasi Jaejoong yang menyantap hidangan yang tersaji di atas meja sambil berceloteh riang, pemuda itu tahu ia telah jatuh cinta padanya.

***

TO BE CONTINUED

6 thoughts on “[FF/threeshots/Yaoi/PG 13] The Doll Maker part 1 {Yunjae couple}

  1. hai,salam kenal reader baru…wow kren nih critanya..gaya bahasanya lagi b’beda…dari awal baca mcam ada perasaan aneh bakal t’jadi dengan si jae n yunho..hawa mistik terasa *gggrggrh mulai merinding*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s