[FF/Two-shots/Shounen-ai/PG-13] Girls Meet Love?? Nah, It’s Boy Meets Boy! – part 2/ END {2min couple}


“Choi Min Jeong, kau itu benar-benar menjengkelkan!” desisnya seraya bangkit dan beranjak menuju kamar mandi.
***

Minho berusaha berkonsentrasi menghapalkan kosa kata Jerman di bukunya namun otaknya tetap menolak melahap barisan huruf-huruf tersebut. Ia tidak habis pikir bagaimana bisa kata-kata tadi meluncur begitu saja dari mulutnya bahkan tanpa disadari oleh dirinya sendiri? Minho memukul kepalanya dengan tangan kanannya dan mengerang tanpa suara ketika ujung pensil yang dipegangnya ikut melukai pelipisnya. Dengan marah ia melempar pensil itu dan tanpa sengaja melihat jam meja yang terletak tak jauh dari tumpukan buku-bukunya.
Sudah 45 menit musuh bebuyutannya itu ada di kamar mandi dan dia belum keluar juga. Tidak biasanya ia mandi selama itu, pikir Minho. Diliriknya pintu kamar mandi dan diketukkannya jari telunjuknya ke atas meja, menimbang apa ia harus mengecek keadaan orang itu. Setelah beberapa menit bergulat dengan pikirannya sendiri, Minho beranjak dari kursinya dan mengetuk pintu kamar mandi.
“Aku tahu kau ingin menjadi yang terbaik, tapi haruskah kau mandi selama itu? Sudah hampir satu jam kau di dalam, Lee Tae Yeon!” serunya.

Tidak ada jawaban terdengar dari dalam. Minho mencoba sekali lagi.
“Yah, kalau kau tidak segera keluar akan kudobrak pintu kamar mandinya!” ancamnya.
Tetap tidak ada jawaban. Minho mulai khawatir. Diraihnya kenop pintu dan diputarnya. Betapa terkejutnya ia ketika mendapati pintu itu tidak dikunci. Pemuda itu perlahan memasuki kamar mandi yang kini diselimuti uap panas di sekelilingnya. Minho merutuk dalam hati, ini pasti karena si Tae yeon itu mandi berendam dengan air hangat. Pemuda itu terus melangkah hingga ia melihat pinggiran bathtub dan melihat busa sabun memenuhinya hingga tumpah ke lantai… Taemin dengan mata tertutup sedang merendam tubuhnya di dalamnya. Minho menghela napas lega, namun kelegaan itu tak berlangsung lama ketika pemuda itu melihat wajah Taemin sekonyong-konyong meluncur turun dan akhirnya menghilang di balik lautan busa itu.

Dengan panik, Minho memasukkan tangannya ke air dan berhasil mengangkat kepala Taemin dari dalamnya. Ia mengamati kondisi pemuda yang sampai detik itu masih dikiranya berjenis kelamin perempuan dengan seksama dan dengan cepat mengetahui bahwa Taemin pingsan. Minho mengulurkan tangan, hendak menggendong tubuh basah Taemin dan mengangkatnya keluar dari bathtub namun tubuhnya membeku. Pemuda itu sama sekali belum pernah melihat tubuh seorang wanita secara langsung, kecuali melalui DVD ‘berbahaya’ yang diam-diam ditontonnya ketika Siwon sedang di kantor. Kini ketika kesempatan itu diperolehnya, mengapa terselip sedikit rasa bersalah dalam hatinya? Apa karena yang akan dilihatnya ini adalah tubuh musuh bebuyutannya?

Minho menggelengkan kepala. Apapun yang terjadi gadis ini harus diselamatkan, pikirnya. Dengan satu tarikan napas panjang, Minho mengangkat tubuh kurus itu dari dalam bathtub…
“MWWWOOOOOO???!!!!!”
***

Satu setengah jam kemudian, Taemin duduk di atas ranjangnya dengan wajah bersalah. Di sampingnya ada Minho yang memandangnya dengan dingin. Rambut panjangnya yang tadi dibiarkannya tergerai kini sudah diikat.
“Jadi, kau ini ternyata laki-laki?” ulang Minho datar. Taemin memandangnya takut-takut sebelum menganggukkan kepalanya.
“Dan tujuanmu datang ke sini adalah untuk mengejar gadis pujaanmu yaitu Kim Gwiboon?”
Lagi-lagi Taemin mengangguk.
“Dan dia juga alasan mengapa kau sampai rela mengikuti seleksi Miss Sunshine… Sunny… aish apapun namanya itu?!”
Taemin mendadak maju dan menggenggam erat tangan Minho.
“Min Jeong sshi, aku mohon jangan laporkan aku pada kepala sekolah! Aku, aku rela melakukan apapun sebagai gantinya!” ucap Taemin dengan wajah memelas.

Minho tidak mengatakan apapun, matanya sibuk menilai pemuda berwajah manis di depannya.
“Kenapa kau begitu gigih mengejar Gwiboon? Sampai-sampai kau rela menyusup ke sekolah ini dengan resiko ketahuan dan diusir keluar dari sini, bahkan mungkin Gwiboon akan menganggapmu aneh atau semacamnya.” tanya Minho.
“Dia… Gwibbon noona adalah cinta pertamaku jadi aku… aku ingin berada dekat dengannya,walau aku harus menjadi orang lain.” jawab Taemin pelan.
Minho merasa ada sesuatu yang menggores hatinya ketika mendengar pengakuan pemuda berusia setahun lebih muda darinya itu, namun dengan cepat disingkirkannya perasaan konyol tersebut.
“Sudahlah kau tidak perlu menangis seperti itu. Kau itu kan laki-laki jadi tegarlah sedikit!” tukasnya,” aku tidak akan bilang siapa-siapa tentang masalah ini.

“Be, benarkah?!! Goma…”
“Dengan satu syarat!” potong Minho,” kau harus mengambil alih tugasku membersihkan kamar dan kamar mandi, juga membantuku mengerjakan semua tugasku. Oh iya kau juga harus bersedia memijit kakiku jika aku merasa letih sehabis berlatih. Bagaimana?”
Bahu Taemin terkulai, ia tahu keadaan tidak akan semudah yang diharapkannya. Dengan sangat terpaksa ia menyetujui syarat itu sementara Mimho bersorak dalam hati. Lega karena statusnya sebagai laki-laki tidak ketahuan dan karena dirinya kini memperoleh ‘mainan’ baru.
***

Beberapa minggu berlalu sejak identitas Taemin terbongkar dan selama minggu-minggu yang menyiksa itu Taemin terpaksa menyanggupi setiap keinginan Minho. Seisi sekolah menjadi agak bingung ketika pertengkaran tak lagi terjadi di antara keduanya dan ‘Tae Yeon’ sepertinya terkesan menghindari ‘Min Jeong’. Gosip menyebar dengan cepat dan semuanya tentu saja tidak ada yang benar karena hanya Minho dan taemin yang tahu kebenarannya. Gosip-gosip itu pun terlupakan ketika akhirnya malam Grand Final Miss Summer Santa Bernadeth tiba di suatu hari di bulan Agustus. Taemin lolos hingga ke babak final dan harus bersaing dengan kedua finalis lainnya… salah satunya Kim Gwiboon yang disukai Taemin.

Minho lagi-lagi merasa ada sesuatu yang aneh dalam dirinya ketika Taemin dengan wajah abhagia menceritakan betapa ia gembira bisa lolos ke babak final dengan gadis pujaannya. Ia sebetulnya sudah tidak berniat hadir dalam acara penganugrahan gelar konyol itu, tapi entah mengapa ada satu dorongan dalam dirinya yang membuatnya duduk di salah satu kursi di aula besar yang sudah disulap bak arena pemberian piala Oscar dengan panggung yang cukup gemerlap.

Acara sudah berlangsung sekitar 2 jam dan Minho mulai merasa bosan berada di situ. Satu-satunya alasan mengapa ia berada di tempat itu ialah agar ia bisa bertepuk tangan untuk Taemin ketika pemuda mendapat giliran untuk tampil dan menjawab pertanyaan dari juri dengan baik. Akan tetapi kini Minho sudah tak sanggup lagi; matanya berat menahan kantuk dan sambil menguap lebar, ia beranjak meninggalkan kursi.
“Para dewan juri dan hadirin yang terhormat, mari kita sambut ketiga finalis dalam balutan gaun malam!” teriakan si pembawa acara membuat Minho menolehkan kepalanya ke arah panggung. Tepat ketika ia melakukannya, Taemin melangkah maju disinari lampu panggung dan mengenakan gaun berwarna putih yang membuat kulitnya semakin terlihat bersinar. Wig sebahu yang dipakainya kini dihiasi tiara kecil yang berkilau dan Minho tak sanggup berkata apa-apa. Ia hanya menyandarkan punggung di pintu dan tersenyum melihat penampilan Taemin malam itu. Minho berani bertaruh bahwa Taemin lah yang menjadi pemenangnya.

Minho terlalu sibuk mengagumi Taemin hingga tak menyadari bisikan-bisikan yang datang dari siswi yang duduk di sekitarnya. Ketika bisikan itu semakin besar dan beberapa siswi mulai menunjuk ke arah panggung, pemuda itu akhirnya tahu apa yang mereka ributkan. Gaun putih Taemin yang tadi terlihat baik-baik saja, kini sudah membuka di bagian atas dan perlahan tapi pasti gaun itu sobek dan mengumbar dada Taemin yang sama sekali tidak mirip dengan milik seorang wanita. Mata Minho membelalak, sontak ia beranjak maju dari tempatnya. Pemuda malang yang ada di panggung pun tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Seluruh ruangan heboh; siswi-siswi sibuk bergunjing, para juri terkesiap melihat pemandangan di depan mata mereka.
Baru ketika sang kepala sekolah maju dan berteriak marah pada Taemin, perhatian semuanya tertuju kepada panggung tersebut.

“LEE TAE YEON!! APA-APAAN INI??!!” teriak kepala sekolah Hwang di depan wajah Taemin. Pemuda berwajah manis itu hanya terdiam tanpa bisa mengangkat wajahnya barang se-senti pun.
“Kau… selama ini kau menipu kami semua! Tidak kusangka ternyata kau adalah laki-laki… Bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi?!” bentaknya lagi.
“Ibu, saya…”
“SUDAH! Aku tidak mau mendengar penjelasanmu lagi! Mulai malam ini kau harus segera angkat kaki dari sini. Aku tidak mau melihat wajah seorang penipu sepertimu!”
“Kalau begitu Anda harus mengeluarkan saya juga, kepala sekolah Hwang!” ujar Minho dari bawah panggung.

Taemin sontak menoleh ke arah Minho, matanya memandang Minho penuh tanda tanya seakan sedang menerka apa maksud perkataan pemuda itu pada kepala sekolah Hwang barusan, Seluruh ruangan heing ketika gadis yang mereka kenal sebagai Choin Min Jeong si kapten tim sepak bola sekolah menaiki panggung dan berdiri menghadap mereka semua.

“Apa maksudmu, Nona Choi? Mengapa aku harus mengeluarkanmu juga?” tanya kepala sekolah Hwang, kali ini kepada Minho. Pemuda itu tak segera menjawab. Ia menggerakkan tangannya ke atas kepalanya, dan semua orang terperanjat ketika ia menarik lepas wig yang menutupi rambut aslinya. Seakan belum cukup, ia bahkan melepas syal yang melilit lehernya dan membuka kancing kemeja kotak-kotak merah hitamnya satu persatu dan membukanya lebar-lebar, memperlihatkan dadanya yang sama rata dengan milik orang di sebelahnya. Para siswi hanya bisa terpaku, menatap panggung tak percaya. Bagaimana mungkin dua ‘ratu tak resmi’ yang selama ini selalu berseteru di sekolah adalah dua orang laki-laki yang menyamar jadi wanita?

Taemin ikut melongo bersama 900 lebih manusia yang ada di ruangan itu. Jadi selama ini orang yang tinggal satu kamar dengan dirinya dan yang juga mengetahui wujud aslinya yang sebenarnya ternyata memiliki jenis kelamin yang sama dengannya. Minho mengarahkan perhatiannya pada kepala sekolah yang terlihat syok dengan keadaan yang terjadi di situ.
“Sudah jelas kan? Anda harus mengusir saya juga dari tempat ini karena saya juga laki-laki. Kenalkan, nama saya Choi Minho.”
***

(Dua minggu kemudian)
Choi Minho dan Lee Taemin, kali ini dengan identitas mereka yang asli sedang duduk di tepi sungai Han dengan gelas kertas berisi kopi panas di tangan mereka masing-masing.
“Jadi ternyata Gwiboon yang menyabotase gaunmu?” tanya Minho sebelum menyeruput kopinya.
“Begitulah… Aku sama sekali tidak menyangka ternyata dia menganggapku musuhnya… Kupikir aku sudah selangkah lebih dekat dengannya karena dia begitu baik padaku.” jawab Taemin.
“Tsk, kau itu terlalu polos atau terlalu bodoh sih?!” tukas Minho sementara pemuda di sebelahnya berdecak dan mendelik ke arahnya.
“Choi Minho kau ini sama menyebalkannya dengan Choi Min Jeong!” tukas Taemin,” Kau betul-betul keterlaluan. Bagaimana bisa kau mengerjaiku waktu itu? Kalau saja aku tahu kau juga laki-laki, aku tidak akan mau kau suruh-suruh, dasar brengsek! Aish, akhirnya aku tahu kenapa kau selalu memakai atasan turtleneck atau syal di dalam sekolah!”

Minho hanya tersenyum geli mendengar omelan Taemin. Ditatapnya matahari sore yang sinarnya mulai meredup dan bayangannya terpantul jelas di air tenang.
“Bagaimana reaksi kakakmu setelah tahu kau diusir dari sekolah itu?” tanyanya sambil menoleh menatap pemuda berambut jamur di sebelahnya.
“Marah besar. Dia bilang sejak awal dia sudah tahu siasatku itu tidak akan berhasil. Dia juga mengatakan sesuatu tentang Gwiboon tapi aku tidak mau dengar.” jawab taemin,” kau sendiri bagaimana? Kakakmu pasti mengamuk ya waktu kau pulang tengah malam itu?”
“Percaya tidak, dia hampir membunuhku.” Minho tertawa,” aku serius. Malam itu aku tidak bisa tidur. Aku takut Siwon hyung akan membuang semua pakaianku ke jalan dan tidak akan mengakuiku sebagai adiknya lagi. Tsk!”

Taemin tersenyum lebar membayangkan kejadian itu.
“Sungguh merepotkan ya kita ini? Rasanya sungguh tidak enak membuatmu kakakku khawatir… sepertinya aku memang terlalu egois, terlalu nekat melakukan sesuatu untuk memperoleh apa yang kuinginkan.”
“Apa itu salah?” sahut minho,” menurutku tidak ada yang salah dengan itu. Aku sendiri tidak menyesal menyusup masuk ke sekolah itu… yaaah paling tidak dengan melakukan hal gila seperti itu, aku bisa mengenal orang yang sama gilanya seperti aku.”
Pemuda yang sore itu memakai jaket biru itu nyengir. Taemin membalasnya dengan meninju pelan lengan Minho.

Sunyi sesaat sebelum Minho berkata lagi,
“Kau… manis juga berdandan sebagai wanita.” Wajah Taemin tiba-tiba terasa panas.
“Be,benarkah? Kau juga cantik… tapi… aku lebih suka melihatmu yang seperti… ini. Rasanya lebih cocok dan… lebih nyaman.” balasnya.
Minho tidak berkata apapun dan hanya mendekatkan wajahnya ke arah Taemin yang sejak tadi meliriknya. Tangan Taemin terangkat secara otomatis ketika wajah Minho nyaris tak berjarak lagi dengannya namun tangan itupun disingkirkan oleh Minho secara lembut.

RIIIIINGGGGGG!!!!!
baik Minho maupun Taemin spontan membuka mata mereka begitu mendengar dering ponsel Taemin yang bunyinya datang pada saat yang tidak tepat. Pemuda berambut jamur itu menjawab telepon dengan wajah merah sementara Minho menegakkan tubuh dan berpura-pura membereskan pakaiannya untuk mengurangi salah tingkahnya.
“A, anu… Kakakku sudah menyuruhku pulang.” ucap taemin pelan setelah ia mematikan ponselnya.
“O, oohh ya sudah kalau begitu. sepertinya hari juga sudah hampir malam…” balas Minho, jengah. Mata kedua orang itu masih memandang ke arah yang berlawanan.

“Ba,baiklah aku pulang dulu ya…” pamit Taemin,” sampai jumpa!”
Pemuda itu membungkukkan badan dengan cepat dan berbalik untuk kembali ke rumahnya.
“Tunggu!” panggil Minho,” kalau… kau tidak keberatan, bagaimana kalau kita sesekali pergi jalan-jalan?”
Taemin tertegun namun kemudian senyumnya muncul kembali.
“Tentu saja, mengapa tidak?” jawabnya.

Sore itu, ketika Minho merebahkan tubuh di hamparan rumput liar di tepi sungai Han senyum tak juga menghilang dari bibirnya.
“Ternyata sesekali menjadi seorang gadis bukan hal yang buruk juga~” gumamnya.
***

THE END

A/N:
maafkan saya kalau banyak mistype here and there ato ceritanya kelewat gaje. sumpah ini FF pertama yang dibuat dengan plot yang sempet ngalor ngidul gak keruan dan ditulis dengan amat sangat terburu-buru >.< ahhh soal nama-nama perempuan yang saya pake di FF ini itu semua adalah nama-namanya shinee pass mereka jadi cewek di mini drama gitu~ lupa namanya apa tapi yg jelas mereka berlima jadi terlihat cantik XDDD taeyeon itu nama cewek taemin, minjeong adalah minho, sdgkn gwiboon adalah key dan eunsook adalah onew XDDD yup no jeha here cos i don’t know his yeoja name >.< (thx so mauch fo jiyul for helping me fing this X3)

thx for comment and read~

this FIC could also be found in Enma D’Mightyhyunsaferlycious’s Facebook page

6 thoughts on “[FF/Two-shots/Shounen-ai/PG-13] Girls Meet Love?? Nah, It’s Boy Meets Boy! – part 2/ END {2min couple}

  1. Cerita’y lucu…
    Pa agi paz m0 adegan kissing… Da za penghalang’y…
    He_eH
    Banyakin agi yach… Ff tntang taeminh0 nyah…
    Ditunggu lh0…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s