[FF/Two-shots/Shounen-ai/PG-13] Girls Meet Love?? Nah, It’s Boy Meets Boy! – part 1 {2min couple}


A/N:
Annyeong ^.^ lagi-lagi author datang dengan twoshots baru hehe~ kali ini couplenya 2min lagi. Sebetulnya twoshots ini adalah entry sayah untuk FF contest yang diadakan sama salah satu temen saya di FB. twoshots ini sendiri dibuatnya rada ngebut nih. diselesaikan dalam waktu 5 jam saja. aduh kepala pusing >.< aslinya ini FF sebetulnya oneshot tapi karena takut kepanjangan jadi saya putuskan untuk dibagi dua aja deh ^^ ide ceritanya sendiri saya dapet karena melihat salah satu fanart taeminho yang ahoy banget XDD. btw cuma mau ingetin aja di awal-awal ini mungkin agak ngebingungin tapi konsen aja sama ceritanya, pasti bisa nangkep kok lama-lama ^^
happy reading~

=====

Seorang gadis berpakaian seragam duduk di bangku yang menyatu dengan meja di depannya. Dengan anggun ia membuka kotak biola berwarna hitam di atas meja itu dan mengeluarkan alat musik tersebut. Benda itu dielusnya dengan sayang sebelum diletakkan di atas bahunya. Gadis itu menarik napas panjang sebelum menggesek biola itu. Segera alunan nada indah mengalun, memenuhi ruangan kelas yang siang itu sudah kosong.

Tiba-tiba…
BUUGG!!!
“…a….AWWWWWW!!!!!!” teriak si gadis sembari memegangi bagian samping kepalanya yang baru saja terkena lemparan benda keras. Sebuah bola sepak menggelinding dan membentur kaki gadis itu pelan. Ia mengambil bola laknat itu seraya menyumpah dan mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, mencoba mencari tahu bagaimana bola itu bisa masuk ke dalam kelas dan dengan seenaknya mendarat di kepalanya yang…
“Ah, rupanya bolaku ada di situ,” seru sebuah suara yang sudah sangat dikenal gadis itu. Choi Min Jeong berdiri di luar jendela kelas yang terbuka dengan tangan menopang dagunya dan senyum puas tersungging di bibirnya. Dalam sekejap gadis berseragam tadi tahu siapa pelaku yang menendang benda bulat di tangannya itu.
“Yah, kau ini tahu caranya bermain sepak bola tidak?!” bentak gadis tadi. Min Jeong menyandarkan tubuh pada kusen jendela dan melipat tangannya di depan dada.
“Tentu saja, kalau tidak mana mungkin aku bisa menjadi kapten tim kesebelasan sekolah ini?” jawabnya dengan wajah bangga.” Kau sendiri tahu tempat tidak? Ini kan bukan ruang musik yang biasa dipakai untuk berlatih tapi kau malah membunyikan biola jelekmu itu di sini.”

Gadis berseragam tadi terlihat seperti orang yang habis ditampar mendengar kalimat itu.
“YAH, CHOI MIN JEONG!! Hati-hati ya kalau bicara! Kelas ini kan bukan milikmu jadi apapun yang aku lakukan di sini bukan urusanmu, dasar orang aneh!” bentaknya lagi. Min Jeong menegakkan tubuh begitu mendengar kata ‘aneh’, senyum tak lagi ada di bibirnya.
“Yah, siapa yang kau bilang aneh?!” tukasnya.
“Hah, masih berani bertanya… tentu saja kau yang aneh! Coba lihat, mana ada orang yang begitu bodoh memakai atasan turtleneck di balik kaos di tengah cuaca panas seperti ini? Tidak ada, kecuali KAU!” balas gadis berseragam itu sambil memainkan bola di tangannya. Puas sekali ia bisa membalas kejahilan Min Jeong, musuh yang sangat dibencinya itu.
“LEE TAE YEON, JAGA MULUTMU!” kali ini Min Jeong yang berteriak marah sementara gadis berseragam yang ternyata bernama Taeyeon itu menutup telinganya dengan kedua tangan dan bersenandung keras-keras tanpa mempedulikan teriakannya.

Lee Tae Yeon dan Choi Min Jeong adalah dua seteru yang sudah bermusuhan bahkan pada hari pertama mereka menginjakkan kaki di sekolah musim panas yang diselenggarakan sekolah khusus putri Santa Bernadeth. Sekolah internasional terkemuka di Korea itu memang setiap tahun membuka pendaftaran sekolah musim panas bagi para siswi yang ingin mengisi liburan pertengahan tahunnya dengan kegiatan yang berguna. Total 1000 siswi baik dari sekolah Santa Bernadeth sendiri maupun dari sekolah lain mengikuti kegiatan tersebut tiap tahunnya, walau uang yang harus dikeluarkan sebagai kompensasi tidaklah sedikit. Tae Yeon dan Min Jeong sudah terlibat dalam perdebatan ketika keduanya sama-sama yakin dirinya yang seharusnya menempati loker nomor 9 yang letaknya strategis itu. Belakangan diketahui Tae Yeon lah si pemilik sah loker tersebut karena ternyata Min Jeong keliru melihat angka 6 yang tercetak di kartu pengundiannya dan menyangkanya sebagai angka 9. Masalah semakin rumit ketika keduanya ditempatkan dalam satu kamar di asrama sekolah itu. Tae Yeon nyaris menangis ketika mengetahui teman sekamarnya ternyata adalah orang menyebalkan yang tadi berebut loker dengannya, sementara Min Jeong nyaris saja menggedor pintu ruang kepala sekolah dan minta dirinya dipindahkan ke kamar lain.

Sejak saat itu mereka berbagi tempat tinggal sementara, walau ‘tetangga-tetangga’ di sebelah kamar mereka harus rela menebalkan telinga karena hampir tiap hari terjadi keributan di kamar 508 itu. Mereka sudah tahu apa yang akan terjadi jika kedua orang itu bertemu. Pertengkaran menjadi hal biasa di antara dua gadis tersebut, apalagi kemudian mereka sama-sama menjadi terkenal di kalangan para siswi yang mengikuti kegiatan itu. Tae Yeon dikagumi karena kemahirannya bermain biola dan wajahnya yang manis sementara Min Jeong dengan cepat membuat siswi-siswi jatuh hati dengan kemampuannya memainkan bola sepak dan kepribadiannya yang cool. Keduanya dengan cepat mengumpulkan penggemar yang setia mengikuti mereka kemanapun mereka pergi dan hal itu pula yang membuat keduanya makin membenci satu sama lain.

Baik Tae Yeon dan Min Jeong berusaha keras mencari kelemahan lawannya, tujuannya tentu saja untuk menjatuhkan image musuhnya itu. Kedua gadis itu sekilas tampak berbeda baik dari segi kepribadian maupun kesukaan mereka, namun ternyata ada sebuah rahasia yang dipendam oleh Min Jeong dan Tae yeon. Rahasia ini sangat berbahaya bagi mereka berdua, entah apa yang akan terjadi jika seluruh sekolah mengetahui rahasia ini. Lee Tae Yeon dan Choi Min Jeong, dua orang yang menjadi pusat perhatian dan menjadi ‘ratu’ di sekolah musim panas St. Bernadeth angkatan 2009 ternyata… berjenis kelamin LAKI-LAKI.

Tidak, kalian tidak salah membaca; mereka itu betul-betul laki-laki.
Kisahnya bermula ketika mereka membaca pengumuman besar yang tercetak di koran harian pagi itu…

(flashback 3 bulan yang lalu)
++ Di rumah Choi Min Ho alias Choi Min Jeong ++

Minho megap-megap akibat tersedak sepotong besar roti sarapannya. Cepat-cepat disambarnya gelas berisi jus jeruk di sebelah piring dan diteguknya cairan itu sampai habis. Pemuda itu menghela napas lega ketika roti itu tak lagi menghalangi napasnya, tapi bukan berarti rasa terkejutnya hilang seperti roti yang sudah aman masuk ke perutnya dan dicerna oleh lambungnya. Matanya tetap membaca tulisan besar yang tertulis di sana, mulutnya ikut berkomat-kamit seakan ingin menegaskan apa yang sedang dibacanya. Kakaknya yang masih memakai celemek dan kini sedang kerepotan membawa sepiring besar nasi goreng kimchi menatap adiknya itu dengan bingung.
“Min Ho, kau sedang baca apa sih? Sepertinya serius sekali…” tanya Siwon seraya meletakkan piring berisi nasi goreng itu di atas meja makan. Minho dengan bersemangat membentangkan koran yang dipegangnya di atas meja yang sama.

“Ini memang serius, Hyung! Lihat, baca baik-baik…” ujarnya sambil menunjuk halaman yang dimaksud dengan jarinya.
“Hmmm… dibuka pendaftaran sekolah musim panas Santa Bernadeth angkatan ke dua belas tahun 2009… Ok, lalu apanya yang serius?” Siwon bertanya balik. Minho mendecakkan lidah.
“Hyung tidak tahu ya?? Saat sekolah musim panas Santa Bernadeth dibuka itulah waktunya para lelaki untuk berpesta! Kau tidak tahu bagaimana air liurku dan teman-temanku hampir menetes waktu gadis-gadis itu lewat di depan kami… begitu cantik, anggun…” mata Minho menerawang, ”Bayangkan kalau aku bisa mendapatkan satu saja dari mereka… atau dua… ah, tiga pun tak masalah!!” pemuda itu mengeluarkan tawa yang mampu membuat gadis-gadis menyingkir diiringi tatapan mencela sang kakak.

“Jadi selama ini aku membiayai sekolahmu mahal-mahal hanya agar kau bebas bermain dengan teman-temanmu dan menggoda gadis-gadis begitu?” sendok yang ada di tangan Siwon pun dengan sukses melayang ke kepala Minho,”Yah Choi Minho, ingat nasihat Umma sebelum ia meninggal. Kau harus belajar dengan baik agar bisa jadi orang kaya nanti. Kurangi sedikit waktu bermainmu, kau tahu sendiri kan sulit sekali mencari uang di jaman sekarang!”
Minho mengusap-usap keningnya yang terkena lemparan sendok dan menggerutu,
“Iya hyung aku tahu… tapi tidak apa-apa kan jika aku menggoda gadis-gadis sesekali? Siapa suruh kau masukkan aku di sekolah khusus laki-laki?”

Siwon tidak menjawab dan mendelikkan matanya ke arah adik semata wayangnya itu. Laki-laki 24 tahun itu mengambil sendok yang tadi dipakainya untuk menyambit Minho dan memakan nasi goreng di piringnya dengan lahap. Minho cemberut melihat ketidakpedulian kakaknya dan menenggelamkan kepalanya lagi di balik lembaran koran tersebut. Kedua orangtua kakak beradik Choi memang sudah lama meninggal. Selama beberapa tahun, Minho dan Siwon dibesarkan dan tinggal di tempat bibi mereka, namun sejak 3 tahun lalu hak perwalian atas Minho diberikan sepenuhnya pada Siwon yang genap berusia 21 tahun alias sudah dewasa, sesuai dengan isi wasiat terakhir sang ayah… Sekonyong-konyong wajah muram Minho berubah menjadi sumringah ketika di kepalanya terlintas sebuah ide.

Siwon masih asyik dengan sarapannya ketika ia merasa kedua bahunya ditarik ke samping dan dipaksa berhadapan dengan wajah berapi-api sang adik.
“Hyung, kau saudaraku kan? Kakak kandungku kan? Satu-satunya harapanku yang paling bisa kuandalkan, bukan begitu?” Siwon hanya mengangguk, mulutnya penuh hingga tak bisa berbicara. Mata Minho semakin bersinar dan entah kenapa perasaan Siwon jadi tidak enak melihatnya.
“Hyung,” ujar Minho pelan, seperti seorang dokter yang sedang memberitahukan pasiennya bahwa ia terkena kanker stadium 4,”kau harus menolongku.”
“Mwo?? menolongmu dalam hal apa??” Minho tidak menjawab, hanya alisnya yang bergerak-gerak mengisyaratkan sesuatu. Siwon awalnya tidak mengerti maksud adiknya namun ketika ia menyadari isyarat itu, matanya membelalak.
“Tidak! Kau jangan macam-macam, Choi Minho!!” teriaknya seraya menyingkirkan tangan sang adik dari bahunya.
“Aish, HYUNG!!”

++ Sementara itu di rumah Lee Tae Yeon alias Lee Taemin ++

Taemin membaca iklan besar di halaman 25 koran pagi yang terbuka lebar di atas meja dan spontan menjatuhkan sepatu yang dipegangnya. Donghae yang sedang merapikan kemeja kerjanya menoleh ke arah adik laki-lakinya itu.
“Kamu kenapa Taemin? kok mukanya pucat begitu?” tanyanya khawatir.
“I, itu… itu Hyung…” Taemin hanya mampu mengarahkan telunjuknya ke halaman koran yang membuatnya terkejut. Donghae mengambil koran tersebut dan membacanya dengan seksama.
“Pendaftaran sekolah musim panas Santa Bernadeth? Memangnya ada apa dengan ini?” tanyanya lagi.
Taemin menunduk malu, enggan menceritakan alasan mengapa ia begitu heboh dengan pengumuman di koran itu karena Taemin tahu ia pasti akan digoda oleh Donghae. Akan tetapi tanpa mendapat jawaban apapun dari sang adik, Donghae pun akhirnya mengetahui alasannya dan senyum jahil pun terukir di bibirnya.

“Yah, jangan-jangan kau teringat Kim Gwiboon ya?” goda Donghae seraya menyenggol-nyenggol Taemin dengan sikunya.
Kim Gwiboon adalah putri keluarga Kim yang terkenal karena kecantikan, kepintaran, dan keanggunannya. Taemin bertemu gadis itu dua bulan yang lalu di sebuah acara asosiasi pengusaha se-Korea yang diadakan oleh ayahnya dan langsung terpesona padanya. Melalui perbincangan singkat mereka berdua, terungkap bahwa Gwiboon berniat untuk mendaftar sekolah musim panas Santa Bernadeth. Dengan wajah makin memerah, Taemin terpaksa mengangguk.
“Ha, habis dia cantik sekali hyung… Aku ingin sekali satu sekolah dengannya, tapi peraturan di sekolahku tidak memperbolehkan siswanya untuk pindah kecuali mereka tidak naik kelas.” gumam pemuda berwajah manis itu, sedih.
“Lalu kau mau apa? Ikut mendaftar di sekolah musim panas itu? Lee Taemin, walau wajahmu lebih manis daripada perempuan tetap saja kau itu laki-laki. Tidak mungkin kau menjadi salah satu siswa di sana!” ujar Donghae sambil berkacak pinggang.

Taemin semakin menundukkan kepalanya, kali ini dengan perasaan kecewa. Pupus sudah harapannya untuk menjadi teman dekat gadis pujaannya. Donghae yang cuek melempar koran pagi di tangannya ke sofa di sebelah Taemin dan kembali berkutat dengan kemejanya. Akan tetapi tiba-tiba ia teringat sesuatu.
“Santa Bernadeth…” ucapnya sambil memasang dasi di leher,”kalau tidak salah rekan bisnisku ada yang menjabat sebagai salah satu panitia penerimaan murid di sekolah musim panas itu…”
Kalimat singkat dan mungkin bisa dianggap sebagai gumaman belaka, namun bagi Taemin itu adalah kalimat terindah yang pernah didengarnya. Dengan cepat, pemuda 17 tahun itu melingkarkan kedua lengannya di pinggang Donghae.
“HYUNG, AKU MOHON TOLONGLAH AKU!!!”

(flashback end)

Ya begitulah kisahnya. Keduanya nekat mendaftar dan sukses tercatat sebagai salah satu siswi (atau siswa?!) sekolah musim panas angkatan tahun ini dengan motivasi yang sungguh berbeda. Keduanya menjaga rapat rahasia ini dan berusaha keras agar tidak ada yang bisa mengungkap jati diri mereka yang sesungguhnya sebelum mereka mencapai tujuan masing-masing. Hingga kini Taemin dan Minho yakin tidak ada yang mengetahui rahasia mereka… namun pertanyaannya sampai kapan mereka mampu menyembunyikan rahasia tersebut satu sama lain?
***

Seperti yang sudah dikatakan di awal tadi, sekolah musim panas Santa Bernadeth diadakan bagi para siswi yang ingin mengisi liburannya dengan kegiatan yang berguna. Garis bawahi kata ‘berguna’ tadi. Selama 3 bulan penuh, para siswi bukan hanya diajarkan 5 bahasa asing dan pengetahuan mengenai table manner serta pendidikkan kepribadian tapi mereka juga dibebaskan untuk memilih kegiatan tambahan yang mereka sukai seperti menyulam, bermusik, membuat puisi, bergabung dalam tim olahraga, dan ikut serta dalam klub debat. Minho bersyukur sekolah itu punya tim sepak bola putri hingga ia tidak harus terjebak dalam kegiatan lainnya yang sungguh mati membosankan. Ketika pertama kali Minho melihat daftar kegiatan yang bisa diikuti para siswi di Santa Bernadeth, ia ingin menertawakan kata ‘berguna’ yang sepertinya dibanggakan sekali di situ. Dalam hatinya ia mencibir, apa gunanya sih belajar menjahit dan membuat puisi? Bagi seorang lelaki, yang terpenting adalah istrinya bisa melayani suaminya dengan baik. Lalu untuk apa gadis-gadis itu ikut klub debat? Bagi Minho klub itu terlihat seperti tempat pelatihan istri-istri yang siap melawan suami mereka jika terjadi pertengkaran.

Ketika Minho baru saja mengira tak ada yang lebih konyol lagi daripada kegiatan-kegiatan tersebut, tiba-tiba muncul sebuah pengumuman besar yang membuat pemuda itu meragukan keputusannya masuk ke sekolah musim panas itu.
“Pemilihan Miss Summer Santa Bernadeth?” mulutnya bersuara, mengulang apa yang tercetak dalam karton ukuran A3 berdesain sangat perempuan dengan dominasi warna pink dan gambar mahkota seperti milik ratu kecantikan sejagat di pojok kanan atas. Saat itu ia tidak sendiri karena ada sekitar dua lusin gadis di sekitarnya yang ikut membaca pengumuman itu dengan penuh semngat.
“Memangnya kau tidak tahu?” rekan satu timnya Lee Eunsook bertanya,”pemilihan ratu sekolah seperti ini sudah 10 kali diadakan sejak tahun 1999. Kalau tidak salah, kepala sekolah Hwang yang dulu mengusulkannya.”
“Lalu apa manfaat kontes seperti ini bagi kalian semua?!” Eunsook berpikir sejenak.
“Manfaat secara nyata sih mungkin tidak ada, tapi kau kan tahu sendiri seorang gadis itu paling suka jika dirinya dianggap lebih cantik dan pintar dari yang lain!” pungkasnya.

Minho menahan diri untuk tidak menarik lepas wig yang menempel di kepalanya dan mengamuk di kantor kepala sekolah saat itu juga. Pemuda itu menghela napas keras-keras, kecewa karena ternyata gadis-gadis yang dulu dikiranya anggun dan pintar ternyata tak lebih baik dari perempuan merepotkan yang hanya mempedulikan gengsi. Minho menyeruak keluar dari kerumunan itu dan hendak berjalan menuju kelas ketika matanya menangkap dua orang yang sedang berdiri berhadapan di ujung koridor.
Lee Tae Yeon (alias Taemin) adalah salah seorang di antaranya, namun ia tidak mengenal gadis yang satu lagi. Dahi Minho berkerut ketika melihat wajah musuh bebuyutannya dipenuhi kegugupan dan pipinya bersemu kemerahan ketika berbicara dengan gadis bertubuh tinggi di depannya. Minho menepuk pundak Eunsook dan menunjuk kedua orang yang sedang diawasinya itu dengan dagunya.

“Yah, kau tahu siapa gadis yang sedang bersama Lee Tae Yeon?” tanyanya. Eunsook memicingkan mata dan ber-ooo ria.
“Itu kan Kim Gwiboon, salah satu siswi berbakat di Chungnam High School. Ternyata gosip bahwa ia terdaftar sebagai siswi sekolah musim panas di sini itu benar ya? Hey kau tahu tidak, dia itu hebat sekali. Sejak duduk di bangku taman kanak-kanak tak sekalipun gelar juara kelas lepas dari genggamannya. Ia pandai bermain piano dan dikagumi oleh banyak anak lelaki. Bayangkan saja, ke…”
“Aku tidak peduli dia itu siapa dan apa saja yang telah dilakukannya, bahkan jika ia ahli berakrobat sekalipun.” potong Minho kesal,” Aku hanya ingin tahu apa urusan Lee Tae Yeon dengan dia?”

Eunsook yang juga kesal karena acara bergosipnya dipotong hanya mengendikkan bahu dan menjawab sekenanya,
“Mana aku tahu. Kau tanyakan langsung saja pada Tae Yeon. Min Jeong kau tidak mau coba ikut kontes Miss Summer itu?”
Minho mendesis dan mengangkat tangan seolah hendak memukul Eunsook.
“Sampai mati pun aku tidak akan sudi mengikuti kontes ratu-ratuan menggelikan seperti itu!” jawabnya ketus. Pemuda itu kembali menoleh ke arah Taemin tanpa peduli gerutuan yang keluar dari mulut Eunsook. Entah mengapa Minho tidak suka melihat wajah bahagia Taemin ketika Gwiboon tersenyum hangat pada gadis itu.
***

(beberapa hari kemudian di kamar asrama Taemin dan Minho)
“Iya hyung, kau tidak perlu berteriak begitu padaku. Telingaku nyaris pecah mendengar suaramu!” protes Minho sambil menjauhkan ponsel dari telinganya. Saat itu pukul 8 malam dan untuk kesekian kalinya dalam bulan ini Siwon meneleponnya hanya untuk mengingatkan agar Minho tidak terlibat masalah di sekolah itu.

Serentetan omelan kembali terdengar dari speaker ponsel, tapi Minho hanya memutar bola matanya dengan sikap bosan. Tiba-tiba pintu kamar terbuka dan pemuda itu kelabakan melihat Taemin memasuki kamar. Sontak didekatkannya kembali ponsel di tangannya ke telinga.
“uhhmm, arasso arasso! Aku baik-baik saja di sini, kau tidak usah khawatir! Sudah dulu ya, aku harus belajar untuk tes bahasa Jerman besok. Selamat malam…” Minho menelan ludah sebelum melanjutkan,”…oppa.”
Dengan cepat, pemuda itu memutuskan sambungan dan berusaha mati-matian menyembunyikan ekspresi jijik karena baru saja bertingkah seperti adik perempuan yang manis yang memanggil kakak laki-lakinya OPPA! Minho bergidik tapi secepat kilat dipasangnya ekspresi kaku ketika menghadapi Tae Yeon yang kini terbaring menelungkup di atas ranjangnya.

“Lee Tae Yeon, kau berusaha menghindar dari tanggung jawabmu ya? Hari ini kan jadwalmu membersihkan kamar mandi. Aku terpaksa menggantikan tugasmu karena kau tidak juga kembali tadi sore. Dasar pemalas!” gerutunya. Taemin mengangkat wajah dan memicingkan matanya memandang Minho.
“Apa katamu? Aku pemalas?” pemuda itu menghela napas lelah sebelum membenamkan wajahnya lagi,” Sudahlah, Min Jeong aku sedang tidak ingin bertengkar. Aku capek.”
Minho mengangkat sebelah alisnya. Wah ini sejarah, batinnya, baru kali ini Lee Tae Yeon tidak menanggapi ajakan perang dariku. Pemuda itu menggeser bangkunya menjadi lebih dekat ke ranjang Taemin.
“Yah, memangnya kemana saja kau seharian ini? Oh ya, kuperhatikan belakangan ini kau sering sekali kembali ke asrama pada malam hari.” ujarnya.
Untuk sesaat tidak ada jawaban keluar dari tubuh kurus di atas ranjang itu, tapi beberapa detik kemudian tangan Taemin mengangsurkan selembar kertas yang dilipat pada Minho. Pemuda itu mengambilnya dan mulutnya langsung menganga ketika lipatan kertas itu terbuka.

“Kau… Jadi kau mengikuti seleksi Miss Summer konyol ini?!” tanyanya setengah berteriak.
“Siapa yang kau sebut konyol, bodoh?!” balas Taemin yang masih belum mengangkat wajahnya dari permukaan ranjang.
“Kau pulang malam hanya demi kontes ratu-ratuan menggelikan ini?! Yah katakan padaku, apa yang sebetulnya kau lakukan di sana hah?!”
“Belajar berdansa, memberi hormat, cara menjawab pertanyaan juri, melatih bakat masing-masing, belajar merias wajahku sendiri, entahlah apa lagi… aku tidak ingat.” jawab Taemin.
“Dan kau rela menjalani itu semua, hanya demi mendapat gelar gadis terpopuler di sekolah musim panas ini?!”

Taemin mengangkat wajahnya dengan tiba-tiba dan memandang Minho dengan kesal.
“Memangnya kenapa kalau iya?? Kau iri ya?!” tukasnya.
“Iri?? Mana mungkin aku iri padamu Nona Sok Sempurna!”
“Lalu kenapa kau bertanya-tanya terus seakan ingin mencampuri urusan pribadiku?!” hardik Taemin yang kini duduk dengan tangan dilipat di depan dada.
“Bukan begitu maksudku! Aku hanya tidak mau kau sampai jatuh sakit karena kelelahan. Dengar ya, kalau kau sampai sakit aku juga ikut khawatir!”

Baik Taemin maupun Minho sama-sama terperanjat mendengar pengakuan tak disengaja yang keluar dari mulut pemuda itu.
“Mwo?” satu kata diucapkan oleh Taemin, sementara Minho berusaha menutupi kegugupannya.
“Ehh maksudku kalau kau sampai sakit, nanti aku juga akan kerepotan! Kepala sekolah pasti akan menyuruhku memberikan obat, mengompres, dan sebagainya. Yah, aku ini kan orang sibuk. Mana sempat aku mengurusi orang sakit seperti itu?!” tukasnya.

Wajah Taemin kembali masam.
“Choi Min Jeong, kau itu benar-benar menjengkelkan!” desisnya seraya bangkit dan beranjak menuju kamar mandi.
***

TO BE CONTINUED

One thought on “[FF/Two-shots/Shounen-ai/PG-13] Girls Meet Love?? Nah, It’s Boy Meets Boy! – part 1 {2min couple}

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s