[FF/Three-shots/ PG 13/ Shounen-ai/ Mystery] Website of Hell – Part 3/ END {KangTeuk couple}


Young Woon mengangkat tangan kanannya untuk mengusap wajah namun gerakannya terhenti ketika ia sadar ada sebuah boneka bertali merah di tangan itu.

***

20 November 2009, 22.35 PM

Sebuah mobil meluncur cepat di jalan raya Seoul yang mulai sepi. Udara dingin yang menusuk kulit membuat penghuni kota itu enggan keluar rumah selarut itu. Sebagian besar dari mereka sudah meringkuk di balik selimut di rumah masing-masing, kecuali satu orang. Kim Young Woon mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh menuju sebuah daerah terpencil di pinggir Seoul yang sama sekali belum pernah dijamahnya, tepatnya menuju rumah Park Jung Soo. Pemuda lemah itu tad meneleponnya, walau suaranya tak begitu terdengar jelas di telinga Young Woon karena ia berbicara sambil berbisik dengan nada ketakutan yang amat sangat di dalamnya. Isak tangis juga terselip di situ ketika Jung Soo berusaha keras memberitahu apa yang sedang dialaminya pada pemuda maniak komputer itu. Sebagian besar kalimat pendek yang terucap itu tak bisa ditangkap Young Woon kecuali satu.
“To…tolong.. aku… ayahku…mau membunuh…ku…tolong… kema..ri… aku takut… aku mohon…” bisik Jung Soo. Kata-kata selanjutnya tak pernah bisa didengar Young Woon karena di seberang sana terdengar suara sesuatu yang terbanting dan hubungan pun terputus.

Tubuh Young Woon bergerak dengan sendirinya dan dengan segera dicarinya alamat rumah pemuda yang sudah beberapa bulan ini membagikan pengalaman mengerikan yang dialaminya itu padanya dengan cara yang sama ketika ia mencari tahu nama ayahnya. Begitulah ceritanya mengapa ia masih mengemudikan mobilnya selarut ini menuju daerah kumuh yang sama sekali tak dketahuinya. Kini mata Young Woon memperhatikan satu per satu rumah-rumah yang terlalu sederhana yang berderet di kiri dan kanannya… Pemanas mobil yang dinyalakan di mobilnya tak mampu menghangatkan tubuhnya yang dingin karena rasa cemas dan takut yang menguasainya. Terlebih ketika matanya tak sengaja melihat boneka kecil yang didapatnya sebulan yang lalu di bangku sebelahnya. Pegangannya pada setir mobil menguat. Haruskah….
Mendadak ia menginjak rem kuat-kuat, membuat tubuhnya sedikit terdorong ke depan. Nomor 13, itu nomor rumahnya. Jadi di sinilah rumah seorang Park Jung Soo.

Young Woon mematikan mesin dan perlahan keluar dari mobil, tak lupa dibawanya boneka yang tadi tergeletak di sebelahnya. Rumah itu sebetulnya cukup besar bila dibandingkan dengan rumah-rumah lainnya yang ada di situ tapi terkesan kumal dan tidak terawat. Halamannya yang gersang nampak sesuai dengan pagar rumah yang berkarat di sana sini. Pohon besar yang ada di sisi kanan rumah tidak memberikan kesan sejuk sama sekali, malahan kesan angker terasa amat kuat di sana. Cahaya lampu berpendar dari dalam rumah, menandakan si penghuni masih belum terlelap. Young Woon baru saja tiba di terasnya ketika suara teriakan yang membuat jantungnya melompat kaget. Suara itu, suara Jung Soo! Pemuda itu berlari menghampiri rumah itu dan meenggedor pintunya keras-keras.
“YAH!! BUKA PINTUNYA!! JUNG SOO, KAU DI DALAM KAN?!!!” teriaknya sambil terus memukul pintu itu dengan kepalan tangannya.

Jawaban yang diperolehnya hanya berupa teriakan demi teriakan kesakitan Jung Soo dan bentakan seorang laki-laki, bersamaan dengan terbantingnya barang-barang berat yang sama sekali tidak ingin diketahui Young Woon. Dengan panik, pemuda bertubuh besar itu berusaha mendobrak pintu di depannya. Setelah membenturkan tubuhnya pada kayu kokoh itu, akhirnya pintu itu menjeblak terbuka. Young Woon berlari masuk ke dalam, mencari sumber datangnya teriakan marah laki-laki asing itu dan lolongan kesakitan Jung Soo. Mata pemuda itu membelalak lebar ketika akhirnya ia melihat pemuda malang itu terkapar di lantai dengan tangan terangkat melindungi wajahnya yang keadaannya sama tidak baiknya dengan siku dan lengannya yang terluka dan mengeluarkan darah segar. Baju putihnya kotor dan kerahnya ternoda oleh darah yang berasal dari mulutnya yang sobek. Ruangan itu berantakkkan; pecahan kaca, vas, ikat pinggang, taplak meja, semuanya tergeletak di lantai. Young Woon terkesiap ketika laki-laki yang berdiri di atas tubuh kurus itu mengambil bangku kayu dan hendak menghantamkannya pada Jung Soo. Dalam sekejap pemuda itu tahu laki-laki itu adalah Park Dong Gun, ayah Jung Soo.
“HENTIKAN!!!” teriaknya.

Sontak laki-laki itu menghentikan gerakannya dan matanya dengan liar mencari si pemilik suara yang berani memerintahnya. Begitu melihat Young Woon yang berdiri tak jauh darinya, laki-laki yang sedang mabuk itu mengacungkan telunjuknya dengan marah ke arahnya.
“YAH!! Siapa kau??!! Beraninya kau masuk rumahku tanpa permisi!” raungnya sementara kini Jung Soo melepaskan tangan yang menutup wajahnya.
“Y..Young… Woon…” bisiknya. Young Woon memberinya tatapan menenangkan sebelum mengalihkan perhatiannya kembali pada Dong Gun.
“Ahjussi, lepaskan anakmu… Dia bisa mati kalau kau pukuli terus…” bujuk pemuda itu. Ia tahu orang mabuk itu bisa menjadi sangat berbahaya jika ditangani dengan kekerasan. Dong Gun meludah ke lantai sebelum berteriak lagi,
“Apa urusanmu??!!! Dia ini anak sial!! Anak tidak berguna!! Bisanya hanya membuat keluargaku hancur dan dihina orang!! Dasar banci sialan!” makinya. Air mata kini mengalir turun dari mata Jung Soo dan membuat keadaannya semakin menyedihkan. Young Woon menggenggam erat boneka di tangannya.
“Ahjussi…”
“Pergi… PERGI KAU!! JANGAN CAMPURI URUSAN KELUARGA KAMI!!” raung Dong Gun lagi.
“AKU TIDAK AKAN PERGI SEBELUM KAU MELEPASKAN JUNG SOO!!” Young Woon balas berteriak.
“KAU… DASAR SIALAN!!!”

Dengan cepat Park Dong Gun meraih pisau yang teronggok di tepi meja di dekatnya dan berlari ke rah Young Woon sambil menghunus benda tajam itu.
“YOUNG WOON!!” teriak Jung Soo.
Pemuda bertubuh besar itu menahan napas, tangannya refleks menarik tali merah yang mengikat erat leher boneka di tangannya beberapa detik sebelum pisau itu bersarang di perutnya… waktu seakan berhenti ketika ada suara dalam yang muncul di ruangan itu,
“Aku akan membalaskan dendammu.”
Tiba-tiba angin kencang berhembus membuat boneka itu terlepas dari tangan yang memegangnya dan menghilang bersama dengan tubuh Park Dong Gun menghilang tepat di depan mata Jung Soo dan Young Woon.
Keduanya membatu, tak percaya pada apa yang baru mereka lihat. Young Woon merasa kakinya lemas dan ia jatuh berlutut. Ia telah melakukannya… akhirnya ia menarik tali itu… Jung Soo mengeluarkan suara seperti orang tercekik dan Young Woon pun kembali dari rasa terkejutnya. Ia menghampiri Jung Soo dan perlahan mengangkat tubuh lemahnya. Jung Soo dengan isak tangis lega bercampur takut serta merta memeluk tubuh Young Woon.
“Sudah, jangan menangis lagi… Dia tidak akan melukaimu lagi.” gumam pemuda itu lembut walau ia tahu kemana ia akan pergi setelah ia mati nanti.
***

Park Dong Gun mengerjapkan matanya dan langsung berhadapan dengan langit kelabu yang terbentang di atasnya. Suara lembut air yang tersibak oleh suatu benda membuatnya penasaran dan ia pun bangkit dari tidurnya. Pemandangan yang ia lihat di sekitarnya sungguh membuatnya tercengang. Ia sedang berada di sebuah perahu kecil dan tengah menyusuri sebuah sungai yang seperti tak berujung dengan lampion-lampion berpendarkan sinar dari dalamnya mengambang di atas permukaannya. Ia mendongak ketika merasakan kehadiran seseorang di depannya dan semakin ternganga ketika seorang gadis kecil berpakaian kimono tengah mengayuh perahu itu dengan wajah tanpa ekspresi.
“Si..siapa kau?!! Ada dimana aku??!” bentak Dong Gun.
Gadis kecil berambut hitam itu tak menjawab. Dong Gun sudah bersiap akan menyerangnya ketika dari dalam air muncul seutas tali besar yang mirip dengan ikat pinggang yang dulu sering digunakannya untuk memukuli Jung Soo dan mengikat erat kedua tangan dan juga kakinya.

“LEPASKAN!!! APA-APAAN INI!!” laki-laki itu berteriak pada gadis kecil di depannya,” YAH, BAWA AKU PERGI DARI SINI!!! AKU HARUS MENGHAJAR ANAK SIALAN ITU!! LEPASKAN!!!!”
Bukannya melonggar, tali besar itu malah mengencangkan ikatannya dan kini menarik kedua tangan dan kaki Dong Gun kuat-kuat seakan ingin menariknya hingga terpisah dari tubuhnya. Tanpa mempedulikan teriakan kesakitan laki-laki di depannya, Ai Enma terus mengayuh perahu kecil itu hingga memasuki sebuah gerbang.
“Maaf paman, tapi kau harus ikut denganku. Kita akan pergi ke neraka.”
***

25 Desember 2009, 10.15 AM

Jung Soo melirik jam tangan yang melilit pergelangan tangannya. Sudah lima belas menit Young Woon terlambat, ia mendesah kecewa sambil menempelkan dindingnya di tembok sebelahnya. Akan tetapi kekecewaan itu terhapus ketika dari kejauhan dilihatnya pemuda yang sejak tadi ditunggunya sedang berjalan menghampirinya. Jung Soo mengerluarkan senyum termanisnya. Sejak ayahnya menghilang, kehidupannya menjadi jauh lebih baik. Ia mendapat pekerjaan paruh waktu di sebuah café, tak ada lagi yang memukulinya tiap malam dan prestasi belajarnya di kampus juga berangsur-angsur membaik. Masalah teman, siapa lagi yang butuh mereka jika ia memiliki Young Woon di sebelahnya?

Diam-diam Jung Soo merasa bersalah pada pemuda yang telah menolongnya itu. Young Woon sama sekali tidak tahu bahwa dirinya sudah lama merencanakan semua ini. Jung Soo sudah lama ingin mengirim ayahnya yang pemabuk dan seorang bajingan itu ke neraka… tapi dia tidak mau ke neraka jika ia mati nanti. Jung Soo butuh seseorang untuk menggantikannya… seseorang yang dengan rela akan melakukan sesuatu hanya dengan melihat penderitaan yang dialaminya… seseorang yang memiliki rasa keadilan yang tinggi… seseorang seperti Young Woon.

Jung Soo tersenyum sedih. Sungguh tidak adil rasanya bagi pria baik seperti Young Woon untuk menghabiskan hidup setelah kematiannya di neraka… tapi hidup ini memang tak pernah adil kan? Jung Soo menghapus senyum sedih itu dan menggantinya dengan tawa lebar seraya melambaikan tangannya dengan riang ke arah Young Woon.
Pemuda berambut hitam itu membalas lambaian tangan Jung Soo. Angin berhembus pelan dan menyingkap kerah kemejanya; sebuah lambang berupa api hitam yang tergambar di dada sebelah kanannya mengintip dari sela kemejanya.

====

THE END

A/N:
haha selesai XDDD moga2 cukup membuat reader semuanya merinding X3
ah tanda di dada Kangin itu adalah semacam ‘stempel’ yang berarti bahwa org itu telah ditandai untuk masuk ke neraka…
buat Anggi maaf kalo kurang memuaskan *bows* buat yang laen juga….
yosh!! waktunya melanjutkan project yg lainnya >.< thx for reading ^.^

this FIC could also be found in Enma D’Mightyhyunsaferlycious’s Facebook page

3 thoughts on “[FF/Three-shots/ PG 13/ Shounen-ai/ Mystery] Website of Hell – Part 3/ END {KangTeuk couple}

  1. uoooooo…………………. ksian Kang In.. hiks…. kerend” ^^
    ea ea.. jadi ntar gmn? Leeteuk g masuk nraka? cm mau bikin kang in masuk nraka? biar idup Teuki lebih baek d dunia mauput dtlah dunia?
    AIGOOOOOOOO…….
    wwkkkw…..

    • gomawo ^^
      jadi nanti, kanginnya yg masuk neraka karena kan udah dibikin perjanjiannya sama si enma ai itu.
      teukienyaaa yaah technically sih dia ga masuk neraka tapi aslinya kan dya udah ngejebak kang in jadi mungkin mereka tetep akan ketemu di sana XDD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s