[FF/Three-shots/ PG 13/ Shounen-ai/ Mystery] Website of Hell – Part 2 {KangTeuk couple}


Young Woon ternganga. Kali ini Jung Soo pasti sedang bercanda. Website dari neraka? Mendengarnya saja dia belum pernah. Belum sempat Young Woon bergerak dari keterkejutannya, tulisan lain muncul di layar putih itu.
angel4life wrote: seandainya saja aku memiliki sedikit keberanian, aku ingin sekali menuliskan nama ayahku di situ.
***

17 Oktober 2009, 10.25 PM

“Yah, apa yang sedang kaupikirkan Kang In-ah?” tanya Jung Yunho seraya meninju pelan lengan kekar Young Woon. Siang itu mereka sedang berada di kantin kampus, menikmati sisa waktu istirahat mereka yang tinggal 10 menit.
“Yunho apa kau pernah mendengar tentang website dari neraka?” Young Woon bertanya balik pada sahabatnya itu. Yang ditanya menggelengkan kepala.
“Website apa itu? Dilihat dari namanya sepertinya hanya kerjaan orang-orang iseng.” canda Yunho,” kau dengar dari mana?”
“Park Jung Soo. Kau masih ingat dia kan? Teman satu angkatan kita yang dulu pernah kutolong di sekolah?” mata Yunho membesar.
“Si banci itu?! Yah, kau masih berhubungan dengannya?” tukasnya tidak percaya. Young Woon berdecak kesal.
“Yah, jangan panggil dia seperti itu! Hormatilah orang lain sedikit!”
“Aish, Kim Young Woon sejak kapan kau jadi begitu perhatian padanya?” ujar Yunho sambil memicingkan matanya,” Jangan-jangan kau jatuh cinta padanya ya?”

Young Woon mendesis dan bersiap untuk menjitak kepala Yunho tapi Siwon memisahkan mereka.
“Hey, kalian tidak malu ya bertengkar karena hal sepele? Jung Yunho, apa yang dikatakan Kang In memang benar. Kau tidak boleh seenaknya mengata-ngatai orang seperti itu, seperti anak kecil saja.” Yunho mencibir dan merebut majalah yang ada di tangan salah satu teman sekelas mereka yang bernama Ryeowook. Siwon dan Young Woon memandangnya dengan tatapan mencela ketika dengan santai Yunho membaca majalah itu tanpa mempedulikan rengekan Ryeowook.
Siwon kemudian mengembalikan perhatiannya pada Young Woon.
“Tadi aku dengar kau bertanya tentang website aneh yang menurut kabar berasal dari neraka itu. Jujur saja Kang In, dalam hal ini aku setuju dengan Yunho. Sepertinya itu hanya kerjaan orang iseng saja. Mana ada sambungan internet di neraka?” ujarnya sambil mencoba bercanda dengan Young Woon.

Ketua tim basket kampus itu duduk di sebelah Young Woon yang kini sibuk memutar-mutar gelas plastik bekas kopi hangatnya di tangan.
“Walau begitu,” lanjut Siwon,” aku sempat merinding juga mendengar cerita Heechul tentang website itu. Dia bilang jika kita sudah memasukkan nama orang yang ingin kita kirim ke neraka, seorang gadis kecil berseragam sekolah dan bermata merah akan muncul. Gadis itu lalu memberikan sebuah boneka kecil yang diikat oleh tali berwarna merah. Katanya jika tali itu ditarik dan lepas, orang yang namanya sudah kita tulis akan langsung dibawa ke neraka. Cukup mengerikan walau masih sulit dipercaya.”

Young Woon melirik sahabatnya.
“Fantastis,” komentarnya,” maksudku Heechul. Hebat dia bisa tahu banyak tentang website yang menggemparkan itu. Jangan-jangan dia sudah pernah mengaksesnya.”
Siwon memikirkan kalimat terakhir Young Woon.
“Kau mau bilang mungkin saja website itu betul-betul ada begitu?” pemuda itu tertawa,” Kim Young Woon kau tahu sendiri bagaimana tabiat Heechul kan? Selalu ingin tahu dan membuat orang lain terkesima dengan pengetahuannya, termasuk mengenai legenda rakyat yang satu ini.”
“Tsk, legenda rakyat… Kupikir kau baru saja berkata bahwa website itu tipuan.” sindir Young Woon.
“Yah, apa kau tidak tahu legenda rakyat adalah tipuan yang disebarkan dan sialnya dipercaya sebagai kebenaran secara turun temurun?” bantah Siwon.
“Legenda adalah legenda, Tuan Choi Siwon. Ada sesuatu yang membuatnya dipercaya oleh miliaran manusia di bumi ini. Tipuan hanyalah sebuah muslihat dan aku rasa tak akan ada yang mau percaya omong kosong bukan, tuan calon pengacara?”
Siwon mendelik ke arah Young Woon namun sebentar kemudian senyumnya muncul kembali.

“Kau seharusnya masuk fakultas hukum, bukan malah berkutat membuat kode-kode program di depan laptopmu.” ujarnya. Young Woon mendengus tertawa, matanya mengawasi Yunho yang memegangi kepala Ryeowook yang berusaha mengambil kembali majalahnya dengan tangan menggapai-gapai.
“Mengotak-atik kode dan membuat program adalah hidupku dan sejak dulu aku tidak pernah suka membaca buku tebal mengenai ratusan pasal yang sejak awal dibuat untuk menegakkan keadilan yang nilainya sudah luntur,” Young Woon bangkit dari duduknya,” Website itu pun dibuat mungkin karena si pembuatnya merasa prihatin dengan ketidakadilan di planet tempat kita tinggal ini.”
***

25 Oktober 2009, 23.57 PM

Malam itu, seperti biasa Kim Young Woon duduk di depan meja tulisnya berhadapan langsung dengan laptop yang terbuka lebar. Akan tetapi tidak ada tugas yang sedang dikerjakannya ataupun halaman situs yang dibukanya. Matanya menatap desktop biru yang nyaris penuh oleh shortcut game, software, dan sebagainya. Tangannya mencengkram mouse dengan kuat, seakan ia takut mouse itu akan menggerakkan kursor di layar laptopnya dan menekan icon browser internet bergambar rubah itu. Beberapa menit yang lalu Young Woon baru saja menyudahi percakapannya di ponsel dengan Jung Soo. Setelah mereka bertukar nomor ponsel masing-masing kira-kira empat hari yang lalu, baru kali ini Jung Soo meneleponnya. Bukan sebuah percakapan yang menggembirakan memang, karena suara Jung Soo terdengar sengau tanda ia habis menangis. Ayahnya memukulinya lagi entah untuk yang keberapa kali dalam bulan ini, begitu pengakuan Jung Soo padanya.

Young Woon memperbaiki posisi duduknya dengan gelisah. Keinginan Jung Soo untuk mengirim sang ayah ke neraka kembali disuarakannya tadi, sesaat sebelum teleponnya ditutup dan keinginan mengerikan itu yang kini terus membayanginya. Pemuda bertubuh agak gempal itu semakin diliputi rasa penasaran mengenai website yang katanya dapat membuat seseorang dikirim ke neraka itu. Benarkah website itu ada? Namun pertanyaan besar yang kini sedang diajukan pada dirinya sendiri adalah beranikah ia membuktikan keberadaan website itu?
Young Woon menahan napas dan menghembuskannya kembali keras-keras. Tidak ada jalan lain. Sebelum rasa penasaran ini membunuhnya Young Woon harus mencari tahu sendiri kebenarannya. Ia menggerakan mouse di tangannya, menekan icon browser di desktop, dan dengan cepat mengetikkan alamat website itu yang belakangan ia tahu dari Heechul. Satu lagi yang ia ketahui dari Tuan Serba Tahu itu adalah website itu harus diakses tepat pukul 12 malam karena jika tidak, website yang dituju tidak akan dikenali dan dianggap tidak ada. Mengherankan? Tidak juga. Mengerikan? Tentu saja. Young Woon melirik jam di sebelah kanan bawah desktop; Pukul 11.59 PM, hanya 1 menit menjelang tengah malam. Ia menghitung mundur dalam hati…
45 detik…
30…
10…
5…
4…
3…
2…
1…
Pukul 00.00 AM. Young Woon menekan tombol ‘enter’ dan menunggu.

Sekali lagi pemuda menahan napas ketika browser mulai memproses alamat yang ditulis di bagian address itu… dan ia mematung ketika sebuah halaman website berwarna hitam pekat muncul di layar laptopnya. Di tengahnya terdapat sebuah kotak persegi panjang ramping dengan sederet huruf kanji yang tidak dimengerti Young Woon tertulis di atas kotak itu; sepertinya bahasa Jepang. Di bawah kotak itu masih ada kotak lainnya yang berukuran lebih kecil bertuliskan ‘submit’. Young Woon tidak yakin harus melakukan apa, tapi dia teringat situs pencari dimana netter hanya harus memasukkan kata kunci untuk mencari informasi yang dia butuhkan. Keningnya berkerut, mungkinkah cara kerja website ini sama? Hanya saja…. Young Woon teringat sesuatu. Ia membuka jendela baru dan mengetik alamat website sekolah menengahnya. Setelah beberapa saat berkutat dengan menu yang ada di situ, akhirnya pemuda itu mendapatkan apa yang sejak tadi dicarinya: profil para siswa yang sengkatan dengan dirinya. Ia membuka folder kelas 12-E dan segera matanya menemukan nama yang ia cari: Park Jung Soo.

Kini di layar terpampang biodata dan foto Jung Soo. Young Woon memperhatikan foto hitam putih yang terletak di sebelah kanan atas dan sontak merasa iba dengan orang yang gambarnya terlihat di sana. Mata Jung Soo terlihat begitu sedih, bibirnya juga tidak menyunggingkan senyum dan tidak bisa disangkal bahwa pemuda itu berwajah terlalu feminin sebagai laki-laki. Young Woon menggelengkan kepala dan berusaha fokus. Ia meneruskan pencarian dan dengan cepat menemukannya; nama ayah Jung Soo. Tiga huruf tertulis di sana: Park Dong Gun. Young Woon menutup halaman website sekolahnya dan kembali menaruh perhatiannya pada website yang satunya. Tangannya mengetik nama yang baru saja dibacanya itu bersiap menekan tombol ‘submit’, namun kemudian ia berhenti. Yakinkah ia atas apa yang akan dilakukannya? Haruskah rasa penasaran ini membuatnya terlibat dalam sesuatu yang sebetulnya sama sekali bukan urusannya itu? Young Woon menarik napas panjang dan dengan satu keyakinan terakhir, ditekannya tombol itu. Seberkas bola api putih terlihat seperti membakar habis kotak dan tulisan di halaman itu dalam sekejap… dan hanya meninggalkan warna hitam pekat. Young Woon kembali menunggu, namun tak terjadi apapun. Tak ada gadis kecil yang muncul, tak ada suara-suara aneh, tak ada apapun. Young Woon menundukkan kepala dengan kecewa. Sialan, rutuknya, ternyata benar kata Yunho website ini hanya mainan orang iseng saja. Ia mengangkat kepala namun dua mata berwarna merah yang terpantul pada layar hitam di depannya membuatnya nyaris terjungkal dari kursinya.

Young Woon membalikkan tubuhnya dengan cepat dan bersamaan dengan itu ia tiba-tiba menyadari bahwa dirinya tak lagi ada di kamarnya. Ia kini tengah berdiri di bawah sebuah pohon besar dan di sebelah kirinya terdapat sungai yang airnya berwarna keemasan karena disinari matahari senja yang tak terlihat keberadaannya. Tak jauh dari tempatnya berdiri terdapat sebuah rumah tradisional Jepang, bayangan seseorang sedang menenun tercetak di salah satu dinding rumah yang terbuat dari kertas tebal itu. Dimana ia berada?
“Kau memanggilku?” suara kekanakkan di depannya menyentakkan Young Woon. Mulutnya kering ketika matanya melihat gadis kecil berseragam hitam dan berambut sama legamnya dengan pakaiannya berdiri di hadapannya. Mata merah darahnya membalas tatapan Young Woon tanpa ekspresi.
“Siapa kamu dan dimana aku?!” tuntut Young Woon.
“Namaku Ai Enma dan kau sedang berada di duniaku sekarang.” jawabnya masih dengan wajah tanpa ekspresi yang entah mengapa membuat bulu kuduk Young Woon berdiri.
“Dunia apa?! Jangan coba-coba mempermainkanku!” bentak pemuda itu. Gadis kecil itu tak mempedulikan kemarahan Young Woon dan malah mengangsurkan sebuah boneka berbentuk manusia yang terbuat dari serabut berwarna coklat, di lehernya terikat selembar benang merah. Wajah pemuda itu berubah pias ketika ia menyadari bahwa website itu bukan main-main dan perkataan Heechul semuanya benar.

“Ini untukmu,” ucap gadis kecil itu dengan nada datar,” jika kau benar-benar ingin menghancurkan orang yang menyiksamu, kau harus menarik tali berwarna merah itu. Jika kau menariknya maka kau akan terikat dalam sebuah perjanjian denganku, dan orang yang kepadanya ingin kau timpakan pembalasan dendam akan segera dibawa ke neraka.”
Napas Young Woon tertahan. Kalau begitu ayah Jung Soo akan mengalami nasib seperti itu, diseret ke neraka walau belum saatnya dia untuk mati?
“Walaupun begitu,” lanjutnya,” bila aku menghantarkan pembalasan dendammu, kau harus membuat pembayaran yang sama padaku. Ketika seseorang dikutuk, dua kubur terbentuk. Ketika tubuhmu tak lagi bernyawa jiwamu akan langsung menuju ke neraka. Kau akan terus mengembara, jiwamu akan mengalami kesakitan dan penderitaan abadi. Kau tidak akan pernah tahu seperti apa surga itu…”

Angin meniup rambut hitam Ai dan menyapu pipinya yang pucat.
“Sekarang semuanya tergantung padamu untuk memutuskan apa yang terjadi selanjutnya.”
Setelah itu sunyi, tak ada yang terucap dari kedua orang yang berdiri berhadapan di tepi sungai itu. Young Woon mengulang kembali kalimat demi kalimat yang tadi diucapkan Ai dalam hati, otaknya berusaha keras menyangkal setiap katanya namun perasaannya mengatakan semua yang baru didengarnya itu nyata dan pasti akan terjadi pada dirinya jika ia menarik tali merah di leher boneka itu.
“Boleh aku bertanya sesuatu?” tanya gadis kecil itu,” mengapa kau mau membalaskan dendam seseorang yang sama sekali tidak ada hubungannya denganmu?”
Pemuda di depannya mengalihkan pandangan.
“Aku hanya merasa iba padanya… setiap kali membayangkan pukulan dan hinaan yang diterimanya, hatiku ikut berteriak meminta keadilan.” jawabnya,” Jujur saja awalnya aku merasa kehadiran situs itu hanya omong kosong belaka tapi akhirnya disinilah aku, tanpa tahu apakah ini mimpi atau kenyataan.”
“Keadilan…” ulang gadis kecil itu,” jika keadilan masih ada di duniamu, maka kau tidak akan pernah bertemu denganku.”

Young Woon menoleh ke arah Ai tepat ketika gadis kecil itu membalikkan tubuh membelakanginya.
“Pikirkanlah baik-baik. Kau hanya tinggal menarik tali itu jika kau membutuhkan bantuanku.”
Itulah kata-kata terakhir yang didengar Young Woon sebelum hembusan angin kencang membuatnya terpaksa menutup matanya rapat-rapat. Ketika ia membuka matanya kembali, didapatinya ia sudah terbaring di lantai kamarnya yang dingin. Dengan panik ia mengedarkan pandangan ke sekelilingnya dan bernapas lega ketika akhirnya ia yakin ia sudah kembali ke rumahnya. Kalau begitu apakah yang tadi itu hanya mimpi? Young Woon mengangkat tangan kanannya untuk mengusap wajah namun gerakannya terhenti ketika ia sadar ada sebuah boneka bertali merah di tangan itu.

***
TO BE CONTINUED

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s