[FF/Three-shots/ PG 13/ Shounen-ai/ Mystery] Website of Hell – Part 1 {KangTeuk couple}


A/N: annyeong lagiiiiii!!! sebelumnya author mau minta maaf dulu para reader terpaksa nunggu lamaaa untuk baca three-shots ini. Author rada rempong bagi waktu antara apply job n interview, ngurus kegiatan natal di gereja, dan juga bersenang-senang ehehehe. Satu lagi, author juga gak mau para reader kecewa kalo three shotsnya dibikin asal-asalan jadi yaaa agak lama deh nunggunya.
three-shots kali ini agak spesial karena ini three-shots crossover dimana karakter yang berperan merupakan mix antara tokoh anime dengan karakter nyata. tokoh anime yang author pakai di sini adalah Enma Ai, si hell girl dari anime Jigoku Shoujo. bagi yang ga tau bisa ditonton animenya soalnya seru hehe.

oh biar lebih asoy, baca three-shots ini sambil dengerin lagu ini:
http://www.4shared.com/file/62347514/f67441bf/07-Jigoku_Shoujo_-_aizome-noto.html?s=1

XDDDD oke selamat membaca ^.^

======

12 Oktober 2009, 11.30 PM

Waktu Seoul sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam dan sebagian besar penghuni rumah bergaya minimalis dengan sedikit sentuhan tradisional itu sudah terlelap di tempat tidurnya masing-masing. Walaupun begitu anak tertua keluarga yang menghuni rumah itu masih terjaga dan kini sedang duduk menghadap laptopnya di kamarnya yang gelap. Wajahnya yang diterangi sinar yang berasal dari benda elektronik di depannya terlihat lelah, tubuhnya sendiri sudah sejak tadi berteriak minta dibaringkan di atas tempat tidurnya namun apa daya tugas yang diberikan oleh dosen algoritma menuntutnya untuk tetap terjaga. Sambil merutuk pelan, Kim Young Woon atau yang biasa dipanggil Kang In oleh teman-teman dekatnya menggerakkan mouse ke barisan kode-kode yang baru dibuatnya. Ditekannya beberapa tombol di laptopnya dan ia langsung mengumpat keras ketika bahasa pemrograman yang sedang coba dirangkainya tidak nampak di layar.

Young Woon memijit batang hidungnya dan menghela napas. Mungkin sebaiknya ia istirahat dan mencoba kembali esok hari. Young Woon menutup program algoritma dan menekan icon instant messaging di deretan bawah desktop latopnya. Ia memasukkan alamat e-mail dan password dengan cepat lalu menunggu penyedia layanan chatting itu memprosesnya. Sesaat kemudian kotak segi empat panjang itu menampilkan deretan nama serta alamat e-mail manusia-manusia yang masih beraktivitas di dunia maya. Young Woon membiarkan matanya menelusuri nama-nama itu. Sahabat-sahabatnya sepertinya sudah bermimpi di tempat tidur mereka masing-masing karena tak satupun dari mereka yang memiliki status ‘online’ di sebelah nama mereka. Hanya ada 4 orang yang masih terjaga di daftar itu; satu orang teman kursus taekwondo Young Woon yang sepertinya sedang sibuk dan tidak mau diganggu, dua orang lainnya adalah teman yang dikenal Young Woon melalui salah satu situs jejaring sosial. Kedua orang itu jarang bertegur sapa dengannya walau mereka bertiga seringkali online dalam waktu yang bersamaan dan itu membuat Young Woon merasa sia-sia menambahkan mereka dalam daftar kontaknya. Young Woon membaca nama yang seorang lagi dan tanpa sadar mendekatkan wajahnya ke layar laptop untuk membaca ulang.

angel4life (online).
angel4life adalah nama panggilan atau yang juga dikenal dengan sebutan nick name (seperti yang juga digunakan oleh pengguna chat di seluruh dunia) yang dimiliki oleh seseorang bernama Park Jung Soo. Young Woon mengenalnya ketika ia masih duduk di bangku sekolah menengah. Waktu itu Young Woon menolongnya dari kepungan beberapa orang junior sok berandal yang mengeroyok dan menghinanya tanpa ampun. Jung Soo memandanginya dengan ucapan penuh terima kasih dan hanya menundukkan kepala ketika Young Woon bertanya mengapa dirinya tidak melawan tanpa mengucapkan apapun. Belakangan dari mulut Yunho, Young Woon akhirnya mengetahui siapa nama orang yang ditolongnya dan alasan mengapa junior-junior itu berani memukulinya.
“Namanya Park Jung Soo. Dia siswa kelas 12-E, cukup pandai walau sangat pendiam dan jarang terlihat bergaul bersama teman-teman sekelasnya. Kemungkinan besar dia tidak punya teman karena errr… ada gosip kurang menyenangkan tentang anak itu yang sudah jadi rahasia umum di sekolah ini.” Yunho berhenti sejenak,” Kau tahu, katanya si Park itu penyuka sesama jenis atau semacamnya.”

Lamunan Young Woon terputus ketika terdengar suara dari speaker laptop diikuti dengan munculnya kotak segi empat lebar di layar.
angel4life wrote: Hi, belum tidur?

Young Woon mengetik dengan cepat dan membalas pesan itu.
super_raccoon wrote: belum, masih sibuk dengan tugas sialan. Hi to you too =) Kau sendiri kenapa belum tidur?
angel4life wrote: insomnia. aku pernah bilang padamu aku biasa tidur jam 3 pagi kan?

Young Woon tanpa sadar menganggukkan kepala. Ya, walau tidak pernah bertemu dengan Jung Soo lagi setelah pengeroyokan itu (bahkan Jung Soo tidak hadir pada acara wisuda kelas tiga), bukan berarti Young Woon tidak pernah mendengar kabarnya lagi. Pada hari pertama Young Woon memulai semester pertamanya sebagai mahasiswa, sebuah e-mail yang tidak dikenalnya meminta untuk ditambahkan pada daftar kontaknya. Young Woon mengabulkannya dan belakangan baru diketahuinya bahwa pemilik e-mail itu adalah Park Jung Soo yang pernah ditolongnya. Sejak saat itu mereka berdua cukup sering berbincang-bincang melalui instant messaging seperti sekarang ini.
super_raccoon wrote: ne, maaf aku lupa haha. besok tidak kuliah?
angel4life wrote: aku sedang tidak ingin.
super_raccoon wrote: ?? kenapa?
angel4life wrote: aku tidak bisa menceritakannya padamu.
super_raccoon wrote: oh…

Young Woon menatap layar laptop, menanti kalimat lain muncul di kotak percakapan itu namun tak ada lagi yang diucapkan Jung Soo. Pemuda berambut hitam itu kemudian teringat sesuatu. Ada satu hal yang selalu ingin ditanyakan pada kawan yang selalu ditemuinya di dunia maya itu. Meski awalnya ragu, namun akhirnya jari-jarinya mengetikkan pertanyaan itu juga.
super_raccoon wrote: Jung Soo, apa gosip mengenai dirimu gay itu benar?

Young Woon kembali menunggu dengan hati berdebar. Beberapa detik berlalu namun jawaban dari Jung Soo tak pernah datang. Malah tak lama kemudian status ‘online’ nya berubah menjadi ‘offline’. Young Woon menyandarkan punggungnya dan menatap layar di depannya dengan bahu terkulai. Dasar bodoh, makinya dalam hati, memangnya kau harus menanyakan hal seperti itu padanya Kim Young Woon?! Pemuda itu mengacak rambutnya yang tebal sebelum mematikan laptopnya dan menghempaskan tubuh ke atas tempat tidur.

Sementara itu beberapa puluh kilometer dari kediaman Young Woon, seorang pemuda sedang berhadapan dengan ayahnya yang mabuk. Tubuh kurusnya gemetar melihat mata sang ayah yang merah dan tidak fokus, tangan kanannya memegang botol bir yang isinya hampir habis. Dalam hati pemuda itu berdoa agar ayahnya tidak melihat komputernya yang tadi sempat menyala, namun tampaknya doa itu tak dikabulkan karena laki-laki di depannya itu kini mengacungkan telunjuknya ke arahnya dan berteriak,
“Yah anak kurang ajar, berani betul kau memakai benda itu malam-malam begini!! Kau tahu berapa uang yang harus kukeluarkan tiap bulan karena benda sialan itu??!” ayah Jung Soo meludah ke lantai kamar putranya,” Seharusnya sudah sejak dulu kusingkirkan komputer itu!!”

Laki-laki itu kemudian melangkah maju walau sedikit sulit karena kesadarannya belum kembali, membuat Jung Soo mundur selangkah. Jika ayahnya sedang mabuk, semua yang dilakukan Jung Soo tampak salah di matanya.
Laki-laki itu memandangi putranya dengan tatapan hina, lalu ia melepas ikat pinggangnya yang besar dan terbuat dari kulit dari celananya. Kepala pengaitnya yang kokoh dan berat itu membuat mata Jung Soo membelalak ketakutan.
“Kemarikan tanganmu, anak sialan! Akan kubuat kau menyesal karena telah melanggar perintahku.” Jung Soo tak bergerak.
“AKU BILANG, KEMARIKAN TANGANMU!!” raung ayahnya dan membuat rintihan pelan lolos dari bibir Jung Soo. Dengan sangat perlahan pemuda itu mengulurkan kedua tangannya di depan dada dan segera matanya menutup, menanti rasa sakit yang ia tahu sebentar lagi akan dirasakannya. Ketika akhirnya rasa sakit itu menyentuh jari jemarinya dan membuat mulutnya mengeluarkan teriakan tertahan, Jung Soo tetap memejamkan matanya, menekan air mata yang sudah memaksa untuk keluar.
“Dasar banci!!” bentak ayahnya.
Satu sabetan lagi.
“Aku malu memiliki anak sepertimu!!”
Jung Soo menggigit bibirnya kuat-kuat hingga bibirnya mulai berdarah.
“Kau membuat keluarga kita dihina orang!! Anak sepertimu lebih baik mati saja seperti ibumu yang pelacur itu! Aku jijik melihatmu!”
Siksaan demi siksaan terus diterima tubuh Jung Soo malam itu seperti juga pada malam-malam sebelumnya, namun baginya siksaan yang paling sakit adalah kata-kata yang diucapkan sang ayah tiap kali laki-laki itu menderanya. Kata-kata yang bagai pedang yang menghunus jantungnya dalam-dalam itu berputar-putar dalam otaknya ketika Jung Soo bergelung dalam selimut di kamarnya yang kecil.
***

16 Oktober 2009, 1.30 AM

Young Woon membuka kacamata minusnya dan menghela napas lega. Akhirnya soal statistika itu bisa diselesaikannya juga. Tangannya dengan sigap meraih mouse dan mengirim jawabannya melalui e-mail. Ia melirik jam digital di atas meja; jam setengah dua pagi. Young Woon merentangkan tangan dan menguap lebar-lebar. Untung saja besok tidak ada kuliah, jadi dia bisa sedikit santai dan bangun agak siang. Sambil bersiul riang, ia melanjutkan kegiatan browsingnya yang sempat terputus karena tugas yang merepotkan tadi namun siulannya berhenti ketika di pojok kiri bawah desktop muncul sebuah kotak kecil bertuliskan notifikasi.

angel4life is online
Young Woon tercekat. Ia kembali teringat pertanyaan terakhir yang diajukannya pada Jung Soo. Dalam hati ia bertanya-tanya haruskah ia menegurnya? Bagaimana kalau ternyata Jung Soo marah padanya? Young Woon menimbang-nimbang. Yah, jika ternyata Jung Soo memang marah padanya itu kan bisa diketahui jika Young Woon menanyakan langsung padanya. Baiklah, putusnya seraya menggerakkan jari-jarinya di atas keyboard.
super_raccoon wrote: Hi, lama tak bertemu. Apa kabar?
angel4life wrote: baik. kau sedang mengerjakan tugas lagi?
super_raccoon wrote: *nods* yup, seperti biasa. oh ya sudah beberapa hari kau tidak online. sibuk kuliah?

Jawaban dari Jung Soo ditulis setengah menit kemudian.
angel4life wrote: tidak. Jariku terluka jadi aku tidak bisa menggunakan komputerku untuk beberapa hari.
super_raccoon wrote: terluka bagaimana?

Lagi-lagi jawabannya datang sedikit terlambat.
angel4life wrote: aku tidak hati-hati sewaktu menutup pintu kamar mandi.
super_raccoon wrote: haha ceroboh sekali! berapa jari yang jadi korban?
angel4life wrote: semuanya.

Young Woon mengangkat sebelah alisnya. Sungguh tidak masuk akal jika kesepuluh jari seseorang terjepit pintu secara tidak sengaja. Apa Jung Soo sedang berbohong? Young Woon menyingkirkan pikiran itu dan memutuskan untuk membicarakan hal yang menjadi alasan utamanya menyapa Jung Soo.
super_raccoon wrote: Jung Soo, apa kau membaca pertanyaanku di pertemuan kita yang terakhir?
angel4life wrote: pertanyaan apa?

Young Woon ragu, haruskah ia mengulang pertanyaan itu?
super_raccoon wrote: sebenarnya masalah ini sudah lama sekali tapi aku ingin mendengar langsung darimu. Apa gosip tentang dirimu itu benar? maksudku bahwa kau menyukai sesama jenis dan sebagainya.
Young Woon menahan napas. Ketika jawaban dari Jung Soo tak kunjung datang, ia mulai khawatir.
super_raccoon wrote: maaf aku tidak bermaksud menyinggung perasaanmu. Jika kau tidak mau membahasnya anggap saja aku tidak pernah bertanya, oke?
angel4life wrote: itu benar.

Jawaban itu akhirnya datang tepat ketika Young Woon menekan tombol ‘enter’. Pemuda itu tertegun dan tak tahu harus berkata apa. Anehnya ia tidak merasakan perasaan jijik pada Jung Soo walau jelas mantan teman satu sekolahnya itu mengakui bahwa dirinya gay. Ia tetap diam, matanya terus mengikuti kalimat demi kalimat yang muncul di layar yang ditulis oleh Jung Soo.
angel4life wrote: aku tidak tahu sejak kapan aku seperti ini. Yang jelas, sejak duduk di sekolah menengah ketertarikanku pada lawan jenis semakin berkurang dan akhirnya menghilang dengan sendirinya. Suatu hari aku jatuh cinta pada teman sekelasku; dia laki-laki tentu saja. Aku memutuskan untuk menyatakan cinta tapi dia menolak. Lebih parah lagi, dia bercerita pada teman-teman yang lain dan sejak saat itu aku dijauhi, dihina, dan dipukuli seperti yang dulu pernah kau lihat.

angel4life wrote: sekarang pun masih sama; karena tingkah laku ku yang seperti ini, banyak orang membicarakanku di kampus. Terkadang aku ingin berteriak, bertanya kepada dunia apa salah jika aku seperti ini?

Young Woon tepekur membaca curahan hati Jung Soo. Rasanya semakin aneh, dirinya ingin ikut berteriak marah pada orang-orang yang telah mengucilkan pemuda malang itu. Ini pasti rasa simpati, batinnya. Ya, hanya rasa simpati yang ia rasakan karena mendengar kisah menyedihkan seorang Park Jung Soo.
angel4life wrote: Young Woon, kau masih di situ?
super_raccoon wrote: ne, sejak tadi aku di sini, membaca semua tulisanmu.
angel4life wrote: maaf apa aku membuatmu jijik dengan pengakuanku? Wajar saja jika kau merasa begitu. Tidak apa-apa, aku sudah biasa.

Young Woon nyaris bisa membayangkan Jung Soo menundukkan kepala dengan malu.
super_raccoon wrote: tidak sama sekali. aku sama sekali tidak menganggapmu menjijikkan. Aku malah mengasihani mereka yang tidak bisa menerimamu apa adanya dan menyingkirkanmu hanya karena keadaanmu yang seperti itu.

Kali ini Jung Soo yang terdiam. Jawabannya datang selang beberapa saat kemudian.
angel4life wrote: seandainya semua orang di dunia ini seperti dirimu… seandainya ayahku sepertimu.
super_raccoon wrote: ada apa dengan ayahmu?
angel4life wrote: Young Woon, apa kau pernah mendengar tentang website dari neraka? Kata orang kita bisa mengirim orang yang kita benci ke sana hanya dengan mengakses dan menuliskan nama orang tersebut pada situs itu.

Young Woon ternganga. Kali ini Jung Soo pasti sedang bercanda. Website dari neraka? Mendengarnya saja dia belum pernah. Belum sempat Young Woon bergerak dari keterkejutannya, tulisan lain muncul di layar putih itu.
angel4life wrote: seandainya saja aku memiliki sedikit keberanian, aku ingin sekali menuliskan nama ayahku di situ.
***

TO BE CONTINUED

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s