[FF/ Two-shots/Shounen-ai/G] The Name I Loved – part 2/ END {Onkey couple}


Kibum berlari dan terus berlari, tanpa mempedulikan panggilan Jinki di belakangnya atau rasa sakit yang menghantam dadanya…

***

(Beberapa bulan kemudian)

“Ya, cheese!”
Cahaya blitz menerangi auditorium yang luas itu selama sepersekian detik, mengambil gambar para alumni Hanguk International High School yang berpose dengan wajah bahagia karena akhirnya mereka lulus dari sekolah itu dan siap menyambut hari-hari baru sebagai mahasiswa. Lee Jinki adalah salah satu di antara mereka dan sama seperti ratusan siswa lainnya, di wajahnya terpampang senyum lebar yang mampu membuat siapapun ikut merasa bahagia. Tidak ada yang tahu bahwa sejak tadi pemuda itu sibuk mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan, berusaha menemukan seseorang yang sangat ingin ditemuinya, seseorang yang sudah beberapa bulan ini tak lagi bersamanya, seseorang yang diam-diam dirindukannya; Kim kibum.

Diperhatikannya setiap wajah yang ada di situ dengan seksama, berharap bisa menemukan wajah putih itu, bertumbukkan dengan mata tajam itu, dan kembali melihat senyum di bibir kecilnya. Akan tetapi sekeras apapun usahanya, tetap tak ditemukannya sosok itu di sana. Sambil menghela napas kecewa, Jinki menyandarkan punggungnya di salah satu bangku yang ada di situ dan membuka flip ponselnya. Foto dirinya dan Kibum terpampang di layar, mengingatkannya akan hubungan mereka yang dulu dekat namun semuanya berakhir sejak hari itu. Tanpa pernah mengatakan sebabnya, Kibum menjauhinya. Ia tidak pernah mengangkat telepon darinya, bahkan sepertinya pemuda itu diam-diam mempelajari ilmu menghilang karena tiba-tiba saja sangat sulit bagi Jinki untuk menemuinya di sekolah. Yang lebih parah lagi, Kibum memutuskan untuk keluar dari koor sekolah tanpa memberitahu dia. Jinki marah sekali dan entah bagaimana caranya, di suatu hari yang cerah akhirnya si Tuan Menghilang Kim Kibum berhasil ia temukan dan langsung ia seret untuk dimintai penjelasan.

“Yah Kim Kibum, aku tidak tahu mengapa kau tiba-tiba menjadi begitu kekanakkan tapi tolong jelaskan padaku mengapa kau mengundurkan diri dari koor sekolah?” geramnya waktu itu,” Kau sebaiknya punya alasan yang jelas untuk itu… alasan yang sangat jelas!”
Kibum menolak menjawab dan meletakkan pandangannya pada papan tulis berwarna hijau di sebelah kanannya.
“Apa ini karena Min Hee? Ini masih ada hubungannya dengan dia kan?” tuntut Jinki lagi.
Kibum hanya menatapnya tanpa ekspresi sebelum berlalu dari hadapannya seakan Jinki hanya patung yang tidak bernyawa.
“KIM KIBUM!” raung Jinki seraya menarik lengan kurus itu dan memaksanya berbalik kembali,” Aku bertanya padamu, brengsek!”
“Apa pedulimu?! Memangnya kau siapa hingga aku harus melaporkan segala sesuatunya padamu?! Kau bukan siapa-siapa, Lee Jinki jadi jangan sok mengatur hidupku!” teriak Kibum berapi-api. Jinki sedikit terperanjat dengan sikapnya itu tapi memutuskan untuk tidak menyerah.
“Kalau kau lupa, Kim Kibum aku adalah sahabatmu dan kita mengikuti audisi untuk menjadi anggota koor bersama-sama dan sudah sepantasnya aku diberi tahu jika kau memutuskan untuk mengundurkan diri! Paling tidak katakan alasannya padaku, bahkan jika alasan itu ada hubungannya dengan aku dan Min Hee!” balasnya lagi masih dengan emosi yang menguasai dirinya.

Kibum mengeluarkan tawa seperti tersedak dari kerongkongannya dan menganggukkan kepala.
“Jadi kau mau tahu alasannya? Baik, akan kukatakan agar kau puas. Alasan pengunduran diriku adalah karena aku muak! Aku benci melihatmu yang selalu diagungkan oleh orang lain! Lee Jinki yang bersuara indah seperti malaikat, Lee jinki yang memiliki senyum menawan, Lee Jinki salah satu bintang paling bersinar di sekolah, Lee Jinki, Lee jinki, LEE JINKI!” Kibum mengambil napas sebelum melanjutkan luapan amarahnya,
“Sedangkan aku… siapa aku? Hanya seseorang tak dikenal yang selalu berada di belakangmu seperti seorang pelayan yang mengikuti tuannya kemana-mana. Tak peduli seberapa keras usahaku untuk menunjukkan kemampuanku, tidak akan ada yang pernah peduli padaku. Kau lihat, sejak awal semuanya hanya tentangmu… Sejak awal tidak pernah ada persahabatan!”

Napas Jinki tertahan di batang tenggorokannya. Kibum… iri padanya? Jadi selama ini… Pemuda itu menggelengkan kepala kuat-kuat.
“Tidak mungkin… Kau bohong! Aku tahu kau berbohong padaku.” ucapnya dengan suara bergetar.
“Tidak usah menyangkal kata hatimu sendiri, Lee Jinki. Kau tahu apa yang kuucapkan itu benar.”
“Kalaupun itu benar, kenapa… kenapa tak kaukatakan sejak awal?” Jinki maju menghampiri Kibum dan merenggut kerah kemejanya,” Kenapa kau harus melukaiku seperti ini?! Aku bersedia kehilangan seluruh perlakuan istimewa yang kuperoleh kalau saja kau mau mengatakannya padaku!!”
Kedua mata Jinki melebar ketika senyum pahit terukir di bibir Kibum.
“Bagaimana rasanya? Bagaimana rasanya saat kau kau mengetahui betapa aku iri padamu selama ini? Apa kau merasakan apa yang kurasa ketika kau memberitahuku mengenai hubunganmu dengan gadis itu? Rasa sakit karena merasa disisihkan, ditipu, dan tidak dipercaya oleh sahabatmu sendiri…” Jinki terkesiap dan cengkramannya mengendur.
“Apa, apa katamu?”
“Kau tidak mengerti… Kau tidak akan pernah mengerti, Jinki.”
Lagi-lagi kalimat itu.

Perlahan, Kibum melepaskan cengkaraman tangan mantan sahabatnya itu dari kerah bajunya dan tanpa berkata apa-apa lagi pemuda itu berbalik hendak meninggalkan tempat itu.
“Buat aku mengerti!” teriakan itu terdengar nyaring bahkan di telinga Jinki sendiri,” Buatlah aku mengerti tentang semua yang tidak kuketahui…”
Bahkan ketika ia mengucapkan kata-kata itu dengan tangan terkepal dan mata menghujam punggung dingin Kibum, Jinki dapat mendengar nada memohon yang amat jelas mewarnai suara tenornya.
Dilihatnya si pemilik punggung berdiri terpaku, seakan menimbang apa yang harus dilakukannya selanjutnya namun akhirnya tubuh kurus itu beranjak juga, meninggalkan Jinki yang sibuk dihantui oleh berbagai pertanyaan tak terjawab dalam benaknya untuk yang kedua kalinya.

Itulah hari terakhir ia melihat Kibum di sekolah. Sejak saat itu tak sekalipun ia melihatnya lagi, bahkan teman-teman sekelasnya pun tidak tahu di mana ia berada. Kim Kibum tidak pernah lagi datang ke sekolah dan menghilang seperti ditelan bumi. Sering Jinki mencoba mengunjunginya di rumah sewaannya namun ternyata yang dicari sudah lama pindah dari situ dan pemilik rumah tersebut tidak tahu alamat barunya. Jinki khawatir; sangat khawatir. Seringkali ia terbangun di malam hari, hanya untuk memeriksa ponselnya kalau-kalau Kibum menghubunginya namun biasanya ia akan kembali merebahkan diri dengan kecewa karena tak satupun panggilan atau pesan berasal dari Kibum. Hubungannya dengan Min Hee pun ternyata tidak berjalan mulus. Kadang Jinki merasa ini adalah kutukan yang ditinggalkan Kibum padanya karena sepanjang hubungan itu hanya pemuda itu yang ada di otaknya.

Jinki menyembunyikan wajah di balik telapak tangannya.
“Kibum, sebenarnya kau ada di mana?” bisiknya. Teringat kembali mimpinya semalam. Sahabatnya datang mengunjunginya walau tak sepatah katapun terlontar keluar dari bibirnya. Ia hanya tersenyum dan ketika Jinki berusaha menggapainya, tiba-tiba saja ia sudah berada di kamarnya sendiri. Tangan teracung ke atas seakan hendak menggapai sesuatu dan peluh membanjiri kening dan punggungnya.
Mimpi itu membuatnya takut. Jinki merasa itu adalah sebuah pertanda baginya tapi apa artinya? Tiba-tiba, dengan sangat mendadak tubuh Jinki gemetar. Perlahan ditariknya tangan yang tadi menutupi wajahnya dan diperhatikannya tangan yang bergetar hebat itu. Dengan panik, ia bangkit dan melihat ke sekelilingnya. Sebuah perasaan aneh melingkupi dirinya, seakan terjadi sesuatu pada seseorang yang dekat dengannya, seakan orang itu pergi meninggalkan dia…
“Kibum…” bisiknya parau.
Suara dering ponselnya yang nyaring membuat Jinki nyaris melempar benda itu. Ditatapnya lekat-lekat layar putih yang menampilkan kata ‘Umma’ di situ. Perasaan aneh yang sejak tadi menyergapnya kini semakin kuat mencengkram hatinya. Ia takut; Ia tahu telepon ini ada hubungannya dengan Kibum tapi ia terlalu takut untuk mendengarnya. Akan tetapi Jinki mengumpulkan segenap keberaniannya dan menekan tombol berwarna hijau di sebelah kiri bawah layar.
“…Yoboseyo?”
“…Jinki, ini Umma. Ada sesuatu yang harus Umma sampaikan padamu… Ini mengenai Kibum…”
“…”
“Jinki, Kibum… Kibum meninggal 5 menit yang lalu.”

***

(3 hari kemudian)

Sepanjang hidupnya, Lee Jinki jarang sekali menangis. Ketika ia masih kecil dan seringkali terjatuh ketika sedang bermain bersama teman-temannya, tak pernah sekalipun ia meneteskan air mata. Ketika ia beranjak dewasa dan mulai menghadapi berbagai permasalahan yang terkadang membuatnya frustasi, tak setetes pun cairan keluar dari kedua matanya. Ia selalu menghadapi hidup ini dengan senyum karena ia percaya seulas senyum akan mampu menghapus segala kesedihan yang ada di dunia.

Akan tetapi, hari ini senyum itu tak ada di wajah tampannya. Raut wajah yang biasanya bersinar dan memancarkan aura kegembiraan itu hari ini tak nampak. Ia juga tidak menangis. Walau semburat kemerahan menghiasi retina matanya namun tak setetespun cairan membasahi pipinya. Pikirannya masih berusaha mencerna kata-kata ibu kandung sahabatnya yang terucap secara putus-putus di tengah isakan tangisnya. Masih terngiang apa yang diucapkan wanita setengah baya itu padanya ketika ia memberitahukan rahasia yang selama ini dipendam rapat-rapat oleh Kibum; sangat rapat hingga hanya wanita itu, Kibum sendiri, dan Tuhan yang tahu. Jinki mengepalkan tangannya, merasa geram sekaligus sedih menerima dua buah rahasia yang selama ini selalu disembunyikan sahabatnya sendiri.

Rahasia yang pertama, tentu saja mengenai sakit yang diderita Kibum. Kebocoran jantung, begitu kata Kim ahjumma tadi. Kibum telah menderita selama delapan belas tahun karena penyakit sialan itu. Sepanjang hidup ia harus bergantung pada obat-obatan, menjalani serangkaian perawatan menyakitkan yang harus dijalaninya, dan entah berapa tahun harus ia habiskan hanya untuk menunggu donor jantung yang cocok untuknya. Kini Jinki tahu mengapa Kibum tidak pernah mengikuti pelajaran olahraga di sekolah.

Rahasia kedua yang disembunyikan Kibum kini tergenggam di tangan kanan Jinki. Sedikit terlipat karena cengkramannya tadi namun isinya masih aman tersimpan di dalam amplop yang tersegel itu. Secara singkat ibu Kibum telah memberitahukan inti dari rahasia itu yang entah bagaimana caranya diterima dengan datar-datar saja oleh Jinki. Akan tetapi ketika wanita itu memberikan amplop putih yang ada di tangannya kini, ulu hatinya serasa ditinju keras-keras hingga nyaris saja ia menyeringai kesakitan. Surat itu ditulis langsung oleh Kim Kibum, hanya beberapa jam sebelum ia menjalani operasi pencangkokkan jantung kira-kira 3 minggu yang lalu. Operasi itu berjalan lancar, namun entah mengapa jantung baru Kibum menolak bekerja sama dengan tubuhnya dan membuatnya terbaring koma selama dua minggu sebelum akhirnya ia menyerah.

Dengan tangan gemetar, Jinki membuka amplop putih itu dan menarik keluar 2 lembar kertas yang terlipat di dalamnya. Masih dengan wajah tanpa ekspresi, pemuda itu membaca kata-kata terakhir yang ditinggalkan Kibum padanya:

“Kepada Tuan Lee Jinki yang Terhormat,
Jika kau membaca tulisanku ini berarti besar kemungkinan ibu sudah membocorkan rahasiaku padamu. Aku tahu cepat atau lambat rahasia ini akan terbongkar jadi baca surat ini baik-baik, mengerti? Lee Jinki, kau masih ingat kan ketika pertama kali kita bertemu di ruang audisi? Waktu itu peserta audisi yang tersisa hanya tinggal kita berdua dan akhirnya kita berkenalan. Jujur saja, waktu itu tampangmu lucu sekali. Begitu pucat dan tanganmu tak henti-hentinya mengusap keringat di dahimu, berbeda sekali dengan Lee Jinki yang menjadi bintang di sekolah.”

Jinki tertawa tanpa suara membaca bagian pertama surat itu. Tentu saja ia masih ingat jelas betapa gugupnya mereka berdua waktu itu. Hanya saja ia sama sekali tak menyangka wajahnya nampak aneh di mata Kibum.

“Aku masih ingat dengan jelas ekspresi bodoh di wajahmu ketika namamu ada di daftar anggota baru koor sekolah kita yang terkenal itu. Aku sendiri masih sulit percaya namaku juga tercatat di sana, tapi toh kau juga yang mengguncangku keras-keras dan meyakiniku bahwa aku juga diterima. Sepertinya berada di sana dan mengikuti audisi bersamamu itu membawa keberuntungan ya? Yah, yang jelas mulai hari itu kau bilang kita adalah sahabat… dan aku senang mendengarnya.”

Jinki nyaris bisa membayangkan Kibum mengucapkannya sambil tersenyum malu. Senyum itu pula yang menghias bibir sahabatnya itu ketika Jinki memeluknya erat dan meyakininya bahwa ia pantas diterima menjadi bagian dari koor.

“Bagiku, seorang sahabat adalah seseorang yang bisa memberikan kita segalanya dan yang akan selalu membagikan apa yang dirasakannya pada kita. Aku percaya kau adalah sahabat yang baik Jinki ah, tapi pengakuanmu seusai konser natal waktu itu betul-betul membuatku kecewa. Aku sama sekali tidak menyangka kau menyembunyikan hubunganmu dengan Min Hee dan yang membuatku makin terluka, kau mengakui semuanya ketika aku hendak mengatakan sesuatu padamu. Sesuatu yang sudah kupendam selama setengah tahun belakangan. Jinki ah, aku tahu apa yang kurasakan ini salah dan mungkin kau akan jijik setelah aku mengatakannya padamu, tapi aku tak peduli. Sudah lama aku menyembunyikan segalanya darimu dan sebagai sahabat yang baik, tak sepantasnya aku berbuat begitu. Lee Jinki, yang ingin kukatakan waktu itu adalah… aku mencintaimu.”

Jinki menghembuskan napas yang tanpa sadar ditahannya sejak tadi. Alih-alih merasa jijik, rongga dada pemuda itu dipenuhi perasaan hangat yang perlahan meresap ke seluruh bagian tubuhnya. Kini ia tahu mengapa tak sekalipun nama Kim Kibum terhapus dari ingatannya bahkan ketika pemuda itu menghilang. Sejak awal, memang hanya nama itulah yang telah mengisi hati dan pikiran Jinki… Sejak dulu…

“Jinki, maafkan aku yang terpaksa berbohong padamu mengenai alasan pengunduran diriku. Aku tidak akan pernah iri padamu. Walau bagaimanapun kau sahabatku, terlebih lagi aku mencintaimu terlalu dalam untuk bisa membencimu. Aku hanya tidak tahan merasakan sakit di dadaku yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan penyakit yang kuderita. Aku tidak sanggup bertemu setiap hari denganmu dan tahu bahwa di saat yang bersamaan bukan aku yang kaupikirkan, tetapi dia… Lee Min Hee. Rasanya menyakitkan memikirkan waktumu akan lebih banyak dihabiskan bersamanya. Sempat terbersit di pikiranku bagaimana jika suatu hari kau meninggalkan aku? Sanggupkah aku menjalani hidup?”

Jinki merasa kedua matanya panas, walau masih belum ada setetespun air yang keluar dari situ. Setiap kata yang tertulis oleh jari-jari Kibum seperti menghujam jantungnya berkali-kali tanpa ampun. Kalau saja Kibum tahu bahwa tempatnya tidak pernah tergantikan oleh Min Hee bahkan oleh siapapun…

“Maafkan aku yang egois, yang selalu menuntutku untuk menjadi sahabat yang baik tapi nyatanya aku juga menyembunyikan kelainan jantungku darimu. Tadinya aku bermaksud memberitahumu mengenai operasi ini tapi kupikir aku tidak perlu lagi merepotkanmu. Sudah saatnya aku belajar hidup tanpa seorang Lee Jinki di sampingku. Lagipula aku tidak ingin melihat senyummu menghilang dari wajahmu dan membuatmu meneteskan air mata karena aku.

Jinki ah, aku tidak pernah menyesal bertemu denganmu. Walau di kehidupan ini aku tidak bisa bersamamu, tapi aku bahagia aku bisa mencintai seseorang bernama Lee Jinki. Jika operasi ini berhasil, kuharap aku masih punya cukup keberanian untuk menjumpaimu lagi. Tapi jika aku tidak dapat lagi melanjutkan hidupku, jangan pernah lupa bahwa kau pernah memiliki seorang sahabat bernama Kim Kibum yang diam-diam mencintaimu namun sayangnya terlalu takut untuk mengakuinya. Aku mendoakan yang terbaik untukmu, Lee Jinki. Terima kasih karena telah memberiku kenangan indah yang tidak akan pernah kulupakan sampai kapan pun.”

Lembaran surat itu lolos dari tangan Jinki dan jatuh ke tanah bersalju di bawah sepatunya. Bendungan itu akhirnya pecah; lelehan demi lelehan air mata itu meluncur keluar dari kedua mata pemuda itu. Segala penyesalan dan luapan emosi yang sejak tadi terpendam dalam sanubarinya kini membuncah keluar, terlukis dalam wajah yang kini tertunduk dan terdengar begitu pilu dalam isak tangis yang keluar bersamaan dengan tarikan napasnya. Kalau saja waktu itu ia tidak begitu bodoh dan menghancurkan hati Kibum dengan mengakui hubungannya dengan Min Hee, kalau saja waktu itu ia mencegah kepergian Kibum dan memaksanya mengakui semuanya, kalau saja ia tahu apa yang dirasakan Kibum padanya… Jinki bersedia merelakan apa saja agar Tuhan mau memberinya kesempatan kedua dan membalikkan waktu.

Sambil mencengkram erat batu nisan dingin yang ada di depannya, dalam hatinya Jinki terus berteriak. Berharap agar semuanya ini hanya mimpi, dan sebentar lagi ia akan terbangun di tempat tidurnya sendiri… namun Jinki tahu ini semua nyata, se-nyata kubur baru dimana tubuh tak bernyawa sahabatnya terbaring di hadapannya dan se-nyata aliran hangat yang membasahi kedua pipinya. Jinki tahu takdir sedang mengawasinya; menertawakan kekalahannya dan merayakan kemenangannya di suatu tempat.

Pemuda itu mengangkat wajahnya hingga menantang langit berawan yang memayungi bumi dan mengeluarkan teriakan keras yang gaungnya dipantulkan oleh bukit dan gunung yang mengelilingi tempat peristirahatan terakhir sahabatnya itu. Ketika akhirnya teriakan itu menghilang seiring dengan terkurasnya tenaga yang ada di tubuh Jinki, ia menempelkan keningnya di permukaan dingin batu nisan dan berbisik,
“Kembalilah… Aku mohon, jangan tinggalkan aku…”
Bagai rekaman yang rusak, bisikan itu terus menerus diulang hingga suara itupun berhenti tak lama kemudian… namun Kim kibum tetap terbaring diam. Beristirahat dalam tidur panjangnya yang abadi, membawa cinta dan juga hati Jinki pergi bersamanya.

***

A/N:
bwoh selese juga =____= sorry for the fail ending… author bikin endingnya jam stengah 3 pagi setelah bikin oneshot 2min jadi yaaah gitu deh, otak udah error. Seperti yang author blg di awal tadi bahwa fic ini sebetulnya inspired by true event dan lagunya onyu yang the name I loved tapi tentu saja dengan banyak penyesuaian dsb.
Satu yang author syukuri dari kejadian yang dialami sendiri sama aq adalah bahwa skrg aku tau yang namanya cinta itu ga bisa nunggu dan penyesalan selalu dateng belakangan… and it hurts so bad…

Okie, jadi dengan ini satu utang sudah terbayar (walo nanti aq tetep mau bikin onkey lagi dgn tema fantasy)! Setelah ini mudah-mudahan author bisa memenuhi rikuesnya Nina, Lui dan juga Nancy yang minta Yunjae. Wish me luck readers >.<
oh iya, MIANHAE buat Lee Min Hee dongsaeng yang namanya GAK SENGAJA aku pake di ff ini XDD mianhae mianhae~


this FIC could also be found in Enma D’Mightyhyunsaferlycious’s Facebook page

14 thoughts on “[FF/ Two-shots/Shounen-ai/G] The Name I Loved – part 2/ END {Onkey couple}

  1. Ah, saya reader baru disini unnie🙂

    oke, saya gak tau mau ngomen apa,
    gak tau pas ngedip eh akunya nangis TT.TT
    paling ngenes part key brantem sm onew itu😦
    dan aku bnran nyesek di endingnya TT.TT
    gk mau lnjutin lagi, takut ketauan mama nangis, aku bobo sm mama soalnya😄

    dan akhirnyapun aku nangis juga T.T love ur fic sooo much unn🙂
    aku mau onkey lagiii, buat lagiiiii
    yunjae juga boleh😄
    wkwk

  2. hiksu,,, aku reader baru…😥

    hiks,, baru read udah langsung ngucur gini air mata,,, :((

    bagus banget ffnya unnie…
    keren! *ngacung2injempol*

    mau baca onkey lagi ah… *search ff lain*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s