[FF/ Two-shots/Shounen-ai/G] The Name I Loved – part 1 {Onkey couple}



cr poster: Ezra @ Artfratermyra.worpress.com

A/N:
Annyeong!!! *melok reader atu-atu* maafkan author yang terlalu lama hiatus *bows*. Suer, author sempet keteteran sama yang namanya pencarian kerja, legalisir ijazah, ngambil foto wisuda dsb. Life is getting too hectic when you’re a 23 years old young woman =___=;; Pada twoshots kali ini author memilih couple onkey sekaligus untuk ngebayar ‘utang’ aku sama Marsha. Maaf Sha, aku belum bisa bikin onkey dengan tema Fantasy seperti yang kamu minta tapi kalo sempet aku coba bikin lagi deh. This shots is special amongst the other shots written by me cos it’s pretty much inspired by my true story, and Onew makes it worst by bringing the memory up again with his song…
sedikit saran, lebih baik baca twoshots ini dulu sebelum beralih ke 2min… ok?😄 so yeah, happy reading~

***

Kim Kibum meremas kertas di tangannya dan mengubahnya menjadi bulatan kecil sebelum melempar benda itu ke tempat sampah di ujung kamarnya yang sempit. Bidikannya rupanya meleset karena kemudian benda itu mengenai tepi tempat sampah berwarna merah dan menghilang di kolong tempat tidur setelah sebelumnya menggelinding di atas permukaan lantai yang dingin.

Kedua tangan pemuda itu bersentuhan dengan rambut tebalnya yang berwarna hitam. Helaian-helaian yang terenggut di sela jari-jarinya menekuk sedikit ketika ia mengencangkan genggamannya. Kedua manik coklat yang tadi terhalang lapisan kulit tipis di bawah alisnya kini terlihat kembali; sorotnya menyiratkan berbagai emosi yang tersimpan rapat selama ini dalam dadanya, mengisi seluruh pikirannya dan membuat jalinan syaraf di tubuhnya seakan meregang setiap kali isi otaknya tak sengaja mengingatkannya akan semua luapan rasa itu. Menjengkelkan memang, betapa hal kecil seperti itu dapat dengan mengobrak-abrik hidup seseorang dengan mudah… Bahkan untuk seseorang seperti Kim Kibum yang biasanya tidak pernah terlalu peduli dengan permasalahan yang muncul dalam kesehariannya. Akan tetapi kali ini berbeda dan Kibum tahu itu.

Oleh karena itu lah, kini ia berada di atas tempat tidurnya dengan punggung bersandar pada papan yang terasa dingin, di sebelah kirinya terdapat setumpuk kertas bergaris yang masih baru. Bulatan-bulatan kertas yang tersebar di seluruh ruangan menunjukkan usaha keras yang telah dilakukan Kibum hanya untuk menuangkan segala pergulatan batinnya pada lembaran-lembaran berwarna itu. Sambil menghela napas keras-keras, pemuda itu memerosotkan tubuhnya yang lelah dan segera kepalanya bersentuhan dengan bantal yang tadi didudukinya. Kedua maniknya menatap langit-langit kamar dengan nanar, keraguan besar terselip di balik keteguhan hatinya. Untuk sesaat ia merasa takut; takut akan apa yang mungkin akan terjadi setelah ini.

Dadanya berdebar keras memikirkan segala kemungkinan yang terlintas di otaknya, dan napasnya menjadi sesak ketika menyadari persahabatannya juga ikut dipertaruhkan dalam permainan untung-untungan ini. Untung-untungan? Kibum mendengus. Apanya yang untung-untungan? Bukankah sudah jelas sahabatnya itu juga merasakan hal yang sama padanya? Dari perlakuannya, pandangan matanya… Bukankah itu suatu pertanda? Kibum memusatkan tatapannya pada garis-garis samar yang membentang tidak begitu jauh di atas sana seakan goresan-goresan itu dapat mengkonfirmasi keyakinan yang diam-diam masih ia ragukan.

Kedua mata itu kemudian beringsut menuju selembar kertas yang terlipat rapi di atas meja kayu di sebelah tubuhnya. Tangannya bergerak menghampiri kertas itu, mengangkatnya tinggi-tinggi hingga benda tipis itu menutup langit-langit berwarna putih dengan barisan tulisan yang tercetak di sana. Satu per satu huruf itu dirangkainya walau sudah puluhan kali kalimat-kalimat itu dibacanya. Ketika serangkaian kalimat itu seakan tidak memiliki arti lagi di otak Kibum, pemuda itu akhirnya membulatkan keputusannya; Ia harus memberitahu Lee Jinki yang sebenarnya seusai konser natal nanti.

***

<b>(Concert day…)</b>

Cuaca di kota Seoul hari ini sungguh sangat tidak bersahabat. Dengan suhu kurang dari 10 derajat celcius dan menumpuknya salju di sepanjang jalan beton yang ketinggiannya mencapai pinggang orang dewasa di beberapa tempat membuat semua orang lebih suka berdiam dalam rumah masing-masing dan bergelung dalam selimut di kamar yang hangat. Keinginan itu pula yang diam-diam dipendam oleh Lee Jinki, satu dari sekian puluh anggota koor Hanguk International High School yang acapkali memenangkan penghargaan tingkat regional dan nasional. Lee Jinki bukanlah anggota biasa yang biasanya harus rela wajahnya tidak dikenali di antara sekian banyak wajah-wajah yang terpampang berderet-deret itu; pemuda itu adalah satu diantara 5 pemilik suara terindah yang ada dalam kelompok itu, yang seringkali harus tampil solo membawakan sebuah lagu secara utuh dan teman-temannya yang lain harus puas mengiringi nyanyiannya layaknya barisan penyanyi latar. Sungguh sebuah anugerah sekaligus kutukan bagi pemuda itu. Anugerah karena dengan terpilih menjadi ‘penyanyi utama tak resmi’, secara otomatis jalannya untuk memperoleh beasiswa di salah satu perguruan tinggi seni di kota itu terbuka lebar. Walaupun begitu, di acara penting seperti konser hari ini pemuda 18 tahun itu juga harus rela kehilangan waktu luangnya untuk tampil di hadapan orang banyak.

Ketika akhirnya konser berdurasi dua setengah jam itu berakhir dan Jinki menyibak tirai hitam pekat yang menyembunyikan bagian belakang panggung, dirinya langsung berhadapan dengan sahabat yang sudah setahun menemaninya; Kim Kibum. Sahabatnya itu telah mengganti seragam koor mereka dengan kemeja yang nampak sedikit kebesaran di tubuhnya, kaos berwarna putih terlihat menyembul di antara kerahnya dan sebuah capuchon berwarna abu-abu gelap melapisi bagian luar kemeja itu. Celana skinny hitam pekat yang dipadu dengan sepatu boot sebetis yang menutup rapat kedua kakinya membuat penampilannya terlihat sedikit unik di mata Jinki, namun tetap menarik. Kadang pemuda itu iri terhadap selera berpakaian Kibum yang dinilainya berbeda dari kebanyakkan remaja pada umumnya.

“Kau belum ganti baju?” pertanyaan itu meluncur keluar dari bibir Kibum. Jinki tertawa kecil seraya menunjukkan beberapa buket bunga di tangannya.
“Seperti biasa, aku tertahan di depan sana.” jawabnya sambil memunculkan senyum khas yang membuat kedua matanya menghilang. Pemuda yang satunya mencibir.
“Tentu saja kau selalu tertahan di antara lautan penggemarmu dan seperti biasa pula, aku yang harus selalu menunggu di belakang panggung sampai kau selesai mengadakan jumpa fans.” sindirnya. Jinki memberikan sorot permohonan maaf pada sahabatnya.
“Yah, sudah berapa kali kukatakan aku bukannya sengaja melakukan itu…”
“Aish, ya sudah sudah!” potong Kibum sebelum Jinki sempat menyelesaikan kalimatnya,” Aku mengerti itu resiko yang harus ditanggung seorang Lee Jinki yang terkenal dan punya suara paling bagus di seluruh Korea! Tidak perlu mengulangnya lagi di depanku, dasar Tahu menyebalkan!” tukasnya dengan tangan terlipat di depan dada.

Tawa kembali menyembur keluar dari mulut Jinki dan membuat jantung yang berdiam dalam rongga dada Kibum berdetak dengan kecepatan di atas normal. Debaran di dadanya itu kemudian bertambah kencang ketika pemuda bermata kecil di sebelahnya mengalungkan lengan ke pundaknya dan menyebarkan kehangatan baik di tubuh maupun kedua pipinya.
“Sudah, jangan marah lagi. Sebagai permintaan maaf, bagaimana kalau kau kutraktir makan di tempat biasa? Hm?” bujuk Jinki. Dahinya sedikit berkerut melihat ekspresi wajah sahabatnya yang sedikit aneh.
“T, terserah kau sajalah!” gumam Kibum, matanya tertancap erat pada lantai di bawah kakinya. Pemuda yang masih memakai seragam koor tersenyum riang.
“Nah, itu baru sahabatku! Kau tunggu di sini sebentar ya. Aku mau ganti baju dan menaruh buket-buket ini di ruang ganti. Badanku mulai gatal-gatal karena benda ini. Aish, jangan-jangan bunga ini ada kutunya?” sambil menggerutu pelan, Jinki melepaskan lengannya dari pundak Kibum dan berjalan menuju ruang ganti.

“Ji, JINKI!” panggil Kibum tanpa sadar ketika tangan sahabatnya itu sudah memegang kenop pintu.
“Ne?”
Kim Kibum tergeragap. Tiga kata yang sejak semalam sudah berada di ujung lidahnya nyaris saja ia keluarkan tanpa sengaja. Akan tetapi, kewarasan dan kesadaran bahwa terdapat beberapa pasang mata yang ada di ruangan itu yang kini melihat ke arahnya membuatnya mengurungkan niatnya.
“Kibum ah, ada apa?” kini giliran Jinki yang bertanya.
“A,ah tidak apa-apa. Cepatlah sedikit, nanti kita kehabisan makanan!” kilah Kibum.
Lagi-lagi jawaban itu membuat dahi sang vokalis berkerut, kali ini lebih dalam. Mana mungkin mereka bisa kehabisan makanan di restoran cepat saji? Sepertinya ada sesuatu yang mengganggu Kibum, pikir Jinki. Akan tetapi disingkirkannya prasangka tersebut dan sambil tersenyum ia menganggukkan kepala lalu memasuki ruangan di depannya.

***

Perjalanan menuju restoran sebagian besar didominasi oleh kesunyian di antara kedua sahabat itu. Kibum yang biasanya berceloteh riang dan menceritakan semua yang dialaminya sepanjang hari itu pada Jinki kini lebih banyak diam. Berulangkali pemuda berambut coklat itu melirik ke sebelah, berusaha menebak apa yang terjadi pada pemuda berbusana unik itu hingga ia nampak berbeda hari itu.
“Kibum ah, kau sakit ya?” tanya Jinki yang tidak tahan untuk tidak bertanya setelah 10 menit mengawasi tingkah laku Kibum yang sedikit aneh.
Sementara yang ditanya hanya menggelengkan kepala. Matanya masih tertempel pada jalan berselimutkan salju di bawahnya.
“Lalu kenapa kau diam saja? Tidak biasanya kau seperti ini. Apa… kau masih marah?” tanya Jinki lagi, kali ini matanya terus mengikuti wajah milik Kibum.
“Konyol sekali. Lee Jinki, kau tahu betul aku tidak bisa marah terlalu lama padamu.” pemuda itu mengangkat wajah dan membalas tatapan sahabatnya,” Aku tidak apa-apa. Hanya merasa sedikit kedinginan saja.”

Kibum mencoba tersenyum namun senyum itu dengan cepat menghilang ketika lagi-lagi lengan Jinki melingkari pundaknya dan bibir yang menyunggingkan senyum hangat itu berada tidak jauh dari miliknya sendiri.
“Bagaimana? Sudah lebih hangat?” pertanyaan yang terlontar dengan nada riang itu membuat Kibum kembali menundukkan kepala menghindari sorot polos di sampingnya. Tentu saja alasan ‘sedikit kedinginan’ yang tadi dilontarkan hanya karangannya belaka, namun alasan konyol itu berhasil menempatkannya kembali dalam situasi yang bisa membuatnya mati kena serangan jantung. Kibum hanya menggumamkan jawabannya sambil berdoa semoga Jinki tidak mendengar debaran keras yang menghantam dadanya.
“Huuaaahhh, tidak terasa sebentar lagi kita harus mengikuti ujian negara. Yah, kau sudah tahu akan melanjutkan ke mana?”
Kibum menggelengkan kepala.
“Aku tidak tahu apa aku bisa melanjutkan pendidikkan setelah kita lulus. Bukannya tidak mau, tapi biaya kuliah di jurusan fashion design itu besar sekali. Aku… tidak mau merepotkan ayah dan ibu lagi. Mereka sudah tua dan kurasa sudah waktunya aku membantu mereka.” jawabnya. Lagipula mereka juga sudah mengeluarkan uang yang begitu banyak hingga aku bisa bertahan hidup hingga hari ini, tambahnya dalam hati.

“Kibum ah, sudah berapa kali kukatakan kalau masalah uang kau tidak perlu khawatir. Kau bisa datang ke rumahku kapanpun kau membutuhkannya. Orang tua ku sendiri sudah pernah mengatakannya langsung padamu, kan? Bahkan ibu sudah berkali-kali menyuruhmu tinggal di rumah kami.”  ujar Jinki dengan nada serius.
“Mana bisa begitu?” Kibum tertawa kecil,”Aku kan bukan gelandangan yang tidak punya tempat tinggal sampai harus menumpang di rumah kalian.”
Jinki berdesis dan memukul pelan bagian samping kepala pemuda itu. Kain tebal long coat yang membungkus tubuhnya bersentuhan lembut dengan pipi Kibum.
“Dasar keras kepala!” omelnya pelan, namun senyum tetap menghias bibirnya terlebih ketika jari-jari panjang Kibum mengusap bagian yang tadi dipukulnya dan bibir sahabatnya itu mengerucut ke depan.

Keheningan kembali hadir dan memberikan Kibum kesempatan untuk menimbang-nimbang kapan sebaiknya ia mengatakan semuanya pada Jinki. Haruskah ia menunggu sampai mereka tiba di tempat yang dituju? Ketika mereka duduk di halte menunggu bus yang akan membawa mereka pulang ke rumah masing-masing? Pemuda itu menelan ludah dengan susah payah. Kapanpun waktunya, ia bertekad untuk memberitahu Jinki hari ini juga. Tidak dengan surat seperti yang kemarin dulu ia rencanakan; pengakuan seperti itu hanya akan membuatnya seperti gadis-gadis konyol yang mengantri di depan kelas Jinki hanya untuk memberikan secarik pengakuan mereka. Tidak, ia harus mengatakannya secara langsung, dengan mulutnya sendiri. Dengan satu tarikan nafas, Kibum memutuskan untuk melakukannya sekarang. Mengapa harus menunggu nanti jika kau bisa mengatakannya lebih cepat? Waktu dan suasananya mendukung; tidak banyak orang yang keluar menyusuri jalan yang biasanya ramai dilewati manusia Seoul itu, mereka berdua sepertinya juga sedang hanyut dalam keheningan yang hangat di antara tubuh yang bersentuhan satu sama lain (walau Kibum bertanya-tanya apakah ini hanya persepsinya belaka?). Ayo Kibum, nuraninya memberi semangat, sekarang atau tidak sama sekali…

“Jinki…”
“Kibum ah, aku mau mengatakan sesuatu padamu.” ujar Jinki dengan suara sarat dengan kehati-hatian, jelas sekali ia tidak mendengar panggilan lirih Kibum padanya. Pemuda berjaket capuchon itu mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum menjawab pertanyaan itu dengan sedikit rasa kecewa terselip di hatinya,
“Mwo? Yah, kenapa tiba-tiba wajahmu jadi serius seperti itu?” ia mencoba bercanda walau dalam hati ia menerka-nerka apa yang ingin dikatakan Jinki padanya.
Sahabatnya itu sepertinya tidak menanggapi candanya dan kini malah nampak semakin gugup.
“Kau berjanji akan tetap menjadi temanku walau aku baru mengatakannya padamu sekarang?” tanyanya.
Kibum mengerutkan keningnya dan mengendikkan bahu.
“Tergantung apa yang akan kau katakan nanti.”

Jinki mengawasinya sejenak sebelum mengambil napas panjang.
“Baiklah,” ia memulai,” kau tahu Lee Min Hee kan? adik kelas kita yang baru pindah setengah tahun yang lalu ke sekolah kita? Yang baru saja memenangkan penghargaan sebagai siswi teladan tahun ini hari Sabtu kemarin? Yang…”
“Yah, tentu saja aku tahu siapa dia. Daripada kau terus memuji-mujinya seperti itu lebih baik langsung saja ke pokok permasalahan!” potong Kibum, rasa cemburu mulai menguasai hatinya.
Jinki mengangkat tangannya seperti orang yang menyerah kalah.
“Oke, oke akan kukatakan! Kau tidak perlu marah seperti itu…” ia mengambil napas panjang sekali lagi,” Kibum, aku dan dia… kami sudah menjalin hubungan, maksudku kami sudah resmi berpacaran.”

Hati Kibum mencelos. Harapan yang tadi digenggamnya erat kini sedikit demi sedikit menguap. Celotehan riang Jinki sesudah itu sungguh menusuk hatinya, memenuhi rongga dadanya dengan rasa sakit yang membuat nafasnya pendek.
“A, apa? Apa katamu?”
“Maafkan aku, aku tahu seharusnya aku memberitahumu sejak dua minggu lalu tapi aku… yah, kau kan tidak pernaha tahu selama ini aku mengejarnya jadi kurasa…”
“Kau mengejar adik kelas kita dan aku tidak tahu apa-apa?” bisik Kibum, parau.
“Kibum, dengar…”

Tapi ia tidak mau dengar.
Dengan liar matanya meninggalkan kedua kelereng hitam milik Jinki dan menetap di jalan raya yang siang itu berwarna putih bersih sementara pemuda yang satunya berusaha menjelaskan apa yang menurutnya perlu dijelaskan. Kibum ingin sekali menutup telinganya rapat-rapat dan meneriaki pemuda yang satunya, menyuruhnya berhenti menorehkan goresan-goresan pedih itu namun ia tidak sanggup. Ia kemudian hanya menundukkan kepala dan terdiam, bagai penjahat yang siap dibawa ke tempat hukuman.

“Kibum, kau tidak apa-apa?”
Akhirnya.
Perhatian Jinki kembali pada Kibum yang masih tertunduk dengan bahu terkulai tak jauh di belakangnya. Dengan khawatir ia menghampiri sahabatnya itu dan memegang salah satu bahunya, matanya berusaha menangkap wajah pucat di depannya yang tertekuk menghadap bumi.
“Kau dengar apa yang kukatakan tadi kan? Aku tidak pernah bermaksud menyimpan rahasia seperti ini. Aku hanya ingin menunggu waktu yang tepat untuk memberitahumu.” jelasnya seraya mengguncang pelan tubuh ringkih di depannya.

Kibum tertawa dalam hati. Menunggu waktu yang tepat untuk memberitahu? Mungkin lebih tepat jika dikatakan menunggu waktu yang tepat untuk menghancurkan hatinya, menumbuknya menjadi serpihan kecil dan menunggu angin untuk menerbangkannya sesuai keinginannya.

“Kibum?!” panggil Jinki dengan kerutan yang semakin jelas terlihat di dahinya ketika bibir merah di depannya membuka dan mengeluarkan tawa kecil tanpa suara. Lebih terkejut lagi ketika akhirnya wajah itu terangkat dan kedua manik berwarna coklat itu berkaca-kaca dan membuatnya nampak seperti kelereng kaca indah.
“Mengapa kau lakukan ini padaku? Mengapa baru sekarang kaukatakan semuanya?” ucap Kibum, lirih. Jinki membuka mulutnya untuk menjawab namun jawaban itu sendiri baru berhasil dikeluarkan beberapa detik kemudian.
“Sudah kukatakan kan, aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk memberitahu sahabat terbaikku mengenai hubunganku dengan Min Hee. Aku tidak mengerti mengapa kau bersikap seakan ini adalah masalah besar yang menyangkut hidup dan matimu atau hubungan persahabatan kita.”

Saat itu juga tawa keras menghambur dari mulut si pemakai jaket capuchon abu-abu. Tawa yang lebih tepat disebut lengkingan itu terdengar membahana bahkan di tepi jalan raya yang saat itu masih sarat dengan aktivitas dan membuat kepala beberapa orang menengok ke sumber suara. Ketika akhirnya tawa itu reda, seulas senyum sedih terukir di bibir itu.

“Kau tidak pernah mengerti ya? Kau tidak akan pernah mengerti… Kau…” Kibum berusaha mencari perbendaharaan kata yang tepat di dalam otaknya namun hasilnya nihil.

Perlahan, sangat perlahan, Kibum mengangkat tangannya dan melepaskan cengkeraman di bahunya. Jinki terlalu terkejut untuk bereaksi dan hanya bisa membiarkan pegangannya terlepas.
“Maaf, tiba-tiba aku tidak enak badan. Aku harus pulang…” pamitnya masih dengan suara lirih. dengan cepat Kibum berbalik dan berjalan menjauhi Jinki tanpa sempat dicegah olehnya. Langkah Kibum semakin cepat dan makin cepat, hingga akhirnya ia menyadari bahwa ia telah berlari meninggalkan tempat itu. Air matanya yang tertarik ke belakang menjadi buktinya, walau cairan itu dengan cepat mongering terkena dinginnya udara. Kibum berlari dan terus berlari, tanpa mempedulikan panggilan Jinki di belakangnya atau rasa sakit yang menghantam dadanya…

***
TO BE CONTINUED

4 thoughts on “[FF/ Two-shots/Shounen-ai/G] The Name I Loved – part 1 {Onkey couple}

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s