[FF/ two-shots/ Yaoi/PG-15] The (Absurd) Wings of Love – part 2/ End {TaeMinho shinee pairing}


“Sudah lama menunggu, Yang Mulia?” suara itu terdengar jelas di gendang telinga Taemin. Pangeran kedua kerajaan itu langsung membalikkan badan dan memeluk malaikatnya yang sudah sangat ia rindukan. Sejak hari itu, Minho selalu menepati janjinya untuk menemui Taemin walau laki-laki bersayap itu hanya muncul pada saat kabut tebal turun dan memenuhi seluruh kota. Taemin memejamkan mata, menikmati setiap detik waktu yang berlalu dan membiarkan dirinya ditarik lebih dalam ke pelukan hangat Minho. Sayap hitam yang sama pekatnya dengan kegelapan di kamar itu anehnya nampak bersinar, membuat siapapun yang melihatnya bergidik ngeri sekaligus memandangnya penuh kekaguman.

“Aku benci musim panas.” ucap Taemin lirih,” Tuhan hampir tidak pernah menurunkan hujan dan kabut jarang sekali muncul. Entah sudah berapa lama aku menunggumu hingga tertidur karena kelelahan saat fajar menyingsing di langit. Entah sudah berapa kali pula terlintas di pikiranku untuk pergi keluar istana dan mencarimu di tengah hutan. Mungkin, dengan begitu kau akan muncul dan dan memelukku seperti ini.” Minho tersenyum dan mengecup leher jenjang Taemin, membuat napas pemuda 15 tahun itu tercekat.

“Tangisan dan seruan kerinduanmu itu telah sampai di telingaku. Yang Mulia tahu bukan, kita tidak bisa bertemu jika kabut tidak turun dan menutupi bumi tempat kau berdiam ini?”
“Tapi kenapa?” Taemin melepaskan diri dari pelukan Minho sebelum melanjutkan kata-katanya,” Haruskah kau terus bersembunyi dalam gumpalan udara dingin dan dipenuhi ketidakpastian di baliknya untuk menemui aku? Aku membutuhkanmu dalam setiap detik kehidupanku, layaknya udara yang kuhisap dan kuhembuskan setiap saat. Apa kau tidak tahu bagaimana menderitanya aku jika kita tidak bertemu sehari saja?! Aku tidak bisa bernapas, Minho!”

Pemuda itu bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan menuju jendela. Ia memandangi kebun istana yang kini didominasi warna jingga kekuningan karena musim gugur telah tiba, berusaha untuk tidak menangis walau pada akhirnya pandangannya terus mengabur bersamaan dengan derasnya air yang keluar dari matanya. Minho mengawasinya dengan kedua matanya yang bak kelereng kaca biru; benaknya sedang berkecamuk, mempertimbangkan apa ia harus memberitahu pangeran ini kenyataan yang sebenarnya.

“Mereka bilang aku gila, pelayan-pelayan itu.” ucap Taemin sebelum Minho mengatakan apa-apa,” Ibu dan ayahku, mereka bilang kau itu tidak pernah ada. Kau itu hanya khayalanku, teman masa kecil yang seharusnya dilupakan. Mereka… mereka ingin aku melupakanmu.”
Isakan Taemin terdengar semakin jelas di ruangan yang sepi itu, sementara kini kedua mata Minho berubah warna menjadi merah darah walau ekspresi dinginnya tidak berubah. Tanpa diketahui Taemin, Minho menghampiri pangeran muda itu perlahan.
“Dan kau percaya kata-kata mereka? Apa kau juga akan menuruti kemauan mereka untuk melupakanku?” tanyanya, masih dengan tatapan tajam terarah pada punggung milik Taemin.
“Tentu saja tidak!” lengkingan suara Taemin membuat Minho tertegun dan warna biru matanya berangsur-angsur kembali. Pangeran muda itu berbalik menatapnya dengan air mata masih mengalir deras di pipinya.
“Kau adalah udara bagiku dan dengan menyuruhku melupakanmu, itu sama saja artinya dengan menyuruhku bunuh diri!” Taemin memandang laki-laki di hadapannya lekat-lekat.
“Tapi, kadang aku bertanya-tanya pada diriku sendiri… apakah kau nyata? Atau jangan-jangan semua yang dikatakan orangtuaku benar. Kau tidak lebih dari tokoh ciptaan otakku yang muncul saat aku membutuhkan penguatan di tengah kegalauanku… Jangan-jangan, aku memang sudah gila…”

Taemin tertawa pelan, namun tawa itu dengan segera terhenti ketika ia merasa punggungnya bersentuhan dengan permukaan kaca yang dingin dan kedua tangannya terentang lebar dan mengapit kepalanya. Wajah Minho kini hanya berjarak 5 senti dari wajahnya sendiri, hingga Taemin merasa ia dapat melihat bayangannya sendiri di kedua manik milik laki-laki di depannya.

“Jika aku tidak nyata, lalu bagaimana aku bisa melakukan ini padamu?” sebelum Taemin sanggup berkata-kata, Minho telah menempelkan bibirnya ke atas bibir pangeran muda itu. Walau sempat melawan pada awalnya, akhirnya Taemin menyerah pada keinginan Minho… dan juga keinginannya yang sudah lama terpendam dalam sudut hatinya. Ketika akhirnya sentuhan bibir lembut Taemin tak bisa lagi memuaskan Minho, laki-laki itu mengecap dagu, rahang, dan leher pemuda itu dengan rakus. Taemin hanya bisa mengeluarkan bisikan tertahan dan mencengkram erat bahu Minho ketika tangan laki-laki itu membuka kancing pakaian tidurnya dan bibirnya mencumbui pundak dan bagian tubuhnya yang lain. Taemin memejamkan mata dan menyiapkan diri untuk apapun yang akan terjadi selanjutnya, namun tiba-tiba cumbuan-cumbuan itu berakhir.

Taemin membuka mata dan menatap Minho penuh tanda tanya.
“Min…ho?” panggilnya. Laki-laki itu tak menjawab panggilannya, namun ia menatap mata Taemin dan mengusap pipinya.
“Sekarang kau percaya, Yang Mulia?”
Taemin tersenyum. Ia meletakkan tangannya di atas tangan Minho dan mengecup bibir laki-laki itu sekilas. Minho merasa ada sesuatu yang terjadi dalam dirinya dan ia tahu betapa ia telah melakukan kesalahan besar karena memilih Taemin 9 tahun yang lalu.
“Kau tahu mengapa aku harus bersembunyi di balik tebalnya kabut hanya untuk menemuimu? Karena jika manusia lain melihatku mereka akan menjadi serakah dan merebutku darimu, dan menjauhkanku dari dirimu. Aku tidak boleh terlihat oleh siapapun, kecuali olehmu.”
Taemin memejamkan mata dan memegang erat tangan Minho yang masih menempel pada pipinya.
“Berjanjilah padaku, Minho. Jangan pernah tinggalkan aku sampai kapanpun. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika kau meninggalkanku sendirian.” pinta Taemin. Minho tidak segera menjawab, keraguan yang sejak tadi dirasakannya kini semakin menguat namun akhirnya ia membuka mulutnya dan bersuara,
“Bahkan hingga bumi mengalami kekeringan abadi dan kabut tak lagi bisa menyembunyikan wujudku, aku berjanji akan terus bersamamu.”

***

Akan tetapi janji itu tidak pernah ditepati. Sejak malam itu Minho tidak pernah lagi datang menemui Taemin, tak peduli seberapa hebat hujan yang turun atau seberapa tebal kabut yang turun menutupi bumi. Hari berganti hari dan musim dingin pun berlalu dengan cepat. Tak pernah ada tanda-tanda kedatangan Minho sedikitpun. Kelelahan yang amat sangat karena tidak tidur berhari-hari bercampur dengan rasa kecewa yang luar biasa besar membuat tubuh pangeran kedua itu semakin melemah. Sejak kecil, tubuh Taemin memang tidak bisa dibilang kuat dan ketidakhadiran Minho semakin membuat tubuhnya ringkih. Semua orang di istana sibuk; tabib terbaik di seluruh negeri dipanggil oleh raja Lee Jinki untuk mengobati putranya, namun hasilnya nihil. Salah satu dari tabib-tabib itu berkata bukan raga Taemin yang perlu diobati, namun hatinya.

“Taemin ah, umma mohon lupakan orang itu. Minho itu tidak pernah ada. Dia hanya hadir dalam bayanganmu, nak.” ujar Lee Kibum, ibu sekaligus ratu kerajaan tersebut.
“Minho itu nyata. Kau tidak pernah bertemu dengannya, kau tidak pernah merasakan sentuhannya… aku… tahu dia itu nyata dan dia akan datang lagi suatu hari nanti. Dia… sudah berjanji tidak akan meninggalkan aku.”
“Tapi…” kata-kata Kibum terputus karena Taemin kini menolehkan kepala dan menatap jendela kamarnya dengan tatapan kosong tanpa menghiraukan dirinya sama sekali.

Musim semi berlalu tanpa perubahan kondisi Taemin, bahkan tubuhnya kini semakin kurus dan lemah. Musim panas kembali datang dan pemandangan pertama yang terlihat pagi itu di kamar Taemin adalah Jonghyun yang berusaha membujuk pangeran itu untuk menghabiskan sarapannya.
“Yang Mulia, saya mohon makanlah sedikit lagi. Tolong pikirkan perasaan Yang Mulia ratu saat ini, beliau sangat sedih karena keadaan anda belum juga membaik.” ujar Jonghyun. Taemin tetap membisu, matanya tetap memandang keluar jendela. Panglima besar itu menghela napas dan menyingkirkan poni yang mulai menutupi mata pangeran yang dua hari lalu tepat berusia 16 tahun.
“Apa yang terjadi padamu, Taemin?” gumam Jonghyun sambil memperhatikan kulit pucat yang membungkus tubuh pangeran muda itu.

Entah pada detik keberapa, mata kosong Taemin tiba-tiba membelalak dan mulutnya berangsur-angsur membuka. Perlahan remaja itu beranjak dari tempat tidurnya dan tanpa mempedulikan panggilan Jonghyun, ia membuka jendela besar di depannya dan melompat keluar. Mata Taemin menatap lurus ke depan, tepatnya ke arah hutan terlarang yang ditakuti seluruh penghuni istana. Langkah kakinya semakin cepat dan tanpa disadarinya ia berlari melintasi kebun istana, menjauhi Jonghyun yang berada tak jauh darinya. Melihat hal itu, Jonghyun bergegas berlari hendak mengejar sang pangeran namun entah dengan cara apa Taemin semakin menjauh darinya dan akhirnya menghilang di balik kabut tebal di depannya. Jonghyun tersentak. Sejak kapan kabut ini muncul, terlebih lagi bagaimana bisa kabut turun di musim panas yang kering?

Sementara itu Taemin berlari dan terus berlari, menerobos pohon-pohon rimbun yang tak tersentuh sinar mentari tanpa peduli kulitnya tergores semak belukar yang sempat dijumpainya di tengah pelariannya. Ia harus memastikan apa yang dilihatnya dari dalam kamar tadi. Tba-tiba ia terjatuh; akar pohon besar di bawah kakinya membuat tubuh kurusnya bersentuhan dengan tanah dan mengotori sebagian celananya. Napasnya tersengal-sengal dan dadanya sakit, namun tangan yang terangsur di depan wajahnya membuatnya terkesiap. Taemin mendongak dan napasnya terasa semakin pendek melihat siapa pemilik tangan itu. Minho dengan wajah yang sama tampannya dengan 9 tahun lalu sedang memandangnya sambil tersenyum; pakaian putih yang dikenakannya membuat aura Minho terasa sedikit berbeda walau kehangatan yang terpancar dari dirinya tetap sama. Di belakang Minho terlihat sebuah pemandangan yang mencengangkan; Pepohonan yang tadi nampak dingin dan angker, kini terlihat indah disinari cahaya mentari yang masuk melalui sela-sela dedaunan rimbun.

“Selamat datang, Yang Mulia.” begitu ucap Minho. Tangannya masih terjulur, menunggu Taemin menyambutnya. Masih dipenuhi rasa takjub, Taemin menyambut tangan Minho dan berdiri sambil tetap berpegangan erat pada laki-laki itu.
“Aku… ada dimana?”
“Kau tidak perlu tahu kau ada dimana karena itu tidak penting.” Minho mengulang apa yang pernah dikatakannya pada awal pertemuan mereka,” Aku merindukanmu, Yang Mulia.”
Kata-kata itu seakan menghempaskan Taemin kembali ke dunia. Dengan marah, ia melepaskan pegangannya pada Minho dan mundur selangkah menjauhinya.
“Jangan pernah katakan omong kosong seperti itu lagi di depanku! Kau sudah berani mengingkari janjimu padaku, PADAKU MINHO! Kemana saja kau selama in?! Kau tahu sudah berapa lama aku menantimu setiap malam sepanjang musim yang terus berganti, hanya untuk bertemu dengan kesunyian dan kehampaan?!” tuntutnya.
“Yang Mulia, dengarkan aku…”
“TIDAK! Aku tidak mau mendengar penjelasan apapun! Aku benci padamu!!”
“Lalu mengapa kau datang kemari?”
“Karena di saat yang sama aku juga mencintaimu!” lengkingnya,” aku takut apa yang mereka katakan benar, aku takut tidak akan melihatmu lagi, AKU TAKUT KAU MENGINGKARI JANJIMU PADAKU!”

Taemin terdiam. Tubuhnya yang sejak tadi gemetar kini tersandar rapat pada batang pohon di belakangnya. Air matanya mengalir deras di pipinya walau kedua matanya dengan tegar terus memandang Minho. Laki-laki itu maju mendekati Taemin yang merasa tubuhnya menyerah ketika tangan Minho merengkuhnya dalam pelukan erat.
“Maafkan aku… tidak seharusnya kita bertemu sejak dulu. Aku hanya bisa memberikanmu kesedihan, bukan kedamaian seperti yang kujanjikan.” Taemin menggelengkan kepala dengan cepat, namun Minho kembali membisikkan sederetan kata-kata di telinganya,
“Aku tidak mau melukaimu, karena itu aku berhenti menemuimu. Aku tidak bisa membawa dirimu pergi bersamaku dan merebutmu dari orang-orang yang mencintaimu… Walaupun aku harus menghilang karena tidak menjalankan kewajibanku, tapi perasaan ini terlalu kuat dan menekanku hingga aku hampir gila. Aku tidak bisa membiarkanmu pergi bersamaku karena kau berhak untuk hidup lebih lama lagi di dunia ini.”
Taemin melepaskan pelukan mereka dan mendongak menatap wajah Minho.
“Aku ingin kau membawaku. Tidak ada alasan bagiku untuk tetap tinggal di dunia jika kau tak lagi bersamaku.” ucapnya. Minho menggeleng pelan, matanya kini memancarkan kesedihan.
“Aku tidak bisa…”
“…atau kau lebih suka hidupku berakhir menyedihkan di atas tempat tidur dalam kamarku yang dingin? Begitu?!”
Minho tertawa pelan dan merapatkan tubuh mereka berdua lagi.

“Kau ini betul-betul pangeran kecil yang manja…” ujarnya yang menimbulkan senyum di bibir Taemin.
“Ya, ibuku juga sering berkata seperti itu…” balasnya,” mulai sekarang aku adalah pangeran kecilmu yang manja, Minho.”
“Pangeran kecil yang manja… dan cantik.” ujar Minho lagi sebelum mengecup bibir Taemin sekilas. Kecupan itu kemudian bertambah intensitasnya dan semakin memanas seiring meluapnya perasaan dalam diri mereka. Ketika akhirnya semua itu berakhir, Minho menempelkan meraih kedua tangan Taemin dan menggengamnya erat.
“Katakan padaku Minho, apa kau betul-betul seorang malaikat yang dikirim Tuhan padaku?” pertanyaan Taemin itu ditanggapi dengan senyum oleh Minho.
“Sejak awal aku tidak pernah berkata aku adalah malaikat dan hingga sekarang aku tak pernah mengenal Dia. Akan tetapi aku bersyukur karena dia telah membiarkanku memilikimu, Yang Mulia.”
Taemin merasa matanya semakin berat, namun dengan sekuat tenaga ia berusaha tetap melihat mata biru indah yang dirindukannya itu.
“Bagiku, kau tetap malaikat pelindungku…” bisiknya,” aku mencintaimu, Minho.”
“…Aku juga mencintaimu, Lee Taemin.”

***
Jonghyun merasa tangannya hampir patah ketika ia menggendong tubuh kurus itu kembali ke istana. Seluruh tenaganya sekaan menghilang ketika matanya melihat tubuh itu bersandar di sebuah pohon besar dengan mata tertutup tepat di tengah hutan yang terlarang untuk dimasuki; senyum terukir di bibirnya walau jelas raga itu sudah tak bernyawa lagi. Dengan mata basah ia memandangi wajah damai pangeran di pelukannya itu dan sebuah benda di genggaman tangan kecil itu menarik perhatiannya. Dibukanya genggaman itu dan matanya melihat sesuatu yang tak pernah ia temui sepanjang hidupnya; sehelai bulu berwarna hitam tergeletak di atas tangan putih pangeran Lee Taemin.

========
THE END…

A/N: akhirnya… sumpah bikin oneshot ini susah banget. mungkin karena temanya fantasy jadi rada susah ngebayanginnya. maaf kalo gaje, kalo jelek, ancur dsb. saya siap menerima makian anda-anda semua TT.TT adios!!

this FIC could also be found in Enma D’Mightyhyunsaferlycious’s Facebook page

11 thoughts on “[FF/ two-shots/ Yaoi/PG-15] The (Absurd) Wings of Love – part 2/ End {TaeMinho shinee pairing}

  1. Aku reader bru di sni
    aku ska bgt ff yg di bt author ,,
    hbt bgt fantasinya ,,
    wlpun author ngrsa gaje tp mnrt aku bgus loh ,,
    mdh”an author bsa bkn ff yg lbh kren lg dr pda ini

  2. lagi nyari nyari ff yaoi yg pairingnya 2min eh nemu blog ni … Sumpah aku deg degan baca ni ff… Bner bner brksan… Critnya dan kata katnya ntu bkin aku suka…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s