[FF/ three shots/ PG 13/ Shounen-ai/ Drama] The Unforgivable Feeling – part 3 / END {EunHae couple}


Langit sore berwarna jingga dengan semburat keunguan menyembul masuk melalui jendela samping dan menyinari salib yang menghadap dua manusia yang saling berpandangan di depannya, menciptakan kehangatan surgawi yang kini juga menjalari sanubari Donghae. Ia tahu ia telah mendapatkan kesempatan kedua.

***

(beberapa minggu setelahnya…)

“Ji Yul-ah, berikan saja boneka itu pada Hyun Hee. Kau kan bisa bermain dengan boneka-boneka lain yang ada di kotak mainan.” omel Hyukjae pada seorang gadis kecil berambut ikal yang memeluk erat-erat boneka beruang di pelukannya.Seorang gadis kecil lain sedang menangis terisak-isak di sebelahnya.
“Tapi aku menemukannya lebih dulu artinya boneka ini milikku kan?” tukas Ji Yul, keras kepala.

Donghae yang sejak tadi melihat adegan itu memutuskan untuk membantu Hyukjae. Ia mensejajarkan tubuhnya dengan Ji Yul dan mencubit pelan pipi chubby nya.
“Hey gadis kecil, dengar baik-baik. Anak laki-laki itu paling tidak suka dengan gadis yang egois dan suka merebut barang kepunyaan orang lain. Kau mau disebut gadis menyebalkan dan dijauhi mereka jika kau dewasa nanti? Hm?” ucapnya, setengah menggoda setengah menakuti Ji Yul. Mulut gadis kecil itu menganga. Dengan cepat ia mengangsurkan boneka di tangannya pada Hyun Hee yang tidak menyangka boneka yang dimainkannya tadi akan dikembalikan lagi. Ji Yul lalu berlalu meninggalkan mereka bertiga menuju kotak mainan di pojok ruangan.

“Donghae oppa, kenapa Ji Yul tiba-tiba memberikan boneka ini padaku? Biasanya dia tidak akan mau mengembalikan mainan yang telah dirampasnya kecuali dia sudah bosan.” rengut Hyun Hee. Donghae tersenyum dan mengelus rambut gadis 8 tahun itu.
“Mungkin Ji Yul sadar bahwa perbuatannya itu tidak baik, atau,” Donghae melirik Hyukjae dan memberi isyarat agar Hyun Hee mendekat,” mungkin ia takut melihat wajah seram Eunhyuk oppa tadi.” bisiknya. Hyun Hee terkikik geli dan membuat orang yang sedang dibicarakan menatap mereka dengan curiga, namun belum sempat ia mengutarakan kecurigaannya suster Gabriella masuk ke ruangan.

Donghae bergegas berdiri dan membungkuk memberi hormat. Suster itu balas membungkuk sebelum berkata riang padanya,
“Maaf saya terpaksa merepotkanmu sekali lagi. Mengawasi anak-anak memang tidak mudah kan?”
“Jangan berkata begitu, suster. Anggap saja yang saya lakukan ini sebagai ujud terima kasih karena telah diperbolehkan menetap sementara di sini.”
Suster Gabriella tersenyum.
“Saya senang ternyata masih ada anak muda yang begitu peduli pada kami seperti dirimu. Ah, sepertinya cuacanya sedang bagus di luar. Bagaimana kalau kalian berdua jalan-jalan sebentar?” usulnya.

Donghae melirik pemuda satunya yang duduk di kursi roda.
“Boleh juga.” katanya sambil menganggukkan kepalanya pada Donghae.
Beberapa menit kemudian keduanya terlihat menyusuri jalan setapak yang berada tidak jauh dari panti itu. Udara sore itu terasa hangat dan nyaris tidak ada angin yang bertiup menggoyang daun-daun yang melekat erat pada ranting pohon dan kelopak bunga yang terhampar di kiri dan kanan mereka. Tidak ada satu kata yang meluncur keluar dari mulut keduanya, masing-masing sibuk dengan pemikirannya sendiri.
“Kau belum memberitahu suster mengenai alasan kedatanganku ke tempat kalian?” tanya Donghae yang memutuskan untuk memulai percakapan.
“Belum, dan sepertinya beliau tidak perlu tahu.”
“Kenapa?” Hyukjae tertawa kecil.
“Walau tubuhnya kecil, suster Gabriella itu sangat menyeramkan jika ia marah. Kau mau ia memarahimu dan mengusirmu dari panti jika ia tahu untuk apa kau datang kemari?” ucapnya. Donghae ikut tertawa bersamanya.

Suasana kembali hening. Donghae mendorong kursi roda Hyukjae dengan sejuta pemikiran di otaknya. Apakah ia telah dimaafkan? Apa dirinya telah cukup membuktikan penyesalannya? Haruskah ia mendengar jawabannya langsung dari bibir Hyukjae? Memang hubungan mereka berdua sudah jauh lebih baik sejak hari itu, namun sampai sekarang Donghae masih ragu mengenai apa yang dirasakan Hyukjae padanya. Ia tidak mau dibenci, tapi ia juga harus rela jika ternyata pemuda berkursi roda itu tidak bisa memberikan menghilangkan dendamnya.

“Hyukjae,” panggilnya,” aku harus kembali ke Seoul besok pagi.”
Tubuh Hyukjae menegang sedikit tapi ia tetap membisu, tak tahu apa yang harus dikatakannya untuk sesaat.
“Oh…” akhirnya hanya kalimat singkat itu yang mampu keluar dari bibirnya. Donghae diam-diam merasa kecewa. Ia mengharapkan Hyukjae mencegahnya pergi, tapi kemudian ia menyadari bahwa harapannya itu sungguh konyol. Keheningan kembali hadir di antara mereka. Di dalam hati Hyukjae terjadi pergulatan batin yang hebat. Sejujurnya ia tidak mau Donghae pergi meninggalkan tempat ini, meninggalkan dia. Akan tetapi pada saat yang bersamaan, ia juga tidak tahu apakah ia sudah sepenuhnya memaafkan pemuda Seoul itu.
Tiba-tiba kursi roda itu berhenti.

“Hyukjae, aku tahu ini terdengar aneh dan kau boleh membenciku selamanya setelah aku mengatakan ini tapi… aku bersyukur kecelakaan itu terjadi. Aku merasa itu adalah teguran dari-Nya untukku agar aku berubah, agar aku menjadi orang yang lebih baik… agar aku bisa bertemu denganmu. Walau aku juga harus menanggung dosa karena telah membuatmu menjadi yatim piatu. Aku sangat menyesal atas apa yang telah kulakukan… tapi aku sama sekali tidak menyesal bertemu denganmu.” ucap Donghae dari belakang punggung Hyukjae. Pemuda itu masih membisu, matanya tertancap pada bumi di bawah kakinya walau pikirannya berperang hebat dengan perasaanya.

“Tidak bisakah kau tinggal di sini?” kalimat itu meluncur cepat dari mulut Hyukjae dan tak tertangkap oleh Donghae.
“Mwo?” Hyukjae meremas pegangan di kursi rodanya dengan kuat.
“Apa kau harus pergi? Haruskah kau melarikan diri dariku lagi?!” desisnya. Donghae sontak memutar tubuhnya untuk berhadapan dengan Hyukjae.
“Aku tidak bermaksud melarikan diri dari siapapun, apalagi darimu…”
“Maksudmu kepulanganmu ke Seoul tidak bisa dikatakan melarikan diri, begitu?! Coba katakan padaku apa alasanmu kali ini Tuan Lee Donghae!” tukas Hyukjae.
“Kau mau tahu alasannya?! Baik, akan kukatakan sekarang juga! Lee Hyukjae, aku memutuskan untuk pulang ke Seoul karena aku tidak tahan dibenci olehmu! Aku tidak tahan menghadapi sikapmu yang dingin terhadapku, aku tidak sanggup menerima kenyataan bahwa hingga saat ini kau belum bisa memaafkanku!” balas Donghae dengan setengah berteriak,” katakan padaku Hyukjae, apalagi yang harus kulakukan sekarang? Aku berusaha menjadi teman yang baik untukmu tapi sepertinya sia-sia saja…”

Tiba-tiba Hyukjae mengeluarkan tawa liar. Lengkingannya memecah kesunyian hari yang sudah semakin sore itu sementara Donghae menatapnya dengan bingung. Tawa itu sendiri berbanding terbalik dengan air mata yang perlahan keluar dari sudut matanya yang kecil.
“Kau,” ucap Hyukjae setelah tawanya reda,” berani sekali kau menilaiku berdasarkan pemikiranmu sendiri!” Wajahnya terlihat sedih ketika ia melanjutkan kata-katanya kembali,
“Lee Donghae, aku sudah lama memaafkanmu…”
Donghae membeku di tempatnya mendengar pengakuan tersebut.

“Sudah tidak ada lagi dendam dan rasa benci padamu… Mungkin sejak dulu perasaan itu memang tidak pernah ada. Aku tidak tahu pasti karena semua ini begitu membingungkan! Selama ini aku terkesan masih menutup diri padamu karena aku menyembunyikan sesuatu. Di sini,” Hyukjae menunjuk dadanya,” telah hadir perasaan baru yang tidak bisa kumengerti… Aku tidak ingin kau pergi… Aku tahu ini salah tapi aku mau kau tetap ada di sisiku.”
“Hyukjae…”
“Tapi kau malah mau pergi dariku. Baik,” Hyukjae tersenyum pahit,” silakan pergi. Memang tidak ada gunanya hidup bersama orang cacat seperti aku. Pergilah, tidak usah pedulikan aku. Sekarang kau bisa meneruskan hidupmu dengan tenang karena aku telah memaafkanmu. Selamat tinggal, Lee Donghae.”
Hyukjae dengan cepat berbalik, hendak menyeberang jalan besar yang berada tepat di belakang jalan setapak yang tadi mereka lewati. Donghae memandangi punggung yang semakin lama semakin menjauh itu. Tangannya menggapai, berusaha menghentikan Hyukjae dan memintanya kembali namun tubuhnya masih belum bisa bergerak dan suaranya juga tak kunjung keluar. Tiba-tiba matanya melihat sebuah truk datang dari arah kanan, tepat menuju kursi roda yang kini berada di tengah jalan itu.

“Hyuk… Eunhyuk…” bisik Donghae parau. Sementara itu Hyukjae yang juga telah melihat truk itu kini membeku di tempatnya. Tubuhnya tidak mampu bergerak melihat kendaraan beroda empat yang telah membuatnya trauma sejak kecelakaan itu melaju kencang ke arahnya. Ketika truk itu semakin lama semakin dekat, Hyukjae menutup matanya rapat-rapat, pasrah atas apa yang akan terjadi pada dirinya. Mungkin lebih baik begini, lebih baik dia mati daripada harus hidup seorang diri selamanya. Suara terakhir yang didengarnya adalah klakson panjang dari truk tersebut… begitu dekat…

Satu detik…

Dua detik….

Lima… Sepuluh…

Benturan yang sejak tadi ditunggunya tidak pernah datang. Hyukjae membuka matanya sedikit demi sedikit dan mata itu langsung melebar ketika ia berhadapan dengan punggung yang tidak asing baginya. Punggung Donghae. Pemuda itu kini berdiri membelakangi Hyukjae dengan tangan terentang, terjepit di antara kursi rodanya dan truk itu.
“Hae…” suara Hyukjae bergetar hebat ketika ia menyebut nama itu.

“HEY! Apa yang kau lakukan di situ! Cepat minggir, dasar anak-anak muda sialan!” teriak si pengemudi truk sambil melongokkan kepalanya.
Donghae menurunkan tangannya dan membungkukkan badan.
“Ma..maaf…” bisiknya juga dengan getaran yang tidak kalah hebat dari Hyukjae.

Ketika akhirnya Donghae mendorong kursi roda Hyukjae ke tepi jalan dan truk itu telah berlalu setelah meninggalkan umpatan kasar yang dikeluarkan oleh pengemudi itu, keduanya hanya bisa terhenyak. Hyukjae masih berusaha mengatur napasnya sementara Donghae merosot turun dan duduk di atas tanah dengan tangan mencengkram erat rambutnya. Tiba-tiba kerah kemeja yang dipakainya direnggut oleh Hyukjae.
“Kau”, desis Hyukjae,” kau tahu apa yang kau lakukan tadi?! KAU BISA SAJA MATI, LEE DONGHAE!! Dasar sok jagoan! mau mencari muka di depanku, hah?!”
Donghae mendongak menatap wajah Hyukjae dan Hyukjae terkejut ketika mendapati mata orang di depannya telah basah.
“Aku tidak bisa membiarkan hal itu terjadi lagi… Lebih baik aku mati daripada melihatmu tewas dihantam truk tadi. Daripada kau, lebih baik aku…”
kata-kata Donghae terputus ketika Hyukjae menariknya dalam pelukan erat.

“DASAR BODOH! KAU KETERLALUAN!!” teriakan Hyukjae teredam dalam bahu Donghae. Air matanya kini kembali mengalir deras dan membasahi kemeja pemuda yang satunya.
“Aku… tidak akan pergi.” ucapan itu membuat Hyukjae mengangkat wajah dan kembali memandang Donghae.
“Aku sudah memutuskan untuk tetap tinggal di sini bersamamu. Anggap saja ini salah satu usaha untuk membuktikan kesungguhanku,” ujar Donghae lagi,” walaupun kali ini tujuannya berbeda.”
Hyukjae mengeluarkan tawa di sela-sela isakannya, namun senyum di wajahnya menghilang ketika Donghae mendekatkan wajah dan menutup jarak di antara mereka dengan mencium bibirnya.
Sebuah sensasi baru merayapi hati keduanya; walau otak mereka berkata apa yang mereka lakukan salah namun perasaan yang mengikat mereka membuat semuanya terlihat benar.

“Boleh aku memanggilmu Eunhyuk?” tanya Donghae setelah mereka melepas ciumannya. Hyukjae mengangguk.
“Sudah lama sekali aku menunggumu memanggilku dengan nama itu.” godanya. Donghae tersenyum dan memegang kedua pipi Hyukjae dengan tangannya.
“Aku masih belum tahu akan seperti apa hubungan kita selanjutnya dan apakah perasaan yang kurasakan ini nyata atau hanya ilusi semata, namun aku yakin ini takdir kita.” ujarnya.
“Kalau begitu biarlah takdir itu juga yang menuntun kita karena ia memiliki cara yang lucu untuk membuat kita mendapatkan jawaban yang kita butuhkan.” balas Hyukjae seraya mengelus tangan Donghae di pipinya.

Matahari mulai bergerak menuruni bukit, hendak beristirahat di peraduannya. Langit senja berwarna jingga dengan semburat ungu dan merah turut menumpahkan warnanya ke bumi. Semilir angin yang kini menerpa wajah kedua pemuda yang kembali pulang menuju panti asuhan sederhana yang terlihat di kejauhan, menyejukkan jiwa dan raga keduanya yang hari itu membuka lembaran baru dalam kehidupan mereka.

=======

THE END

A/N:
ya Tuhan akhirnya beres juga =____=;;
maaf lamaaa banget >.< author tadi harus proof-read keseluruhan cerita dan mengganti beberapa kata agar lebih enak dibaca. buat Hi-chan maaf kalo masih gaje *bows* sumpah ini three-shots kok rasanya susah bener ya dibuat??? pergulatan batin tokoh-tokohnya itu lho… =____=
masih gampangan KangTeuk kemana-mana… *sigh*
KangTeuk menyusul ya… semoga bisa diposting nanti malem >.<

this FIC could also be found in Enma D’Mightyhyunsaferlycious’s Facebook page

4 thoughts on “[FF/ three shots/ PG 13/ Shounen-ai/ Drama] The Unforgivable Feeling – part 3 / END {EunHae couple}

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s