[FF/ three shots/ PG 13/ Shounen-ai/ Drama] The Unforgivable Feeling – part 2 {EunHae couple}


“Lee Hyukjae, akulah yang merenggut nyawa kedua orangtuamu.”

***

(beberapa hari kemudian)

Hyukjae mendorong pintu gereja berwarna coklat dengan salah satu tangannya sementara tangan yang lain memutar roda kursi yang hampir setahun menemaninya dan memasuki ruangan berlangit-langit tinggi di dalam. Tidak ada cahaya lain yang dinyalakan di ruang itu kecuali nyala beberapa lilin yang disulut tepat di depan goa Maria*1) jauh di sebelah kiri altar. Sebuah salib besar dengan patung sang Pencipta tergantung di sana membuat ruangan itu nampak begitu suci. Dengan bangku-bangku kayu yang berederet di kiri dan kanan dan dinding ruang yang terbuat dari kayu agar umatnya tidak kedinginan ketika beribadah di musim dingin yang membekukan tubuh serta dengan orgel tua yang berdiri dengan anggun walau usianya tak lagi muda, gereja itu nampak begitu bersahaja.

Hyukjae bergerak melewati deretan bangku-bangku itu dan menghentikan kursi rodanya tepat di hadapan salib besar yang menimbulkan perasaan damai tiap kali ia memandangnya. Pemuda itu membuat tanda salib dan mulai mencurahkan isi hatinya kepada sang Khalik. Matanya tidak terpejam, malahan ia memandang salib itu lekat-lekat seperti seorang anak yang sedang bercerita pada bapa nya.

Ini sudah hari keempat Hyukjae menghabiskan sorenya di gereja. Dirinya bimbang, tidak tahu apa yang harus dia lakukan dan apa yang akan dikatakannya pada Donghae. Hyukjae tidak mau membenci pemuda Seoul itu tapi sejak pengakuan Donghae, Hyukjae secara refleks selalu menghindari pertemuan langsung dengannya. Bukannya ia sengaja, namun otaknya selalu memerintah tubuhnya untuk meninggalkan ruangan ketika Donghae berada di tempat yang sama dan matanya selalu menghindari tatapan Donghae yang bukan hanya sekali tertuju padanya. Hyukjae ingin merelakan kepergian orangtuanya dan memaafkan Donghae tapi setiap kali teringat apa yang seharusnya masih bisa ia miliki, Hyukjae merasa marah. Marah sekali pada Donghae; begitu marahnya hingga ia tak mengerti bagaimana ia harus melampiaskannya. Hyukjae merasa pipinya basah dan ia tahu saat itu juga ia menangis. Suster Gabriella selalu mengingatkannya untuk melupakan masa lalu dan bergerak maju menyambut masa depan. Akan tetapi Hyukjae tidak lagi punya masa depan dan ketika masa lalu itu mendatangi dirinya, apakah Hyukjae juga harus meneruskan langkah tanpa mempedulikannya sama sekali?

“Tuhan, tolong tunjukkan apa yang harus aku lakukan…” bisiknya seraya menundukkan kepala dan menatap kedua tangannya yang terkepal di pangkuan. Rosario*2) ungu muda melilit pergelangan tangannya.

Sekonyong-konyong pintu gereja berderak membuka dan seberkas kecil cahaya matahari sore menyusup masuk ke dalam. Cahaya itu dengan cepat menghilang seiring dengan kehadiran orang lain di ruangan itu. Donghae berdiri hanya beberapa meter jauhnya dari Hyukjae, di tangannya ada susu kotak mini rasa strawberry. Sejenak Donghae ragu untuk menghampiri pemuda di depannya, terlebih ketika Hyukjae tak menoleh ke belakang walau dia pasti tahu ada seseorang selain dirinya di ruangan itu namun Donghae akhirnya melangkah juga mendekati Hyukjae. Ketika ia sampai di sebelahnya, Donghae melihat Hyukjae dengan wajah tanpa ekspresi sedang memandangi altar bertaplak putih di depannya.

“Eun.. maksudku Hyukjae, aku sudah mencarimu kemana-mana sejak tadi. Ternyata kau ada di sini.” Donghae mencoba berbasa-basi namun orang yang diajak bicara masih membisu dan tidak mengalihkan pandangannya dari altar.
“Errr aku datang hanya untuk menyerahkan ini,” dengan cepat Donghae meletakkan susu kotak mini itu di pangkuan Hyukjae,”Suster Gabriella bilang kau sangat suka susu strawberry dan kebetulan aku menemukan susu kotak ini ketika berbelanja tadi jadi… aku… kupikir kau akan senang jika aku membelikan susu itu untukmu.”
Hyukjae tetap membisu sementara Donghae semakin merasa kehadirannya tak diinginkan di situ. Dengan kecewa ia menghembuskan napas dan memutuskan untuk pamit.
“Sepertinya kau sedang tidak ingin diganggu. Kalau begitu lebih baik aku pergi… Jangan lupa err… minum susunya oke?” dengan canggung, Donghae mengangkat tangan dan melambaikanny. Kedua tangan miliknya kembali dimasukkan ke saku celana jeansnya ketika anak muda itu membalikkan badan dan menjauhi kursi roda Hyukjae dengan kepala tertunduk.

“Lee Donghae, berhenti di situ. Kita masih punya urusan yang harus diselesaikan bukan?”
Donghae tertegun dan kembali menghadap si pemilik suara.
“Apa?”
“Jangan melarikan diri di saat kau harus mempertanggungjawabkan semua perbuatanmu. Kau harus menebus semua kesalahanmu kepadaku!” ucap Hyukjae lagi masih dengan nada dingin yang sama. Donghae menelan ludah. Ia tahu Hyukjae tidak akan semudah itu melupakan kesalahannya dan mengampuninya begitu saja. Donghae yakin dirinya siap menanggung segala akibat dosa yang telah diperbuatnya namun entah mengapa kenyataan bahwa Hyukjae menyimpan dendam membuat hatinya sakit. Perlahan, sangat perlahan pemuda itu berjalan menghampiri Hyukjae kembali seraya bertanya,
“Apa yang harus kulakukan untuk mendapat pengampunan darimu, untuk membuatmu percaya bahwa aku betul-betul menyesal dengan apa yang telah kuperbuat?”

Donghae terus berjalan menghampiri Hyukjae dan ketika ia sampai di depan kursi roda pemuda yang lebih tua setahun darinya itu, Donghae berlutut. Matanya bertumbukkan dengan milik Hyukjae yang membalasnya dengan dingin.
“Katakan padaku Lee Hyukjae, apa yang harus aku lakukan?” bisik Donghae. Untuk sesaat suasana hening memenuhi ruangan, hanya suara tawa anak-anak kecil yang sedang bermain di halaman depan gereja yang samar-samat terdengar. Dari jarak sedekat itu, Donghae bisa melihat jelas sisa tangisan di wajah dan kedua mata Hyukjae.
“Hari itu, ketika aku akhirnya sadar dan diberitahu mengenai kematian orangtuaku satu-satunya hal yang kuinginkan adalah mencabik-cabik tubuh orang yang telah menyebabkan aku kehilangan dua orang yang paling kusayangi dan membuatku terpaksa melupakan semua cita-citaku.” ujar Hyukjae pelan namun tajam,” aku ingin bertemu dengan orang itu, menghajarnya dan memintanya mengembalikan apa yang telah dia rampas dariku. Bahkan ketika kupikir aku telah merelakan semuanya, ternyata jauh dalam lubuk hatiku aku masih menyimpan dendam terhadap orang itu… terhadap dirimu, Lee Donghae.”
“Aku akan menebusnya. Katakan saja apa yang harus kulakukan agar kau mau memaafkanku.” balas Donghae tanpa sekalipun memutus pandangannya dari Hyukjae.
“Betulkah? Kalau begitu aku mau kau mengembalikan kakiku dan kedua orangtuaku. Apa kau sanggup melakukannya?”

Pertanyaan Hyukjae itu sama sekali tidak diduga sebelumnya oleh Donghae. Masih di bawah tatapan dingin Hyukjae, pemuda itu kini nampak kehilangan tekad yang ia miliki sebelumnya. Mulutnya berusaha mengatakan serangkaian kalimat atau paling tidak beberapa kosa kata namun akhirnya Donghae hanya mampu menundukkan kepala menatap kemeja lengan panjang warna abu-abu yang dikenakannya.
“Kenapa? Apa kau tidak mampu melakukannya, Tuan Donghae?” tanya Hyukjae lagi,” Jika kau tidak sanggup mengabulkan permintaanku itu, maka jangan pernah lagi datang padaku dan bertanya apa yang harus kau lakukan untuk menebus dosamu… karena aku sendiri tak punya jawabannya.”
Sorot mata Hyukjae sedikit melunak ketika Donghae mengangkat wajahnya.

“Mengapa kau harus datang sekarang? Mengapa kau harus mengakui segalanya ketika aku hampir bisa melupakan kejadian mengerikan dan menyedihkan itu? Bukankah lebih baik kau meneruskan kehidupanmu yang menyenangkan di Seoul?! Bukankah seharusnya kau biarkan saja aku hidup seperti ini tanpa harus tahu siapa orang yang telah membuatku kehilangan semuanya?!” suara pelan Hyukjae berangsur-angsur menjadi teriakan pada setiap kalimat yang diucapkannya. Napasnya sedikit memburu, matanya berkaca-kaca dan dari cara Hyukjae menggigit bibir bawahnya terlihat ia berusaha keras menahan air matanya agar tidak jatuh. Ia tidak mau terlihat lemah di hadapan Donghae.

“Kaupikir selama ini hanya dirimu yang menderita? Lee Hyukjae apa kau tahu sejak kejadian itu aku tidak bisa memejamkan mata sebentar saja di malam hari? Apa kau tahu aku menggunting setiap artikel yang berhubungan dengan kecelakaan itu dan menjilidnya menjadi sebuah kliping yang kubaca ulang hampir setiap hari hingga aku hapal setiap kata yang tercetak di sana? Apa kau tahu berapa detektif yang kusewa untuk mencari tahu asal usulmu hanya untuk menemukanmu dan meminta maaf padamu?! Apa kau tahu rasanya menjadi seseorang yang terus berdiam dalam rasa bersalahnya setiap detik, setiap menit, dan setiap waktu dalam hidupnya sejak kecelakaan itu?!? Aku tidak bisa menjalani hidupku seperti dulu lagi dan… dan aku tidak mau menjadi seorang pengecut seperti ayahku yang memilih menutupi kesalahan anaknya dengan uang!” raung Donghae yang tak lagi berlutut.

Pemuda itu kini berdiri di atas kedua kakinya dengan wajah bersimbah air mata, mencurahkan semua siksaan batin yang menderanya selama ini. Donghae kemudian mendekatkan wajahnya pada Hyukjae.

“Kau lihat kan? Aku,” ia meletakkan tangannya di atas dada,”… juga terluka. Setiap hari aku berharap akulah yang mati, bukan orangtuamu dan akan lebih baik jika aku yang kehilangan kedua kakiku, bukan kau. Mungkin dengan begitu aku tidak perlu merasakan siksaan neraka seperti yang selama ini kurasakan!”
Hyukjae tak mampu lagi menahan air matanya. Sesungguhnya ia adalah seorang yang tidak mudah percaya pada apa yang dikatakan oleh orang yang baru dikenalnya, terlebih hal yang dikatakan oleh orang yang membunuh kedua orangtuanya. Akan tetapi ada sesuatu dalam diri Donghae yang membuat Hyukjae mempercayai setiap kata yang diucapkannya. Walaupun begitu…
“Lalu apa yang kau harapkan dariku? Pengampunan? Kau tahu hanya Tuhan yang dapat memberikannya.” bisiknya dengan suara gemetar.
Donghae memejamkan mata dengan sikap lelah dan menghempaskan dirinya di atas deretan bangku kayu di sebelah kanannya.
“Haruskah aku mati untuk membuatmu memaafkanku?”

Kesunyian kembali meraja. Tak ada lagi suara tawa anak-anak di luar; ruang itu pun semakin meredup karena hari semakin sore dan cahaya lilin di sudut ruangan pun tak banyak membantu. Hyukjae mengambil napas panjang dan senyum sedih tersungging di bibirnya.
“Walaupun kau mati, orangtuaku tetap tak akan kembali padaku. Jika kau mati, maka aku ikut berdosa karena telah membuat keluargamu kehilangan seorang anggotanya.”
Donghae masih membisu, menunggu kata-kata selanjutnya yang keluar dari mulut pemuda itu.
“Seseorang pernah berkata kepadaku bahwa kita harus meninggalkan masa lalu jauh di belakang dan menyambut masa depan yang lebih baik. Dulu aku merasa kalimat ini sangat klise, terlebih ketika kau datang dan menyodorkan kembali masa lalu yang sungguh tidak ingin kuingat lagi. Lucunya, kini aku merasa nasihat itu tidak terlalu buruk untuk dicoba. Lee Donghae, kita telah sama-sama terluka oleh malapetaka itu. Kupikir daripada membuat luka yang menganga ini terus menyiksa kita, akan lebih baik jika kita berdua saling menyembuhkan satu sama lain.”

Donghae menoleh ke arah Hyukjae dan mendapati pandangan Hyukjae sudah terlebih dahulu tertuju padanya.
“Mulai detik ini aku berjanji untuk mencoba memaafkanmu sedikit demi sedikit, namun aku juga memerlukan bantuanmu untuk melakukannya. Yakini aku bahwa kau sungguh menyesal atas perbuatanmu. Sebelum kau kembali ke Seoul buat aku percaya padamu, Lee Donghae.” pungkas Hyukjae.
Langit sore berwarna jingga dengan semburat keunguan menyembul masuk melalui jendela samping dan menyinari salib yang menghadap dua manusia yang saling berpandangan di depannya, menciptakan kehangatan surgawi yang kini juga menjalari sanubari Donghae. Ia tahu ia telah mendapatkan kesempatan kedua.

======

TO BE CONTINUED

NOTES:
*1) Goa Maria: adalah gua buatan manusia yang dibuat sebagai penghormatan bagi Bunda Yesus yaitu Ibu Maria (bagi org katholik Ibu Maria dianggap suci)

*2) Rosario: kalung seperti tasbih yang terdiri dari 58 butir mutiara kecil, biasanya didoakan secara khusus pada Bulan Maria yaitu Mei dan Oktober. (sekali lagi ini salah satu devosi orang katholik)

One thought on “[FF/ three shots/ PG 13/ Shounen-ai/ Drama] The Unforgivable Feeling – part 2 {EunHae couple}

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s