[FF/ three shots/ PG 13/ Shounen-ai/ Drama] The Unforgivable Feeling – part 1 {EunHae couple}


A/N: Annyeong~ lagi-lagi author datang membawa three shot walau kali ini pairingnya beda. Three shot kali ini dibuat karena ada rikues dari mpok Hi-chan. Sebenernya si mpok mintanya rada belakangan tapi karena kebeneran author lagi ada stok plot buat eunhae yaaa mau gak mau dibikin duluan deh pesenannya *disambit ulekan*. Maaf kalau pada two shot sebelumnya (taeminho) masih buanyaaak banget kekurangannya. Author baru sadar kalo ternyata bikin one/two/three shots gak gampang dan mudah-mudahan yang kali ini bisa lebih baik dari sebelumnya. Oh lupa bilang, semua FF one/two/three shots author bakal ditulis dari sudut pandang org ketiga alias Author’s POV. Happy reading~

=====

Suara decitan ban disusul oleh benturan keras yang berasal dari dua benda yang bertumbukkan membuat semua orang terkejut dan sontak mengarahkan pandangan ke arah suara-suara itu berasal. Apa yang kemudian mereka lihat di tengah jalan raya yang siang itu tidak terlalu ramai semakin membuat mereka terperangah dan akhirnya mengeluarkan jeritan serta teriakan panik dari mulut mereka. Dua buah mobil yang keadaannya sangat mengenaskan teronggok di situ; Bagian depan salah satu dari kedua mobil itu hancur dan melesak ke dalam seakan ditekan paksa oleh sebuah alat berkekuatan luar biasa. Orang-orang berhamburan; ada yang berlari dari tempat kejadian seraya menutup mata mereka karena ngeri, sebagian langsung bergegas menelepon ambulans dan menghampiri kedua mobil tadi untuk melihat keadaan pengemudinya.

Sementara itu di dalam mobil yang bagian depannya hancur tadi, seorang pemuda berusia 19 tahun berusaha untuk tetap sadar walau napasnya tersengal-sengal dan rasa sakit yang luar biasa melanda kedua kakinya yang terjepit kursi penumpang di depannya. Pandangan matanya mulai mengabur, namun demikian ia masih bisa melihat tubuh ayahnya yang tergolek lemas di belakang kemudi. Matanya terpejam dan wajahnya bersimbah darah yang sama dengan yang menodai kemeja putihnya. Pemuda bernama Hyukjae itu tahu keadaan ibunya tak lebih baik dari sang ayah karena ia bisa melihat tangan berhias gelang pemberiannya itu pun tergolek lemah di sebelah kursi yang menghimpit kedua kakinya. Hyukjae mengerahkan seluruh sisa tenaga yang dimilikinya dan mengangkat tangannya, seakan ingin menggapai tubuh tak bernyawa sang ayah. Mulutnya membuka namun suaranya tak kunjung terdengar. Tiba-tiba pintu mobil membuka dan tampaklah dua orang berpakaian putih di sebelahnya.

Hyukjae mengerjapkan kedua matanya yang mendadak silau oleh pendar cahaya mentari yang masuk ke dalam mobil. Salah satu dari kedua orang yang ternyata adalah petugas ambulans itu berteriak kepada rekannya untuk mengambilkan sesuatu yang tidak dimengerti Hyukjae sementara yang seorang lagi berusaha menenangkan Hyukjae namun pemuda itu sudah tak mampu lagi mendengar apa yang dikatakannya. Dadanya semakin sesak dan ia tak dapat merasakan kedua kakinya lagi. Hanya bisikan pelan yang terucap dari bibirnya ketika tubuhnya dikeluarkan dari mobil itu setengah jam kemudian.
“Umma… A…ppa…”



“…hyuk? Eunhyuk!”
Lee Hyukjae membuka matanya dengan tiba-tiba dan menegakkan tubuhnya. Peluh membasahi kening dan punggungnya, napasnya tak beraturan. Setelah hampir setengah tahun mimpi itu tak mengganggu tidurnya kini bunga tidur itu datang lagi dan mengingatkan Hyukjae akan kecelakaan hari itu. Raut wajah milik seorang wanita paruh baya di sampingnya terlihat khawatir. Wanita berkerudung hitam itu memegang bahu Hyukjae dan meremasnya lembut.
“Mimpi itu lagi?” tanyanya, seakan sudah mengerti apa yang mengganggu tidur anak muda itu. Hyukjae mengangguk perlahan lalu menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
“Aku tidak mengerti,” ujarnya,” mengapa mimpi itu harus menghantuiku kembali setelah aku hampir melupakan kejadian itu?”

Wanita yang biasa dipanggil suster Gabriella itu tersenyum sabar dan mengelus rambut hitam Hyukjae.
“Mungkin itu adalah salah satu cara Tuhan mengingatkanmu agar kau tidak melupakan kedua orangtuamu. Kau sudah berziarah ke makam mereka hari ini?” tanyanya lagi. Hyukjae sontak menurunkan tangannya; matanya membelalak.
“Aish!! Bagaimana bisa aku melupakan hari sepenting ini? Melupakan orangtua sendiri tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka. Anak macam apa aku?” pemuda yang juga dikenal dengan nama Eunhyuk itu merutuki dirinya sendiri. Ia lalu melihat keadaan sekeliling dan menyadari dirinya masih berada di ruang serbaguna. Rupanya ia tertidur ketika sedang mengawasi anak-anak panti bermain. Dahinya sedikit berkerut melihat kekosongan di ruangan itu namun ketika ia melihat jam yang tergantung di dinding kerutan itu menghilang dan wajahnya menjadi agak malu.

“Maaf, sepertinya aku ketiduran…” gumam Hyukjae sambil mengusap-usap tengkuknya. Suster Gabriella tertawa seraya mencubit pelan pipi anak muda itu.
“Kau beruntung kali ini aku tidak memarahamimu, tapi lain kali aku harap kau lebih berhati-hati. Walau sebagian besar penghuni panti ini bukan anak kecil yang harus selalu diawasi namun bukan berarti kita bisa berleha-leha bukan? Untung saja Donghae datang kemari.”
Hyukjae menatap suster Gabriella dengan terkejut.
“D, Donghae? Maksud suster, Lee Donghae yang baru datang minggu lalu itu?” tanyanya.
“Memangnya ada berapa Lee Donghae di panti ini? Tentu saja dia orangnya. Kau tahu, dia bahkan melarangku membangunkanmu dan dengan senang hati menggantikan tugasmu. Betul-betul anak muda yang baik. Aku sedikit heran mengapa dia bersedia menghabiskan waktu liburnya menjadi relawan di panti yang terpencil ini sementara anak seusianya mungkin sedang sibuk bersenang-senang di kota.” ujar suster Gabriella seraya memiringkan kepalanya sedikit, menyuarakan suara hati Hyukjae yang terus terngiang sejak kedatangan Donghae.

Suster berusia 52 tahun itu menggelengkan kepala dan mengembalikan perhatiannya kembali pada Hyukjae.
“Sudahlah kita tidak usah membicarakan orang lain. Lebih baik kau segera pergi ke makam orangtuamu sebelum matahari terbenam.” ucapnya seraya tersenyum pada pemuda itu. Hyukjae membalas senyumnya dan menganggukkan kepala.
“Baiklah, aku pergi dulu. Akan kusampaikan salammu pada mereka, suster.”
Hyukjae kemudian menjalankan kursi roda dengan bantuan tangannya dan bergerak maju untuk mencium pipi wanita di sampingnya sebelum bergerak meninggalkan ruangan.

***

Donghae membuka jendela kamarnya yang langsung menghadap ke arah perbukitan yang semakin semarak dengan warna warni bunga yang bermekaran di sana. Matanya menyusuri hamparan karpet alami di hadapannya dan bibirnya menekuk membentuk seulas senyuman penuh kedamaian. Sungguh sebuah keputusan tepat datang ke tempat ini, tempat yang tenang dan amat memberikan kedamaian walau ada sedikit rasa rindu terselip diantara perasaan tersebut terhadap kota kelahirannya. Senyum Donghae menghilang ketika ia mengingat tujuan kedatangannya ke panti itu. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan kesenangan, apalagi keisengan semata… tapi untuk tujuan lain yang mungkin akan membuat dirinya semakin dibenci oleh orang itu. Donghae ingin menebus dosa; menghilangkan perasaan bersalah yang terus menghantuinya selama ini. Entah sudah berapa kali ia menyewa detektif untuk mencari tahu jati diri dan dimana orang itu tinggal selama ini dan akhirnya ia berhasil. Lee hyukjae, orang yang dia cari itu diketahui tinggal di panti asuhan Santa Anastasia setelah kematian kedua orangtuanya karena kecelakaan di hari wisuda sekolah menengahnya. Sejak kejadian mengenaskan itu Hyukjae yang mengalami kelumpuhan pada kakinya terpaksa melupakan mimpinya untuk kuliah di fakultas seni dan cita-citanya menjadi koreografer pun hanya tinggal angan-angan yang tidak mungkin tercapai.

Donghae mencengkram tepi jendela dengan kuat. Semua informasi yang dia terima dari mulut detektif terakhir yang disewanya itu membuat rasa bersalah semakin memangsa dirinya dan malam itu dia tidak tidur sama sekali. Semalaman ia memikirkan apa yang harus dilakukan untuk menghilangkan rasa yang sudah sekian lama menderanya dan merasuki relung hatinya. Ia tidak ingin lari lagi dan ia sudah bosan bersembunyi dalam bayang ketakutan yang tercipta karena seorang ayah yang terlalu melindungi putranya yang telah membuat seseorang menjadi yatim piatu. Donghae mendengus pelan; Ia tahu bukan dirinya yang dilindungi sang ayah tapi reputasi keluarganya. Apa jadinya jika publik sampai tahu anak seorang pengusaha nomor satu Korea menjadi penyebab tewasnya sepasang suami istri dan membuat putra tunggal mereka terpaksa tinggal di panti asuhan?

Lamunan Donghae terputus ketika ia melihat Hyukjae sedang berusaha mendaki bukit dengan kursi rodanya di kejauhan. Bukit di situ memang tidak tinggi namun bagi Hyukjae yang kedua kakinya tidak lagi dapat digunakan sebagaimana orang normal menggunakannya, sangat sulit bagi tubuh kurusnya untuk mendorong kursi rodanya di jalan yang menanjak itu. Donghae spontan memanjat tepi jendela dan berlari keluar menghampiri Hyukjae. Rambut coklatnya yang sudah agak panjang dan diikat seperti ekor kuda bergerak dengan lincah sementara T-shirt biru safirnya berkibar terkena sentuhan angin.

Hyukjae sendiri tampaknya terlalu berkonsentrasi dan tidak menyadari kehadiran Donghae hingga akhirnya pemuda berambut coklat itu berdehem, yang sayangnya malah membuat Hyukjae terkejut dan melepas pegangannya pada kursi rodanya. Diiringi jerit ketakutan Hyukjae, kursi roda itu meluncur turun beberapa meter sebelum akhirnya Donghae meraih bagian depan benda itu dan menahannya agak tidak terus meluncur. Hyukjae memejamkan mata dan menghembuskan napas dengan sikap lega. Ketika akhirnya ia membuka mata untuk mengucap terima kasih, ia tertegun. Wajah Donghae hanya berjarak sekitar 5 senti dari wajahnya sendiri dan mata coklat pemuda itu sedang memandangi wajahnya. Jantung Donghae berdetak dua kali lebih cepat tanpa ia ketahui sebabnya, namun setelah menelan ludah beberapa kali dengan susah payah diputuskannya untuk menyudahi suasana itu.

“Errr, maaf aku tidak bermaksud mengagetkanmu. Aku… melihatmu dari kejauhan dan sepertinya kau sedang kesulitan mendaki bukit ini jadi kuputuskan untuk membantu. Yah, mudah-mudahan kau tidak keberatan.” jelas Donghae dengan sedikit terbata. Hyukjae dengan gugup menyisir rambutnya dengan tangan walau jelas rambutnya tidak kusut sama sekali.
“Ah, tidak apa-apa. Ini semua salahku, nekat mendaki bukit ini sendirian padahal aku… yah, kau tahu kan?” Hyukjae membuat gerakan menunjukkan keadaannya dirinya saat itu sambil mengeluarkan tawa miris yang membuat Donghae menghindari tatapan pemuda itu padanya. Hyukjae lalu bertanya ragu-ragu padanya,
“Kau… yang bernama Lee Donghae kan?” Donghae tersenyum dan menganggukkan kepala.
“Benar, dan kau pasti Lee Hyukjae. Senang bertemu denganmu,” Donghae membungkukkan tubuhnya sedikit dan dibalas oleh Hyukjae,” sebetulnya sudah lama aku ingin berbincang-bincang denganmu tapi sepertinya kau selalu sibuk mengurus adik-adik yang tinggal di sini.”

Kali ini giliran Hyukjae yang salah tingkah. Bukan karena dirinya terlalu sibuk mengurus anak-anak panti hingga ia dan Donghae belum juga berbicara satu sama lain, tapi karena Hyukjae merasa Donghae sedikit aneh terhadapnya. Sejak kedatangannya hari itu, Hyukjae selalu merasa Donghae mengawasinya. Ada sesuatu yang sepertinya hendak disampaikan pemuda Seoul itu padanya dan Hyukjae merasa tidak nyaman dengan semua itu.
“Yah,” gumamnya,” kita toh sudah bertemu di sini jadi mungkin kita bisa berbincang-bincang sekarang.”
Usul paling konyol yang pernah dilontarkan Hyukjae. Donghae menaikkan sebelah alisnya dan menahan senyum ketika dilihatnya raut wajah Hyukjae seperti anak kecil yang baru saja ketahuan berbohong.

“Oh ya, kau mau pergi ke mana sore-sore begini?” tanya Donghae, berusaha menghilangkan kecanggungan Hyukjae.
“Aku mau ke makam orangtuaku yang letaknya ada di puncak bukit.” jawabnya,” hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan mereka yang ke 23 jika saja mereka tidak…” suara Hyukjae menghilang.
Tubuh Donghae membeku dan perutnya seakan diikat oleh tambang besar hingga membuatnya sulit bernapas. Wajah sedih yang ditampilkan Hyukjae di depannya membuat dirinya ingin berlutut dan mengakui semua perbuatannya pada pemuda itu saat ini juga, namun Donghae takut. Ia belum siap menghadapi apa yang akan terjadi seandainya ia mengaku.

“Begitu rupanya. Kau keberatan jika aku mengantarmu ke sana?” Hyukjae mengernyitkan dahinya sedikit mendengar getaran tipis yang ada dalam suara Donghae, selain itu ia juga tidak menyangka Donghae akan menwarkan diri untuk mengantar dirinya.
“Kalau kau bersedia mendorongkan kursi roda ini untukku, sepertinya tidak ada alasan bagiku untuk menolak tawaranmu.” balas Hyukjae. Donghae tersenyum dan memutar tubuhnya, meraih pegangan yang ada di bagian belakang kursi roda mendorong benda itu menaiki bukit.

“Hyukjae, maaf aku terpaksa menanyakan pertanyaan ini. Orangtuamu… Bagaimana mereka meninggal?” tanya Donghae, berusaha memecah kesunyian walau ia sudah tahu jawabannya.
“Kecelakaan. Siang itu kami sekeluarga baru saja pulang dari acara wisudaku dan hendak menuju restoran favorit kami untuk merayakan kelulusanku, tapi rupanya takdir berkehendak lain. Mobil kami bertabrakan dengan mobil lain yang datang dari arah berlawanan. Tak ada yang tahu persis kejadiannya tapi dari yang kudengar, sepertinya pengemudi mobil itu sedang mabuk ketika ia menabrak mobil kami… Ada pula yang bilang pengemudi itu terlambat menginjak rem, dan sebagainya. Aku tidak tahu mana yang benar.”

Pegangan Donghae menguat. Bukan, bukan itu sebabnya, ia membatin dalam hati. Saat itu ia sedang mengadu nyali dengan teman-temannya yang sama sombongnya dengan dirinya. Mengadu kecepatan di tengah hari sebagai ajang pembuktian diri tanpa sadar dirinya akan membuat seorang pemuda seusianya kehilangan keluarganya dan juga masa depannya. Hyukjae menepuk-nepuk pahanya dengan ringan seakan kedua kakinya masih bisa berfungsi dengan baik.
“Kaki ini juga menjadi korban namun Tuhan masih berbaik hati terhadapku. Ya, hanya kaki ini yang diambilNya, bukan nyawaku. Terkadang aku mengira apakah Tuhan tahu bahwa dengan mengambil kakiku, Dia juga mengambil semua impianku?” ujar Hyukjae lirih. Jangan salahkan Tuhan, ini semua salahku! Aku yang telah mengambil semuanya darimu, bukan Dia, teriak Donghae dalam hati. Perasaannya semakin kalut mendengar setiap kalimat yang keluar dari mulut Hyukjae. Dirinya seakan tengah diadili dan dihadapkan pada kesalahannya secara tidak langsung.

“Kau sendiri? Bagaimana ceritanya hingga anak muda Seoul sepertimu bisa menghabiskan liburanmu di tempat terpencil seperti ini? Nilai semesteranmu kurang baik hingga kau dihukum ayahmu, begitu?” canda Hyukjae tanpa tahu perasaan pemuda yang sedang mendorong kursi rodanya. Donghae menarik napas dan berusaha menguasai diri sebelum menjawab pertanyaan itu.
“Aku hanya ingin menghabiskan liburan dalam suasana yang berbeda… itu saja. Selain itu, aku juga ingin menenangkan diri. Ada satu masalah yang hingga kini masih belum terselesaikan dan membuatku cukup tertekan.” Hyukjae menoleh dan mendongak menatap Donghae.
“Jika kau punya masalah, lebih baik kauceritakan pada orang lain. Siapa tahu beban pikiranmu akan sedikit berkurang. Atau jika kau ada waktu, kau bisa berdoa di gereja. Setiap kali aku merasa kesepian aku selalu pergi ke sana.” usulnya dengan senyum terukir di wajahnya yang kekanakkan. Saat itu juga ia menyadari wajah Donghae yang pucat.
“Donghae, kau tidak apa-apa? Wajahmu pucat sekali.”
Donghae cepat-cepat menggelengkan kepala dan tersenyum lemah.
“Aku tidak apa-apa. Ah, kita harus kemana sekarang?” tanyanya, berusaha mengalihkan pembicaraan. Hyukjae menunjuk jalan di depannya.
“Lurus saja.” balasnya.

Setelah menyusuri jalan itu, akhirnya sampailah mereka di sebuah padang rumput yang cukup luas, yang letaknya cukup tinggi. Di tengah ladang itu Donghae bisa melihat ada dua gundukan tanah yang dihiasi oleh dua buah ukiran batu berbentuk salib dan dalam seketika pemuda itu tahu, itulah makam orang tua Hyukjae.
“Mengapa orangtuamu dimakamkan di sini?” tanya Donghae.
“Semasa hidup mereka selalu menyempatkan diri ke panti asuhan yang kau dan aku tinggali sekarang. Kupikir mereka sangat menyukai tempat ini jadi kuminta pihak keluargaku yang lain untuk memakamkan mereka di bukit yang indah ini.” Hyukjae menjawab seraya mengelus permukaan pusara itu,” setelah pemakaman mereka aku berpikir untuk apa aku kembali ke Seoul? Dengan keadaanku yang seperti ini, apa yang bisa kulakukan di sana? Lalu tanpa sengaja aku melihat anak-anak panti sedang bermain di pekarangan gereja dan aku merasa terpanggil untuk membantu mereka walau dengan keterbatasanku. Akhirnya kuhibahkan semua warisan yang kudapat dari ayahku untuk panti asuhan Santa Anastasia dan sebagai tanda terima kasih, suster Gabriella membiarkanku tinggal di sana.”

Hyukjae tersenyum hangat pada Donghae sebelum membalikkan tubuhnya untuk berbicara dengan kedua orangtuanya, membiarkan Donghae menatap punggungnya yang terlihat rapuh. Pemuda berambut coklat itu bersumpah dalam hatinya bahwa ia akan merelakan apa saja untuk membuat waktu berputar kembali, agar ia dapat mengembalikan semua yang telah dirampasnya dari Hyukjae. Ia rela menukar seluruh kebahagiannya agar Hyukjae bisa mendapatkan kembali masa depannya. Akan tetapi ia bukan Tuhan yang bisa melakukan apapun keinginan-Nya. Satu-satunya yang bisa Donghae lakukan adalah menebus dosa, mengakui semua kesalahannya pada Hyukjae; tapi kapan? Kapan ia punya keberanian untuk mengatakan yang sebenarnya? Pikiran itu terus berkecamuk dalam otaknya bahkan ketika ia dan Hyukjae menuruni bukit itu untuk pulang ke panti. Di sisi lain, Hyukjae merasa senang karena ternyata Donghae tidak seburuk yang dipikirkannya dan dirinya bahagia akhirnya bisa menemukan teman sebaya walau mungkin hanya untuk beberapa minggu. Diam-diam Hyukjae menghela napas kecewa.

“Donghae, terima kasih kau mau membantu mendorongkan kursi rodaku. Aku berhutang budi padamu.” ucap Hyukjae sesampainya mereka di depan teras panti, tentu sambil bercanda, namun dahinya berkerut ketika dilihatnya Donghae tak merespon candanya.
“Yah, kau kenapa? Jangan-jangan kau betul-betul sakit ya?” tanya Hyukjae dengan khawatir. Perlahan, Donghae menatap Hyukjae yang wajahnya berwarna jingga, efek dari langit sore yang mulai kehilangan cahaya sang mentari. Haruskah ia mengatakannya sekarang?
“Donghae?” panggil Hyukjae yang merasa dadanya berdebar-debar melihat tatapan Donghae padanya.
“Hyukjae, aku menyesal…” ujar pemuda berbaju biru itu pelan,” aku sungguh menyesal…”
“Apa?”

Donghae menguatkan dirinya sebelum kembali berujar,
“Hyukjae, tujuanku kemari bukan untuk menenangkan diri atau menghabiskan waktu liburanku. Aku datang karena ingin menemuimu. Aku ingin bertemu dengan Lee Hyukjae yang dulu memiliki keluarga bahagia, yang dulu bercita-cita menjadi seorang koreografer terkenal seantero Seoul. Lee Hyukjae yang di wisuda tanggal 24 Juli 2008 dan mengalami kecelakaan di hari yang sama. Lee Hyukjae yang terpaksa kehilangan semuanya itu karena kesalahan seorang pemuda sombong yang hanya memikirkan egonya sendiri.”
Hyukjae ternganga dan suaranya berubah menjadi bisikan ketika ia bertanya,
“Bagaimana kau bisa tahu semua itu?”
“Lee Hyukjae, akulah yang merenggut nyawa kedua orangtuamu.”

=====

TO BE CONTINUED

2 thoughts on “[FF/ three shots/ PG 13/ Shounen-ai/ Drama] The Unforgivable Feeling – part 1 {EunHae couple}

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s